KLATEN-METROPAGINEWS.COM ||
Menjelang hari raya Idul Fitri, dua jenis kue kering nastar dan kastengel kembali menjadi primadona di meja tamu rumah-rumah warga. Kue klasik yang akarnya dapat ditelusuri ke pengaruh kuliner Belanda ini bukan sekadar camilan, bagi banyak keluarga, nastar dan kastengel adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi open house setelah shalat Ied. Dari dapur rumahan hingga etalase toko roti, aroma mentega, keju, dan selai nanas menandai dimulainya musim lebaran setiap tahun (09/03/2026).
Sejarah singkat kedua kue ini sering disebut-sebut ketika topik lebaran muncul. Nastar, kue kecil berisi selai nanas, populer karena perpaduan manis dan asam yang menyegarkan, sementara kastengel, kue kering berbentuk batang atau kotak kecil, dikenal dengan rasa gurihnya yang khas berkat penggunaan keju parut. Meski bentuk dan rasa berbeda, keduanya sama-sama mengandalkan bahan dasar sederhana, tepung terigu, mentega, gula, dan telur, yang diperkaya dengan selai atau keju untuk memberi karakter rasa yang kuat.

Bagi banyak ibu rumah tangga, persiapan nastar dan kastengel menjadi rutinitas tahunan. Ada yang memilih membeli jadi dari toko roti atau pasar kue, namun tak sedikit pula yang memilih membuat sendiri sebagai bagian dari kesibukan di bulan puasa menjelang berbuka. Bagi Dewi seorang ibu rumah tangga dari Jimus Polanharjo Klaten, menyatakan “Aktivitas membuat kue kering ini sering kali menjadi momen kebersamaan keluarga, generasi tua menurunkan resep turun-temurun, sementara generasi muda bereksperimen dengan varian rasa dan teknik pengemasan.” tuturnya.
Secara gizi, kedua kue ini memiliki profil yang berbeda. Nastar umumnya mengandung karbohidrat dari tepung dan gula, lemak dari mentega, serta sedikit vitamin dan serat dari selai nanas buatan sendiri. Kandungan gula yang relatif tinggi membuat nastar lebih cocok dinikmati dalam porsi kecil. Kastengel cenderung lebih tinggi kandungan lemak dan protein karena penggunaan keju dan mentega, keju juga menambah asupan kalsium, namun kandungan garamnya membuat konsumsi berlebih kurang dianjurkan. Perpaduan rasa manis nastar dan gurih kastengel inilah yang seringkali memikat lidah saat lebaran, ditambah bentuknya yang mungil membuat keduanya mudah disantap berulang kali.
Dewi menambahkan,”Daya tahan kedua kue ini menjadi salah satu alasan popularitasnya. Dengan teknik pengemasan yang tepat dan penyimpanan di tempat kering, nastar dan kastengel dapat bertahan beberapa minggu, menjadikannya pilihan praktis untuk disajikan selama masa kunjungan keluarga dan kerabat.” imbuhnya. Produsen rumahan maupun toko roti modern kini semakin memperhatikan aspek higienis dan kemasan kedap udara untuk menjaga tekstur dan rasa tetap prima.
Dari sisi ekonomi, permintaan yang meningkat signifikan setiap menjelang lebaran mendorong geliat usaha kecil menengah di sektor pangan. Penjualan di toko-toko roti, pasar kue, dan pedagang online menunjukkan lonjakan yang konsisten dari tahun ke tahun. Banyak pengusaha rumahan memanfaatkan momentum ini untuk memperluas pasar, menawarkan paket hampers, layanan pesan antar, hingga varian rasa baru seperti nastar keju, nastar coklat, kastengel pedas manis, atau kastengel dengan campuran keju impor. Inovasi rasa dan variasi harga membuat kue-kue klasik ini kian terjangkau dan diminati oleh berbagai kalangan.
Disamping itu Dewi juga mengatakan,”Perubahan selera konsumen turut mendorong kreativitas. Selain varian rasa, bentuk dan tampilan kue kini menjadi nilai jual penting. Kemasan yang menarik, label yang informatif, serta opsi kue bebas pengawet atau rendah gula menjadi daya tarik tersendiri.” ujarnya. Di sisi lain, tren kesehatan mendorong beberapa pembuat kue untuk menawarkan alternatif bahan, seperti penggunaan margarin rendah lemak, gula pengganti, atau selai nanas tanpa tambahan gula berlebih.
Di tingkat rumah tangga, pembuatan nastar dan kastengel sering kali menjadi ajang berbagi keterampilan. Resep turun-temurun diwariskan dari ibu ke anak, sementara tutorial pembuatan kue bertebaran di media sosial memudahkan pemula mencoba sendiri. Aktivitas ini tidak hanya menghasilkan kue untuk tamu, tetapi juga mempererat ikatan keluarga dan menjaga tradisi kuliner lokal tetap hidup.
Namun, menurut Dewi, “Tantangan juga kerap kali muncul. Ketersediaan bahan baku yang fluktuatif dan kenaikan harga mentega, tepung, atau keju dapat mempengaruhi biaya produksi dan harga jual. Selain itu, persaingan antar penjual membuat kualitas dan kebersihan menjadi faktor penentu kepercayaan konsumen.”tegasnya. Oleh karena itu, pelaku usaha dituntut menjaga konsistensi rasa, mutu bahan, dan standar kebersihan agar tetap kompetitif.
Menjelang lebaran, suasana pasar kue dan toko roti menjadi cermin budaya kuliner Indonesia, tradisi bertemu inovasi, rasa klasik bertemu kreasi modern. Kue kering nastar dan kastengel, meski sederhana, berhasil mempertahankan posisinya sebagai simbol perayaan yang hangat dan akrab. Bagi banyak keluarga, menyajikan kedua kue ini bukan sekadar memenuhi kebiasaan, melainkan juga menyuguhkan kenangan, keramahan, dan rasa kebersamaan yang selalu dirindukan setiap kali Idul Fitri tiba.
Di tengah dinamika pasar dan perubahan selera, satu hal tetap jelas, nastar dan kastengel baik produksi ibu dirumah maupun beli jadi di toko roti, akan terus menjadi bagian dari cerita lebaran, hadir di meja-meja, dibawa pulang sebagai oleh-oleh, dan dinikmati bersama keluarga sebagai penutup manis dari tradisi yang tak lekang oleh waktu.
( Pitut Saputra )

