KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Saropah (66), Ibu Ipah, hidup sebatang kara suami meninggal, tak punya anak, menumpang rumah & rawat adik ODGJ di Telogorandu Juwiring. Kerja serabutan, tak pernah dapat bansos, masuk Desil 6. Awak media belum konfirmasi pihak desa. PT WMP Widodo: bukan soal angka, soal hati nurani. Minggu (4/10)
Di tengah riuh pembahasan soal ketidaktepatan sasaran data bantuan sosial, muncul satu kisah yang menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya. Datang dari Dukuh Telogorandu, Kecamatan Juwiring, Klaten inilah kehidupan Saropah, akrab disapa Ibu Ipah, yang kini berusia 66 tahun.
Sebatang Kara di Senja Usia
Suaminya telah lama berpulang, dan pasangan ini tidak dikaruniai keturunan. Kini, di masa yang seharusnya diisi ketenangan, perempuan paruh baya ini justru harus berjuang sendirian. Ia menumpang tinggal di rumah adik laki-lakinya yang hidup dengan gangguan jiwa dan bukan sekadar menumpang: dialah yang merawat sang adik setiap hari, dengan penuh kesabaran.
Untuk menyambung hidup berdua, Ipah bergantung pada pekerjaan serabutan. Penghasilannya tak menentu, kadang ada, kadang tidak. Ia mengaku tidak pernah sekalipun menerima bantuan dari desa. Namanya tercatat dalam Desil 6 sebuah posisi yang seolah menutup pintu bantuan baginya.
Hingga berita ini ditayangkan, awak media belum mengonfirmasi keterangan tersebut kepada pihak desa terkait pemberian bantuan maupun langkah pembenahan data desil. Konfirmasi akan dilakukan sebagai kelanjutan penelusuran fakta.

Kontrol Sosial Ungkap Realita yang Terabaikan
Kisah ini terungkap saat awak media METROPAGINEWS.COM melakukan kontrol sosial ke kediamannya. Melihat langsung keadaan sederhana yang memprihatinkan, tim media tergerak dan merekomendasikan Ibu Ipah kepada PT WMP (Wis Makmur Perkasa) perusahaan tambang pasir yang dikenal konsisten peduli pada lingkungan sekitarnya.
“Bukan Soal Desil Berapa, Ini Soal Hati Nurani”
Respon datang cepat dan tulus. Tanpa ragu, Direktur Utama PT WMP, Widodo, langsung bergerak. Ia menitipkan bantuan berupa paket sembako beserta uang tunai untuk Ibu Ipah dan adiknya.
“Kami titipkan bantuan sembako dan sedikit uang tunai untuk Ibu Ipah dan adiknya. Ini bukan soal Desil berapa, ini soal hati nurani. Ketika kami melihat ada yang betul-betul membutuhkan di depan mata, kami harus bergerak,” ujar Widodo dengan tegas.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh awak media kepada ibu Ipah. Menerima uluran tangan itu, mata ibu Ipah berkaca-kaca. Ia tak banyak bicara, hanya mengucapkan terima kasih berulang-ulang tanda syukur sederhana dari seseorang yang tak terbiasa diperhatikan.
Yang Luput dari Angka, Ditemukan oleh Kepedulian
Kisah Ibu Ipah menjadi cermin nyata: masih banyak warga yang sungguh-sungguh membutuhkan, namun terlewatkan dari pendataan. Angka di kertas tak selalu mencerminkan kenyataan di lapangan. Awak media juga akan menelusuri lebih lanjut langkah pembenahan data desil agar kasus serupa tidak terus berulang. Di tengah proses itu, hadir kepedulian yang tak menunggu daftar lahir dari hati, melihat sesama manusia, bukan sekadar baris data.
Semoga langkah PT WMP menginspirasi lebih banyak pihak untuk turun ke lapangan, melihat langsung, dan hadir bagi mereka yang suaranya tak sampai ke meja administrasi.
Reporter: Desi Apriani
Editor: Tim Redaksi METROPAGINEWS.COM
DISCLAIMER
Berita ini disusun berdasarkan keterangan langsung dari Ibu Saropah (Ipah) serta hasil kontrol sosial di lokasi. Pernyataan terkait belum pernah menerima bantuan dan status data desil disampaikan sesuai keterangan narasumber. Konfirmasi kepada pihak desa serta penelusuran langkah pembenahan data desil sedang dalam proses dan akan dilaporkan menyusul.



Komentar Klik di Sini