BerandaPendidikanMahasiswa KKN UNSIKA 2026 Kelompok 35 Terapkan Teknologi Tepat Guna Alat Monitoring...

Mahasiswa KKN UNSIKA 2026 Kelompok 35 Terapkan Teknologi Tepat Guna Alat Monitoring dan Penyiraman Otomatis untuk Bantu Petani di Desa Rawasari

KARAWANG – METROPAGINEWS.COM || Kelompok 35 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) tahun 2026 menginisiasi program kerja Teknologi Tepat Guna berupa Alat Persemaian dengan sistem penyiraman otomatis. Kegiatan pemasangan alat ini dilaksanakan pada Minggu, 26 Juli 2026, bertempat di Desa Rawasari, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.

Program kerja ini berjalan di bawah bimbingan Dr. Dori Lukman Hakim, M.Pd., dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Singaperbangsa Karawang yang berperan sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 35. Beliau dikenal sebagai akademisi dengan fokus keilmuan di bidang pendidikan matematika dan teknologi pembelajaran, dan turut memberikan arahan serta bimbingan kepada mahasiswa dalam merumuskan program kerja yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna seperti alat siram otomatis ini.

Kelompok 35 KKN UNSIKA 2026 sendiri beranggotakan mahasiswa lintas fakultas dan program studi, mencerminkan semangat kolaborasi interdisipliner dalam menjalankan program pengabdian masyarakat. Latar belakang keilmuan yang beragam ini menjadi kekuatan tersendiri, sebab setiap program kerja yang dirancang dapat dikaji dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek teknis, sosial, hingga edukatif. Salah satu wujud kolaborasi tersebut terlihat dari program Teknologi Tepat Guna Alat Persemaian, yang digagas dan dikembangkan oleh Sultan Agung, mahasiswa Fakultas Teknik yang juga tergabung dalam Kelompok 35 KKN UNSIKA dengan dukungan penuh dari seluruh anggota kelompok dalam proses persiapan, pendampingan, hingga sosialisasi kepada masyarakat.

Desa Rawasari sendiri merupakan wilayah dengan kondisi masyarakat yang cukup beragam dari segi mata pencaharian, mulai dari petani, pedagang, hingga pekerja di sektor lainnya. Meski demikian, sektor pertanian tetap menjadi salah satu tumpuan penting bagi sebagian warga, khususnya mereka yang mengelola lahan persemaian dan perkebunan. Keberagaman latar belakang masyarakat ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi mahasiswa KKN dalam merancang program kerja yang tidak hanya bermanfaat bagi petani, tetapi juga dapat diterima secara luas oleh masyarakat desa.

Mahasiswa KKN UNSIKA 2026 Kelompok 35 Terapkan Teknologi Tepat Guna Alat Monitoring dan Penyiraman Otomatis untuk Bantu Petani di Desa Rawasari
Gambar 2. Alat Monitoring dan Penyiraman Otomatis

Program ini lahir dari pengamatan terhadap proses persemaian konvensional yang selama ini masih banyak mengandalkan penyiraman manual. Cara tersebut rentan menimbulkan ketidakkonsistenan, baik berupa keterlambatan waktu siram, volume air yang tidak terukur, maupun risiko kekeringan saat petani tidak sempat memantau lahan secara rutin. Kondisi ini mendorong mahasiswa KKN untuk menghadirkan solusi teknologi tepat guna yang sederhana namun aplikatif, sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Alat siram otomatis ini bekerja berbasis teknologi elektronik yang memungkinkan proses penyiraman lahan persemaian berjalan secara otomatis tanpa perlu campur tangan manual secara terus-menerus, dengan memanfaatkan sensor yang terhubung langsung ke aplikasi monitoring bernama Blynk. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat memantau kondisi lahan persemaian secara real-time hanya melalui layar ponsel, tanpa harus berada di lokasi. Kemudahan ini menjadi nilai tambah tersendiri, mengingat petani maupun mitra kerja dapat tetap mengontrol proses penyiraman meski sedang mengerjakan aktivitas lain di luar area persemaian.

Secara teknis, alat ini juga dilengkapi layar LCD yang menampilkan sejumlah indikator penting, yaitu suhu dan kelembapan udara, kelembapan tanah beserta statusnya (kering, lembap, atau basah), status kerja pompa, serta mode operasi yang sedang aktif, baik otomatis maupun manual. Suhu udara pada alat ini hanya bersifat informatif dan tidak memengaruhi kerja pompa.

BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

Logika kerja utama justru bertumpu pada sensor kelembapan tanah. Ketika kadar kelembapan berada pada rentang 2 hingga 30 persen, tanah dikategorikan kering dan pompa akan menyala secara otomatis. Pada rentang 31 hingga 79 persen, kondisi tanah dianggap lembap ideal sehingga pompa tetap menyala hingga mencapai kondisi berhenti. Sementara pada rentang 80 hingga 100 persen, tanah dikategorikan basah dan pompa otomatis akan berhenti bekerja untuk mencegah kelebihan air yang justru dapat merusak bibit.

Sistem ini menyediakan dua mode operasi yang dapat dipilih sesuai kebutuhan pengguna. Pada mode otomatis, kerja pompa sepenuhnya mengikuti pembacaan sensor kelembapan tanah seperti dijelaskan sebelumnya. Sementara itu, mode manual memungkinkan pengguna mengaktifkan pompa tanpa bergantung pada sensor, dengan pengaturan durasi penyiraman yang dapat ditentukan sendiri mulai dari 1 hingga 30 menit, dan dapat diubah sewaktu-waktu sesuai kebutuhan di lapangan.

Kedua mode ini bekerja secara eksklusif satu sama lain, artinya ketika mode otomatis dinonaktifkan maka mode manual akan aktif, begitu pula sebaliknya, sehingga tidak terjadi tumpang tindih perintah pada sistem. Pengaturan ini membuat alat tetap fleksibel digunakan, baik untuk kebutuhan penyiraman rutin harian maupun penyiraman tambahan sesuai kondisi tertentu di lahan.

Mahasiswa KKN UNSIKA 2026 Kelompok 35 Terapkan Teknologi Tepat Guna Alat Monitoring dan Penyiraman Otomatis untuk Bantu Petani di Desa Rawasari
Gambar 3. Mahasiswa KKN UNSIKA 2026 Kelompok 35 bersama mitra kerja di lokasi persemaian Adatara Farm, Desa Rawasari, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, usai pemasangan alat siram otomatis

Sebagai penunjang informasi bagi pengguna di lapangan, alat ini juga dilengkapi buzzer atau alarm bunyi dengan pola tertentu untuk setiap kondisi. Bunyi tiga kali pendek menandakan tanah dalam kondisi kering, satu kali bunyi menandakan pompa mulai menyala, dua kali bunyi menandakan proses penyiraman telah selesai, dan satu kali bunyi panjang menandakan mode manual sedang aktif. Dengan adanya indikator bunyi ini, petani maupun mitra kerja dapat mengetahui kondisi dan status kerja alat meski tidak sedang memantau layar LCD atau aplikasi secara langsung.

Kegiatan implementasi alat ini dilaksanakan bekerja sama dengan Tata Tajudin, selaku pemilik lahan persemaian yang menjadi mitra kerja dalam program ini. Melalui pendampingan langsung di lapangan, mahasiswa KKN turut memperkenalkan cara kerja, pengoperasian, hingga perawatan sederhana dari alat tersebut, agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh mitra setelah masa KKN berakhir.

Sebagai tolak ukur keberhasilan, program ini menetapkan tiga indikator utama. Pertama, terealisasinya pemasangan alat siram otomatis pada satu titik lokasi persemaian sebagai bentuk purwarupa penerapan teknologi. Kedua, penggunaan basis teknologi dalam sistem penyiraman, sebagaimana terlihat dari integrasi sensor, aplikasi monitoring, dan sistem kendali otomatis yang telah dijelaskan sebelumnya. Ketiga, tingkat keberlanjutan penggunaan alat yang ditargetkan mencapai 80 persen, mencerminkan harapan agar teknologi ini benar-benar terpakai secara konsisten oleh mitra, bukan sekadar menjadi proyek percontohan yang berhenti begitu mahasiswa selesai bertugas.

Program Teknologi Tepat Guna Alat Persemaian ini menjadi salah satu wujud nyata sinergi antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Dengan hadirnya inovasi sederhana namun aplikatif hasil karya mahasiswa Fakultas Teknik UNSIKA ini, diharapkan proses persemaian di Desa Rawasari dapat berjalan lebih efisien, mengurangi beban kerja petani, sekaligus mendorong adopsi teknologi tepat guna yang berkelanjutan di tingkat desa.

(KKN Desa Rawasari 2026)

Komentar Klik di Sini