BerandaCultureSegudang Rindu Dalam Semangkuk Sup

Segudang Rindu Dalam Semangkuk Sup

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Siang ini, halaman rumah sederhana milik Gatot Priyanto di Kuncen Delanggu dipenuhi tawa, bisik rindu, dan aroma sup hangat. Puluhan anggota keluarga besar Trah Raden Matang Tilarso yang datang dari berbagai daerah berkumpul setelah prosesi tabur bunga dan doa bersama di makam leluhur. Meski tradisi halal bi halal trah yang biasa digelar setelah Lebaran absen tahun ini karena kendala teknis, kehadiran sanak saudara dari Soloraya dan sekitarnya mengubah suasana sederhana menjadi pertemuan hangat penuh kenangan (23/03/2026).

Acara dimulai dengan ziarah singkat ke makam Kuncen Delanggu, tempat kakek-nenek dan orang tua keluarga dimakamkan. Doa bersama dan tabur bunga menjadi pembuka yang khidmat sebelum rombongan kembali ke rumah Gatot. Di teras dan ruang tamu, lesehan bersama menyajikan hidangan sederhana, sup ayam, nasi gudeg, sambal goreng, risoles, kue tradisional, teh manis, dan es teler. Hidangan yang disiapkan secara gotong royong antar keluarga Solo dan Delanggu itu menyimpan makna mendalam, sup menjadi simbol pengikat rindu yang tak lekang oleh jarak dan waktu.

IMG 20260323 174246

Pertemuan ini bukan sekadar makan bersama. Bagi banyak anggota trah, momen itu adalah kesempatan untuk saling memaafkan, berbagi kabar, dan mengulang cerita lama yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan. Foto-foto lama yang dibawa memicu gelak tawa saat mengenang masa kecil dan perjalanan keluarga yang penuh lika-liku.

Salah seorang kerabat, Anto Mbolo, mewakili perasaan banyak orang yang hadir. Dengan nada sederhana namun penuh makna, Anto menyatakan, “Kami rindu suasana seperti ini. Meski tidak seperti biasanya, berkumpul hari ini sudah cukup mengobati rindu.” Ucapan itu menggambarkan kebahagiaan sederhana karena masih diberi kesempatan berkumpul dalam keadaan sehat.

Anto juga menegaskan ketahanan tradisi keluarga meski bentuk perayaannya berubah, “Walau acara resmi halal bi halal Trah Raden Matang Tilarso tahun ini dibatalkan, namun inisiatif pertemuan kecil keluarga seperti hari ini menunjukkan bahwa tradisi keluarga tidak mudah pudar.” Bagi Anto, yang penting bukan kemegahan acara, melainkan kehadiran fisik dan kesempatan untuk saling memaafkan serta mempererat hubungan.

Menutup kegiatan, Gatot Priyanto turut menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna bagi kelangsungan tali persaudaraan. Ia meminta agar ketika bertemu di jalan, anggota keluarga saling menyapa. “Kelak kalau bertemu di jalan mohon saling sapa karena beda generasi kadang membuat kita lupa ini anak siapa. Namun dengan adanya kegiatan silaturahmi seperti ini justru bisa makin mempererat dan membuat kenal satu dan lain saudara,” ujar Gatot.

Pernyataan Gatot menekankan dua hal penting, sapaan sebagai pengakuan identitas keluarga dan peran pertemuan langsung dalam menjembatani jurang antar generasi. Menurutnya, sapaan sederhana di jalan bukan sekadar sopan santun, ia adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki akar yang sama. Dalam keluarga besar yang anggotanya tersebar dan berlatar berbeda, kebiasaan menyapa dapat mencegah lupa akan ikatan darah dan memudahkan komunikasi sehari-hari.

Di antara obrolan dan tawa, semangkuk sup menjadi simbol yang mengikat. Sup yang disajikan secara gotong royong mencerminkan bagaimana berbagai elemen keluarga, berbeda usia, latar, dan karakter, dapat berpadu menjadi satu rasa hangat. Menyantap sup bersama terasa seperti menerima kasih sayang, setiap suap mengobati rindu yang lama terpendam. Ketika generasi tua dan muda duduk bersama, berbagi cerita, dan menyanyikan lagu kenangan, sup menjadi saksi bisu bahwa kebersamaan mampu menyatukan perbedaan.

Suasana makan berlangsung hangat. Anak-anak berlarian di halaman, orang tua duduk berkelompok sambil menatap generasi muda dengan senyum, sebagian larut dalam tembang karaoke, sebagian lagi serius dalam obrolan tentang resep turun-temurun dan rencana pertemuan berikutnya. Semua itu menegaskan bahwa kebersamaan adalah warisan yang terus dipelihara.

Puncak acara diwarnai tradisi sungkeman dan saling memaafkan dari generasi tertua hingga yang paling muda. Sungkeman bukan sekadar formalitas, ia menjadi ungkapan tulus yang meleburkan kembali ikatan keluarga. Menjelang sore, tamu mulai berpamitan, membawa pulang sisa makanan dan kenangan hangat. Gatot dan keluarganya mengantar hingga pintu, menerima ucapan terima kasih dan harapan agar pertemuan serupa bisa terulang.

Pesan Gatot tentang sapaan di jalan dan pernyataan Anto tentang pentingnya pertemuan kecil menyisakan harapan nyata. Para kerabat berharap bahwa ketika kondisi memungkinkan, halal bi halal trah dapat digelar kembali dengan lebih banyak anggota keluarga yang hadir. Namun mereka juga menyadari bahwa tradisi tidak harus mewah untuk bermakna, pertemuan kecil yang tulus juga dapat memperkuat ikatan dan menyembuhkan rindu yang menumpuk.

Segudang rindu dalam semangkuk sup bukan sekadar ungkapan puitis. Di Delanggu hari ini, semangkuk sup di teras rumah Gatot menjadi saksi bahwa silaturahmi dan kenangan tetap hidup. Dengan sapaan sederhana di jalan dan pertemuan yang tulus, Silaturahmi Trah Raden Matang Tilarso menegaskan bahwa akar keluarga tetap kuat, meski generasi berganti dan jarak mungkin memisahkan.

Di bawah langit sore Delanggu, semangkuk sup di teras Gatot bukan hanya menghangatkan badan, ia merajut kembali benang-benang rindu yang sempat terurai, dari sapaan sederhana di jalan hingga pelukan perpisahan, setiap detik menegaskan bahwa akar keluarga lebih kuat daripada jarak dan waktu. Dengan janji untuk saling menyapa dan hati yang terbuka, tradisi kecil ini menyalakan kembali api persaudaraan, bukan kemegahan yang menentukan, melainkan ketulusan pertemuan yang membuat kita saling mengenal, memaafkan, dan melangkah bersama menuju hari esok yang lebih hangat.

( Pitut Saputra )