JAKARTA – METROPAGINEWS.COM || Di tengah derasnya arus informasi dan transformasi ekonomi digital, penguasaan literasi statistik menjadi prasyarat mutlak dalam pemanfaatan data hasil Sensus Ekonomi secara optimal. Berangkat dari urgensi tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Administrasi Jakarta Utara menggelar Konferensi Pers “Literasi Statistik Dalam Rangka Pemanfaatan Data Hasil Sensus Ekonomi 2026”, Selasa (27/10/2026) di Kantor BPS Jakarta Utara, Jalan Berdikari No.1, Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara.
Forum ini tidak sekadar menjadi ajang diseminasi, melainkan ruang dialektika intelektual untuk membedah bagaimana data mentah hasil Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) harus diterjemahkan menjadi pengetahuan yang bernilai guna. SE2026 sendiri merupakan instrumen paling komprehensif untuk memetakan seluruh entitas ekonomi, dari usaha mikro hingga korporasi besar, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Jakarta Utara.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS ) Jakarta Utara Theresia Parwati menekankan, tanpa literasi statistik yang memadai, data SE2026 yang melimpah hanya akan menjadi deretan angka yang bisu. Literasi adalah jembatan epistemologis yang mengubah data menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijakan.
“Paradigma kita harus bergeser. Sensus Ekonomi bukan lagi sekadar kegiatan pendataan, melainkan investasi peradaban data. Literasi statistik adalah kunci untuk membuka kotak pandora data SE2026, agar dapat dimanfaatkan secara presisi untuk membaca struktur ekonomi, mengidentifikasi disparitas, dan merancang intervensi kebijakan yang berbasis bukti,” paparnya secara intelektual.

BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider
Dalam konteks Jakarta Utara sebagai kawasan industri, pelabuhan, dan perdagangan strategis, kemampuan membaca indikator-indikator strategis SE2026 – seperti konsentrasi usaha, skala ekonomi, rantai pasok, dan adopsi teknologi – menjadi determinan utama dalam meningkatkan daya saing wilayah dan keberlanjutan UMKM.
Oleh karena itu, literasi statistik yang digaungkan BPS tidak berhenti pada kemampuan membaca tabel dan grafik. Lebih dari itu, ia adalah kemampuan kritis untuk memahami konteks, menginterpretasi tren, dan memanfaatkan data sebagai instrumen advokasi pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
Melalui penguatan literasi ini, BPS Jakarta Utara mengajak insan pers untuk mengambil peran sentral sebagai agen literasi. Media diharapkan tidak hanya menjadi penyampai data, tetapi menjadi kurator informasi yang mampu mengedukasi publik agar melek data, kritis terhadap data, dan cerdas dalam memanfaatkan data SE2026 untuk kepentingan kolektif.
Pada akhirnya, Sensus Ekonomi 2026 akan bermakna sejauh mana masyarakat mampu memanfaatkannya. Dan pemanfaatan itu hanya mungkin terwujud jika literasi statistik telah menjadi budaya bersama.
(Tjip)



Komentar Klik di Sini