SUKOHARJO – METROPAGINEWS.COM || Umbul Dungo Njeng Sunan gelar Pangetan Wiosan di Pesanggrahan Langen Harjo Sukoharjo! Ada tari Srimpi dari master, tarian rohani dan Manembromo dari dosen ISI, acara peringati raja Pakubuwono IX-X.Minggu (21/6/2026)
Suasana hening dan khidmat menyelimuti Pendopo Pesanggrahan Langen Harjo, Dusun II, Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, pada Kamis (18/06/2026). Di tepi Sungai Bengawan Solo yang menyegarkan, kelompok Njeng Sunan menggelar rangkaian sholawat, dzikir, tembang Mocopat, serta pertunjukan seni tari klasik dan rohani guna memperingati Pangetan Wiosan hari bersejarah sekaligus ulang tahun ke-IX dan ke-X para raja Kasunanan Surakarta: Pakubuwono IX dan Pakubuwono X.

PERTUNJUKAN SENI TARI DARI MASTER DAN DOSEN ISI
Acara menjadi semakin memukau dengan dihadirkannya berbagai pertunjukan tari berkualitas tinggi dari para ahli dan akademisi seni. Tari Srimpi yang merupakan tarian klasik Jawa digelar langsung oleh seorang master tari yang telah menguasai seni ini selama puluhan tahun. Selain itu, para dosen dari Institut Seni Indonesia (ISI) juga menghadirkan Tarian Rohani yang sarat akan makna spiritual, serta Tari Manembromo dan Umbul Donga yang menjadi bagian dari ragam kesenian khas Njeng Sunan.
Setiap gerakan tari yang dipertunjukkan tidak hanya sekadar tontonan, melainkan juga menyampaikan pesan mendalam tentang nilai-nilai kebajikan, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, serta penghormatan kepada leluhur yang telah merintis peradaban Jawa.

PEMBERIAN PIAGAM UNTUK 10 PADEPOKAN SENI REOG DARI NJENG SUNAN
Dengan kontribusi pelaku seni tari dan reog yang telah mensupport kelancaran setiap Event Njeng Sunan,di malam cara tersebut juga 10 padepokan seni Reog di berikan penghargaan yang di berikan langsung oleh Kyai Hartoto Kusnin selaku pendiri Njeng Sunan.
Dan inilah bukti nyata bahwa kebudayaan sangat erat hubungannya dalam menjalani persatuan dan kesatuan.

PESANGGRAHAN LANGEN HARJO: SAKSI SEJARAH SEJAK 1870
Pesanggrahan ini bukan sekadar bangunan tua yang hanya menjadi dekorasi sejarah. Berdiri sejak tahun 1870, tempat ini awalnya menjadi kediaman Pakubuwono IX sebelum beliau naik takhta. Ketika dinobatkan menjadi raja, tempat yang dulunya digunakan sebagai tempat beristirahat dan merenung itu kemudian dimuliakan dan ditetapkan secara resmi sebagai pesanggrahan.
Makna nama Langen Harjo pun sarat akan harapan mendalam: Langen berarti cita-cita, sedangkan Harjo bermakna makmur sebuah doa agar wilayah dan masyarakat sekitar senantiasa meraih kesejahteraan dan kebahagiaan.
Sejak tahun 2017, Langen Harjo sudah tercatat resmi sebagai Cagar Budaya dengan fungsi utama sebagai tempat meditasi dan kegiatan spiritual. Namun, pelestariannya masih menghadapi tantangan nyata. Menurut Gusti Nenok, salah satu keturunan yang aktif menjaga kelangsungan tempat ini, tanggung jawab pemeliharaan seharusnya menjadi beban bersama pemerintah. Namun keterbatasan anggaran daerah membuat upaya itu belum maksimal, sehingga disarankan untuk melobi langsung ke tingkat kementerian guna mendapatkan dukungan yang berkelanjutan.
“Selama ini, biaya perawatan sepenuhnya mengandalkan sumbangan warga yang peduli sejarah dan budaya, serta para peziarah yang meyakini doa mereka di sini sering dikabulkan,” ujar Gusti Nenok.
DIRENCANAJADI WISATA RELIGI BERKARAKTER KHAS
Ke depan, pesanggrahan direncanakan dikembangkan menjadi wisata religi yang memiliki karakter khas daerah. Keistimewaan alami dan sejarah yang dimilikinya menjadi modal utama yang tak ternilai harganya:
– Sumur Bandung dipercaya memiliki kesucian tersendiri dan menjadi sumber air yang selalu terjaga kebersihannya;
– Pemandian air belerang alami dikenal berkhasiat bagi kesehatan tubuh dan telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat lokal sejak lama;
– Pohon Sulastri diwariskan cerita sebagai sarana mempertemukan jodoh bagi mereka yang datang dengan niat baik dan ikhlas.
KEGIATAN PANGETAN WIOSAN DIJAGA KEHIDMATANNYA
Kegiatan Pangetan Wiosan tahun ini disusun dengan suasana sederhana namun tetap dijaga kekhidmatannya melalui aturan keheningan yang menjadi ciri khas tata cara kelompok Njeng Sunan. Lantunan dzikir yang merdu, alunan sholawat yang penuh rasa, tembang Mocopat yang sarat makna, serta pertunjukan tari dari para ahli mengalir tenang namun menyentuh hati setiap peserta, menguatkan ikatan emosional dengan warisan leluhur yang telah ada selama berabad-abad.
Gusti Nenok menegaskan harapan utamanya terhadap masa depan Pesanggrahan Langen Harjo: “Kami berharap tempat ini tetap dikenal, dijaga, dan dimanfaatkan sepenuhnya sebagai cagar budaya bernuansa spiritual, bukan sekadar tempat wisata biasa yang hanya mengejar kepuasan mata semata. Kehadiran para master tari dan dosen ISI dalam acara ini juga menjadi bukti bahwa warisan budaya kita mendapatkan apresiasi dari kalangan akademisi dan seniman.”
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti perkembangan kegiatan atau melihat suasana tempat ini lebih dekat, saluran YouTube resmi Langen Harjo bisa menjadi sumber informasi rutin yang selalu diperbarui.
WARISAN BUDAYA YANG TETAP TERJAGA
Kini, di tengah derasnya arus zaman yang seringkali melupakan nilai-nilai luhur, Pesanggrahan Langen Harjo berdiri kokoh sebagai saksi sejarah sekaligus bukti nyata bagaimana semangat komunitas seperti Njeng Sunan mampu menjaga warisan budaya agar tak pudar ditelan waktu. Melalui kegiatan seperti Pangetan Wiosan yang diisi dengan pertunjukan seni tari berkualitas tinggi, harapan akan kelangsungan tradisi dan nilai-nilai kebajikan bisa terus hidup dan diteruskan kepada generasi mendatang.
( Desi )


Komentar Klik di Sini