BerandaBerita TerkiniProsesi Sedekah Bumi di Umbul Kemanten Sidowayah

Prosesi Sedekah Bumi di Umbul Kemanten Sidowayah

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Sedekah bumi di Umbul Kemanten Sidowayah, Polanharjo, bukan sekadar ritual tahunan, ia adalah pernyataan kolektif tentang hubungan manusia dengan alam dan sesama. Di tengah kesederhanaan proses ritual yang berlangsung setiap Jumat Kliwon tersebut, ada pesan kuat yang terus diulang oleh tokoh masyarakat setempat. Hartoyo, Ketua Bumdes Sinergi Sidowayah. Mengatakan bahwa “Tradisi Sedekah Bumi ini dijalankan bukan hanya sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil bumi, melainkan juga sebagai wujud tanggung jawab bersama untuk menjaga keseimbangan alam dan memperkuat solidaritas sosial.” ujarnya. Penegasan Hartoyo menjadi poros narasi yang memberi makna lebih dalam pada setiap doa, bancaan, dan senyum yang terjalin di acara tersebut (12/06/2026).

Hartoyo menegaskan bahwa sedekah bumi adalah praktik sederhana namun sarat makna “Sedekah bumi adalah penghormatan kepada alam sekaligus ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa melalui hasil bumi. Ritual ini mengingatkan kita bahwa manusia bukan pemilik mutlak, melainkan bagian dari ekosistem yang harus dijaga.” tegasnya. Pernyataan ini bukan sebatas retorika kosong. Dalam setiap kata Hartoyo tersimpan ajakan untuk mengubah sikap, dari eksploitasi tanpa batas menjadi pengelolaan yang bijak dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa rasa syukur harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, menjaga tanah, merawat sumber air, dan menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan.

Hartoyo Ketua Bumdes Umbul Kemanten
Hartoyo Ketua Bumdes Umbul Kemanten ( dok foto @Pitut Saputra )

Pelaksanaan sedekah bumi di Umbul Kemanten menampilkan rangkaian sederhana namun penuh simbol. Setelah doa bersama yang dipanjatkan, pembagian bancaan yang terdiri dari hasil bumi lokal dan makanan sederhana turut mewarnai, bancaan sederhana tersebut dibagikan kepada warga dan pengunjung yang hadir. Momen memberi dan menerima ini memperkuat ikatan sosial, ia mengingatkan bahwa berkah harus dibagi, bukan ditimbun. Hartoyo menekankan aspek redistributif ini sebagai bagian dari tanggung jawab sosial desa, “Bancaan yang dibagikan bukan hanya simbol, tetapi juga bentuk nyata kepedulian kepada mereka yang membutuhkan di sekitar kita.” Dengan demikian, sedekah bumi berfungsi sebagai mekanisme solidaritas yang mengurangi kesenjangan lokal dan memperkuat jaringan saling bantu antar warga.

Selain dimensi sosial, pernyataan Hartoyo juga menyoroti dimensi pendidikan tradisi. Ia melihat sedekah bumi sebagai sarana transfer nilai kepada generasi muda. Keterlibatan anak-anak dan remaja dalam persiapan acara, dari menyiapkan bancaan hingga ikut berdoa, membuka ruang belajar tentang gotong royong, rasa hormat terhadap alam, dan pentingnya menjaga warisan budaya. Hartoyo percaya bahwa tradisi yang hidup adalah tradisi yang diwariskan melalui praktik, bukan sekadar cerita. Oleh karena itu, peran Bumdes Sinergi Sidowayah dalam mengorganisir acara menjadi penting untuk memastikan bahwa ritual tetap relevan dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Hartoyo juga mengaitkan sedekah bumi dengan kesadaran ekologis. Ia mengingatkan bahwa rasa syukur harus diikuti oleh tindakan menjaga kelestarian lingkungan. Dalam ucapannya, ia mendorong petani untuk mengurangi penggunaan bahan kimia berlebihan, menjaga kesuburan tanah, dan menerapkan teknik pertanian yang lebih berkelanjutan. Pesan ini relevan di era ketika tekanan terhadap sumber daya alam semakin besar. Dengan menempatkan sedekah bumi sebagai momen refleksi ekologis, komunitas Sidowayah menegaskan bahwa tradisi lokal dapat menjadi alat perubahan perilaku yang efektif.

Prosesi Sedekah Bumi (Dok foto @Pitut Saputra)
Kolase Prosesi Sedekah Bumi (Dok foto @Pitut Saputra)

Dampak ekonomi kultural dari tradisi ini juga tidak bisa diabaikan. Sedekah bumi menarik pengunjung dari luar desa yang ingin menyaksikan prosesi dan merasakan suasana kultural yang autentik. Kehadiran tamu membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan produk pertanian, kerajinan, dan kuliner khas. Hartoyo melihat peluang ini sebagai cara untuk memperkuat ekonomi mikro desa tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional, “Kita bisa memanfaatkan momentum budaya untuk meningkatkan kesejahteraan, asalkan tetap menjaga esensi ritual dan tidak mengkomersilkan nilai-nilai yang mendasarinya.” papar Hartoyo.

Untuk menjaga kelangsungan tradisi, Hartoyo mendorong pembaruan yang sensitif terhadap perubahan zaman. Penguatan peran Bumdes, pelibatan organisasi pemuda, dan dokumentasi kegiatan menjadi strategi agar sedekah bumi tetap hidup. Ia menekankan pentingnya komunikasi antar generasi sehingga makna ritual tidak hilang di tengah modernisasi. Menurutnya, tradisi yang adaptif namun berakar kuat pada nilai-nilai inti akan lebih mampu bertahan dan memberi manfaat jangka panjang bagi komunitas.

Sedekah bumi di Umbul Kemanten Sidowayah, Polanharjo dengan penegasan Hartoyo sebagai pusat narasi, menunjukkan bagaimana sebuah tradisi lokal mampu merangkum spiritualitas, etika lingkungan, dan solidaritas sosial. Ketika kata-kata Hartoyo didengar dan diresapi, sedekah bumi berubah dari sekadar acara tahunan menjadi komitmen kolektif untuk hidup selaras dengan alam dan sesama. Di tengah dinamika zaman, pesan itu menjadi pengingat sederhana namun mendalam, syukur harus terlihat dalam tindakan, dan menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

( Pitut Saputra )