BerandaDaerahTradisi Adat Budaya Tumpeng & Takir Sewu Digelar Di Desa Sraten

Tradisi Adat Budaya Tumpeng & Takir Sewu Digelar Di Desa Sraten

BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM || Seribu tumpeng hasil pertanian warga Kampung Kedawung, Desa Sraten dikirab keliling. Dari berbagai jenis tumpeng tersebut disuguhkan, Mulai dari tumpeng agung, tumpeng ingkung, dan tumpeng hasil bumi seperti buah-buahan dan sayuran. Beberapa dari tumpeng itu ada yang berukuran besar.

Diungkapkan Kepala Desa (Kades) Sraten, H. Arif Rahman Mulyadi mengatakan, tradisi ini secara rutin digelar setiap 1 Suro penanggalan Jawa. Sebanyak ratusan warga masyarakat Desa Sraten bergotong royong membawa tumpeng dan takir menuju ke makam leluhur yang ada di Desa Sraten.

“Tradisi ini merupakan ungkapan rasa puji syukur masyarakat Kedawung, Sraten yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani atas limpahan berkah dan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT,” Ujarnya.

Sebelum prosesi acara festival digelar, sebelumnya warga terlebih dahulu melakukan bersih desa dan ziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan dan permohonan doa.

Awal dimulainya acara, setelah sholat dhuhur sekitar pukul 14.00 WIB, tumpeng raksasa yang telah dihiasi hasil bumi dan aneka makanan khas kenduri tersebut dikirab menuju tiga lokasi yang dianggap memiliki nilai historis peradaban sejarah dan spiritual oleh warga masyarakat.

Lokasi pertama dititik Sumber Mata Air Sumbersari. Sumber mata air ini dipercaya hingga saat ini tidak pernah kering meskipun disaat musim kemarau.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat Desa Sraten, bahwa tempat itu dahulu kala merupakan lokasi pemandian para putri kerajaan Blambangan dimasa Prabu Tawangalun. Dari lokasi sumber mata air inilah dipercaya sebagai Tirto Kahuripan.

Tradisi Adat Budaya Tumpeng & Takir Sewu Digelar Di Desa Sraten
BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

Selanjutnya, ratusan rombongan bergerak dari arah timur menuju kearah barat tepatnya makam Mbah Gitik.

Sesampainya di Pesarean / Makam Mbah Gitik, air yang diambil dari Mata Air Sumbersari tersebut disiramkan ke bunga yang berada di area makam.

Menurut kepercayaan masyarakat, Mbah Gitik merupakan pusaka cemeti yang dihormati secara turun temurun oleh warga setempat.

Setelah itu, rombongan warga melanjutkan kirab menuju ke area Pesarean / Pemakaman yang dipercaya sebagai makam Prabu Tawang Alun dan Mbah Darwi. Di lokasi inilah tumpeng dan takir sewu didoakan bersama – sama sebelum kemudian disantap dan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Tak hanya warga masyarakat Desa Sraten, sejumlah masyarakat dari luar desa juga turut memperoleh bagian dari tumpeng dan takir yang telah dikirab. Warga meyakini tradisi Tumpeng dan Takir Sewu membawa berkah bagi siapa saja yang mengikutinya.

Menurut kepercayaan masyarakat Desa Sraten, jika tidak pamit atau menggelar selamatan di sini, dipercaya bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga tradisi Tumpeng dan Takir Sewu yang digelar oleh masyarakat Desa Sraten selalu dalam lindungan-Nya dan senantiasa diberikan keberkahan,” Ungkap Kades H .A.Rahman.

Kegiatan ini dihadiri unsur Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Cluring, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Perwakilan Polresta Banyuwangi, Kodim 0825 Banyuwangi, Lanal Banyuwangi dan sejumlah tokoh masyarakat.

Sebagaimana telah tercatat, Tradisi Adat Budaya Tumpeng dan Takir Sewu Digelar di Desa Sraten sejak tahun 2016, 2017, 2018 dan 2019. Sedangkan di tahun 2020-2022 masuk covid dan kemudian dilanjutkan kembali pada tahun 2023 hingga tahun 2026 ini.

(Tyo – Handa)

Komentar Klik di Sini