BerandaBudayaNjeng Sunan: Grebeg Suran 1 Suro Ke 20 Di Baturan Ritual Seni...

Njeng Sunan: Grebeg Suran 1 Suro Ke 20 Di Baturan Ritual Seni Dan Doa Bersama Wujud Syukur Persatuan 

KARANGANYAR – METROPAGINEWS.COM || Grebeg Suran 1 Suro ke-20 digelar meriah di Baturan Colomadu dengan rangkaian ritual, seni, dan doa bersama; kegiatan menjadi wujud syukur, persatuan, dan harapan bagi Indonesia.

 

Tradisi Grebeg Suran 1 Suro yang telah memasuki usia penyelenggaraan ke-20 digelar meriah dan khidmat di Lapangan Baturan, Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar.

Kegiatan tahunan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat lokal ini berlangsung pada Senin (15/06/2026).Dengan mengusung tema “Hamapak Warso Enggal 1 Suro Tahun B 1960 Witu Sansoyo”.

Perlu di ketahui meskipun sering diasosiasikan dengan Kota Surakarta karena lokasinya cukup dekat dan akses yang mudah dari arah Solo, secara administratif Lapangan Baturan berada di wilayah Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Desain tanpa judul 20260617 092816 0000

 

RANGKAIAN ACARA DIMULAI DENGAN KIRAB DAN PARADE SENI

Rangkaian acara dimulai sejak siang hari dengan prosesi Kirab Ketupat sebagai simbol rasa syukur atas segala rezeki yang telah diberikan. Kemudian dilanjutkan dengan pembentangan Bendera Merah Putih secara bersama-sama, diikuti kemeriahan Parade Reog Ponorogo yang memukau dengan kekayaan seni dan budaya Nusantara.

Memasuki malam hari, acara mencapai puncaknya dengan pertunjukan utama bertajuk Njeng Sunan Spektakuler. Rangkaian pementasan yang sarat akan makna meliputi Umbul Dungo, Tari Manembromo, Tari Sufi, Penampilan Seni Tradisional, Hayab-hayab, Tarian Api, Tari Rohani, Pakeliran Blacong, hingga diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, pengajian bersama KH. AR Bintoro, dan pertunjukan Wayang Dakwah yang penuh pesan mendalam.

Alunan irama doa dan pujian yang menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan dipimpin secara khidmat oleh Kyai Hartoto Kusnin, menghantar suasana semakin sakral dan penuh ketenangan.

20260617 093014 0000

PEMENTASAN NJENG SUNAN MEMADUKAN SPIRITUAL, BUDAYA, DAN NASIONALISME

Bukan sekadar tontonan biasa, Njeng Sunan dikemas secara mendalam untuk menceritakan perjalanan hidup manusia yang memadukan tiga unsur utama: nilai spiritual, kearifan budaya leluhur, dan semangat nasionalisme. Dalam setiap gerakan tari dan lantunan syairnya, tidak ada sekat pembeda suku, ras, maupun agama semuanya bersatu dalam satu tujuan yang sama.

Perpaduan gerak tari, irama musik, dan pementasan visual menggambarkan proses manusia mengenal jati diri, memperbaiki sikap, serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bahkan kelima unsur alam — tanah, air, api, angin, dan ruang turut diangkat dalam lantunan doa sebagai wujud penghormatan dan kesadaran akan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan.

Inti dari tradisi Ruwat Bumi dan Ruwat Nagari ini adalah momen memasuki fase baru dalam kehidupan dengan cara bertaqwa, melakukan tirakat, serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh alam semesta. Melalui kegiatan ini, doa bersama dipanjatkan agar seluruh bangsa Indonesia senantiasa diberi keamanan, kedamaian, dan kemajuan yang berkelanjutan.

Desain tanpa judul 20260617 092435 0000 1

KANJENG MUFTI: GENERASI MUDA HARUS MEMAHAMI MAKNA TRADISI

Kanjeng Mufti, selaku Ketua Pelaksana Njeng Sunan, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana penting untuk mendekatkan generasi muda pada warisan leluhur yang kaya akan nilai-nilai luhur.

“Generasi muda adalah generasi emas yang memiliki potensi luar biasa bagi masa depan Indonesia. Kita wajib mengantarkan mereka memahami makna mendalam secara rohani, sekaligus mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal. Agar mereka memandang Nusantara secara utuh, baik dari sisi keagamaan maupun budayanya itulah denyut nadi kehidupan kita,” ujarnya dengan penuh semangat.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara tradisi dan inovasi zaman. Menurutnya, kreativitas anak muda sangat dibutuhkan untuk mengemas penyajian agar lebih menarik bagi khalayak luas, namun tetap menjaga makna asli yang terkandung di dalamnya.

“Tontonan yang disajikan harus mengandung tuntunan dan pesan positif. Inovasi tampilan, teknologi visual, dan kemasan yang lebih menarik boleh dikembangkan, asalkan tetap sejalan dengan nilai luhur bangsa. Inilah yang akan menjadi kekuatan jati diri yang membedakan kita dari negara lain,” tegas Kanjeng Mufti.

TRADISI BERTAHAN DAN RELEVAN UNTUK MEMPERKUAT PERSATUAN

Grebeg Suran 1 Suro di Baturan Colomadu selama 20 tahun terakhir terus melibatkan para budayawan, seniman, tokoh agama, dan masyarakat luas dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini membuktikan bahwa tradisi tidak hanya bertahan hidup seiring berjalannya waktu, tetapi juga tetap relevan untuk memperkuat persatuan bangsa, ketahanan budaya, dan harapan akan masa depan bangsa yang lebih baik dan sejahtera.

 

Dengan kemasan yang terus berkembang namun tetap berpegang pada nilai luhur, Grebeg Suran 1 Suro menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur mampu menjadi perekat sosial sekaligus sumber inspirasi bagi generasi masa kini dan mendatang.

 

 

( Desi )

Komentar Klik di Sini