BerandaReligiUmbul Dunga Ruwat Nagari Njeng Sunan: Maknai 1 Suro Lewat Simbol dan...

Umbul Dunga Ruwat Nagari Njeng Sunan: Maknai 1 Suro Lewat Simbol dan Seni Budaya Nusantara

KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Memperingati Tahun Baru Islam 1446 Hijriyah yang bertepatan dengan malam 1 Suro dalam kalender Jawa, komunitas Njeng Sunan menggelar acara bertajuk “Umbul Dunga Ruwat Nagari” pada Kamis malam, 26 Juni 2025, di Lapangan Bola Baturan, Jalan Fajar Indah, Surakarta.

 

Acara yang berlangsung sejak siang hingga malam hari ini menghadirkan ragam kesenian dan budaya nusantara sebagai bentuk ekspresi spiritual dan nasionalisme melalui jalan budaya.

 

IMG 20250627 WA0190

Kirab budaya, kirab ketupat, kirab merah putih, serta pertunjukan Reog Singo Duto membuka rangkaian acara menjelang sore. Dilanjutkan dengan prosesi Umbul Dunga, acara ini diisi berbagai performa sakral seperti Tari Manembromo, Tari Sufi, pertunjukan Sandur, dan Wayang Performart yang menyemarakkan suasana spiritual dalam balutan kearifan lokal.

IMG 20250627 WA0187 2

Makna 1 Suro dan Ruwat Nagari

Njeng Sunan merupakan sebuah majelis dzikir, sholawat, serta mocopat yang didirikan oleh Kanjeng Sunan Hartoto Kusnin. Dalam perspektif komunitas ini, malam 1 Suro tidak sekadar pergantian tahun, melainkan momen untuk merenung, membersihkan batin, dan membenahi diri.

“1 Suro adalah tahun keprihatinan, momen pembenahan diri lahir batin. Jika kita telusuri sejarahnya, banyak makna terdalam yang bisa dimaknai dari sisi spiritual maupun kebudayaan,” ungkap Kanjeng Sunan.

Sementara itu, Kanjeng Wiryo, salah satu tokoh sentral Njeng Sunan, menambahkan bahwa Ruwat Nagari membawa misi spiritual yang mencakup nilai Ketuhanan, Kebudayaan, dan Nasionalisme.

“Acara ini bukan hanya milik satu agama. Semua agama kami libatkan karena Njeng Sunan memaknai persatuan dalam keragaman. Agama adalah jalan, budaya adalah jembatan,” ujarnya.

 

Simbolisme dalam Tarian Suci

Pertunjukan Tari Manembromo yang dibawakan oleh lima penari perempuan merepresentasikan lima unsur kebaikan, baik dalam pandangan Islam maupun nilai kemanusiaan universal.

Adapun Tari Sufi, yang dipentaskan oleh empat penari, melambangkan pusaran spiritual dari empat unsur alam: air, angin, api, dan tanah. Simbol ini merujuk pada filosofi Jawa: Ibu Bumi Bopo Angkoso (Ibu Bumi Bapak Langit).

“Simbol dalam budaya Jawa bukan sekadar estetika, tapi cara untuk memahami dan merenungi hidup,” tutur Kanjeng Wiryo.

 

Kebangkitan Budaya Nusantara

Dengan akar kuat pada kebudayaan Jawa dan semangat kebangsaan, Njeng Sunan konsisten menjadikan seni sebagai media dakwah dan perenungan. Lagu kebangsaan “Indonesia Pusaka” selalu menjadi penutup dalam setiap acara, sebagai pengingat bahwa Indonesia adalah warisan suci yang harus dijaga.

“Kami ingin membangkitkan kembali jati diri bangsa Indonesia melalui kebudayaan. Jangan sampai budaya kita terkikis zaman,” kata Kanjeng Sunan.

Ia pun menutup dengan pesan penuh makna,

“Apa pun agamamu, jangan pernah tinggalkan Jowomu.”

 

(Desi)

Komentar Klik di Sini