BerandaDaerahSETIA Menyapa Remaja Desa Jetis: Inovasi Pelayanan Kebidanan untuk Cegah Stunting dan...

SETIA Menyapa Remaja Desa Jetis: Inovasi Pelayanan Kebidanan untuk Cegah Stunting dan Anemia

KARANGANYAR – METROPAGINEWS.COM ||
Masalah anemia dan stunting tetap menjadi tantangan serius bagi upaya peningkatan kualitas kesehatan generasi mendatang. Meskipun prevalensi stunting nasional menunjukkan tren penurunan, angka 21,6% pada 2022 dan 20,4% di Jawa Tengah menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai sejak hulu, termasuk pada kelompok remaja putri yang kelak menjadi calon ibu. Menjawab kebutuhan ini, tim Dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk SETIA (Sehat Cegah Stunting dan Anemia) di Desa Jetis, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar baru-baru ini (19/08/2026)

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Rosalinna, S.Si.T., Bdn., M.Keb. bersama KH Endah Widhi Astuti, M.Mid. dan didampingi mahasiswa Poltekkes berlangsung pada 16 Agustus 2026 sejak pukul 09.30 hingga 11.00 WIB. Diikuti sekitar 50 peserta yang hadir, terdiri dari remaja putri, kader posyandu, dan mahasiswa. Kegiatan diawali dengan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) bagi remaja putri sebagai langkah awal untuk mengenali risiko anemia sejak dini. Hasil pra-survei sebelumnya menunjukkan 37 dari 100 remaja putri di Desa Jetis mengalami masalah anemia, sementara desa tersebut juga mencatat 45 kasus stunting, data ini yang menjadi dasar kuat pelaksanaan intervensi tersebut.

Pengabdian Masyarakat di desa Jetis Karanganyar (dok foto @Pitut Saputra)
Pengabdian Masyarakat di desa Jetis, Jaten Karanganyar (dok foto @Pitut Saputra)

Dalam sambutannya, Rosalinna menegaskan pentingnya intervensi dini: “Pencegahan stunting dan anemia harus dimulai sejak masa remaja. Remaja putri adalah investasi kesehatan masa depan, dengan meningkatkan pengetahuan, memperbaiki pola makan, dan memastikan kepatuhan suplementasi, kita dapat memutus rantai masalah gizi yang berdampak lintas generasi.” Pernyataan tersebut menjadi landasan filosofis program SETIA, yang menempatkan remaja sebagai aktor utama dalam upaya pencegahan.

Materi inti disampaikan oleh Asmila Sakinah, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surakarta, yang memaparkan konsep program SETIA melalui enam pendekatan terpadu, peningkatan status mikronutrien, perbaikan asupan makanan, intervensi kesehatan, jaring pengaman sosial, pendidikan, dan perlindungan anak. Keenam pendekatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang upaya pencegahan anemia dan stunting, mulai dari aspek gizi mikro hingga dukungan sosial dan pendidikan kesehatan reproduksi.

Selama sesi edukasi, peserta menerima booklet SETIA yang memuat informasi praktis mengenai anemia, stunting, pola makan sehat, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan remaja secara mandiri. Booklet ini menjadi alat bantu penting agar pesan kesehatan tetap dapat diakses setelah kegiatan selesai. Para remaja tampak antusias; mereka tidak hanya menyimak paparan tetapi juga aktif membaca materi dan mencatat poin-poin penting.

Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang menunjukkan kebutuhan nyata akan edukasi kesehatan remaja. Berbagai pertanyaan muncul terkait penyebab anemia, tanda-tanda stunting, pilihan makanan bergizi, dan cara meningkatkan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah. Jawaban diberikan secara komprehensif oleh Asmila dengan tambahan penjelasan dari KH Endah Widhi Astuti, sehingga peserta memperoleh penjelasan yang sesuai kondisi lokal dan kebutuhan mereka.

Kader posyandu yang hadir memberi tanggapan positif terhadap kegiatan ini. Mereka menilai materi relevan dan tepat sasaran mengingat masih rendahnya kesadaran remaja tentang anemia dan stunting di lingkungan Jaten. Kader juga menyatakan kesiapan untuk menjadi penghubung antara program kesehatan dan remaja di desa, termasuk memantau kepatuhan suplementasi dan mendorong pola makan sehat di keluarga.

Selain aspek edukasi, pemeriksaan Hb yang dilakukan di lokasi turut memberi manfaat langsung, remaja dapat mengetahui status hemoglobinnya dan mendapatkan rujukan bila diperlukan. Langkah ini memperkuat pendekatan preventif sekaligus membuka akses awal ke layanan kesehatan bagi mereka yang membutuhkan tindak lanjut. Hasil pemeriksaan juga menjadi bahan evaluasi awal untuk merancang intervensi lanjutan yang lebih terfokus.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada peserta perwakilan Desa Jetis sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan kerja sama. Suasana penutupan penuh antusiasme menandai keberhasilan acara yang berjalan lancar dan bermakna bagi peserta. Berdasarkan wawancara singkat dengan beberapa peserta dan kader, kegiatan SETIA dinilai memberikan manfaat nyata, remaja merasa lebih paham tentang risiko anemia dan stunting serta termotivasi untuk mengubah pola makan dan kebiasaan kesehatan.

Program SETIA di Desa Jetis bukan sekadar penyuluhan sekali jalan. Inisiatif ini dimaksudkan sebagai langkah awal membangun kesadaran berkelanjutan di kalangan remaja putri tentang pentingnya menjaga gizi, kesehatan reproduksi, dan pencegahan stunting sejak dini. Dengan pendekatan enam tahapan yang holistik, SETIA menawarkan model intervensi yang menggabungkan edukasi, pemeriksaan kesehatan, dukungan sosial, dan perlindungan anak, semua elemen yang diperlukan untuk menurunkan risiko anemia dan stunting di masa depan.

Ke depan, keberlanjutan program melalui kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan lokal, kader posyandu, dan komunitas menjadi kunci. Monitoring berkala, penguatan kepatuhan suplementasi, serta pengembangan kegiatan edukasi yang lebih intensif di sekolah dan posyandu diharapkan dapat memperluas dampak SETIA. Jika upaya ini konsisten dan terintegrasi, Desa Jetis berpotensi menjadi contoh lokal bagaimana intervensi berbasis remaja dapat berkontribusi pada terciptanya generasi yang lebih sehat dan bebas dari beban stunting serta anemia.

( Pitut Saputra )