BerandaSejarahMenjelajah Rowo Bayu, Petilasan Pertapaan Prabu Tawangalun dan Jejak Perang Puputan Bayu

Menjelajah Rowo Bayu, Petilasan Pertapaan Prabu Tawangalun dan Jejak Perang Puputan Bayu

BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM || Hutan Bayu di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, menyimpan jejak sejarah dan tradisi budaya yang hingga kini masih menarik perhatian masyarakat. Kawasan yang dikenal dengan nama Rowo Bayu ini dipercaya sebagai tempat pertapaan Prabu Tawangalun, salah satu raja dalam sejarah Kerajaan Blambangan.

 

Selain dikenal melalui kisah petilasan dan keberadaan sejumlah mata air yang dikeramatkan masyarakat, Rowo Bayu juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Perang Puputan Bayu, perlawanan rakyat Blambangan terhadap kekuasaan kolonial VOC pada abad ke-18.

 

Juru Pelihara (Jupel) Petilasan Pertapaan Prabu Tawangalun, Atim, mengatakan, kawasan tersebut hingga kini masih kerap dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari pelaku spiritual, budayawan, peneliti, hingga masyarakat umum.

 

“Di tempat ini sering kita jumpai rombongan musafir, kelompok budayawan, maupun pengunjung perorangan. Bahkan, ada juga yang menginap,” ungkap Atim, Selasa (27/10/2026).

 

Menurutnya, keberadaan Rowo Bayu tidak hanya menarik bagi masyarakat yang ingin mengenal tradisi spiritual, tetapi juga bagi mereka yang tertarik menelusuri sejarah dan kebudayaan Banyuwangi.

 

Jejak Prabu Tawangalun dan Tradisi Lokal

 

Rowo Bayu dikenal masyarakat sebagai salah satu lokasi yang dikaitkan dengan kisah pertapaan Prabu Tawangalun, raja Kerajaan Blambangan. Kawasan ini juga memiliki sejumlah sumber mata air yang dikenal dengan nama Sendang Keputren, Sendang Wigangga, dan Sendang Kamulyan.

Desain tanpa judul 20261027 195944 0000

Keberadaan petilasan dan sendang tersebut menjadi bagian dari tradisi serta cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, untuk memastikan detail sejarah mengenai aktivitas pertapaan Prabu Tawangalun, diperlukan penelusuran terhadap sumber sejarah dan kajian arkeologis yang relevan.

 

Dengan demikian, Rowo Bayu dapat dipandang bukan hanya sebagai kawasan yang memiliki nilai spiritual bagi sebagian masyarakat, tetapi juga sebagai ruang budaya yang menyimpan narasi sejarah lokal.

 

Perang Puputan Bayu, Perlawanan Rakyat Blambangan

 

Di balik cerita petilasan, kawasan Bayu juga lekat dengan peristiwa Perang Puputan Bayu pada 1771–1773. Peristiwa ini merupakan salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan rakyat Blambangan terhadap ekspansi kolonial VOC.

 

Latar belakang konflik tersebut berkaitan dengan upaya VOC memperluas kekuasaan di wilayah Blambangan. Melalui Perjanjian Ponorogo pada 1743, wilayah Blambangan secara formal diserahkan kepada VOC oleh Pakubuwono II, meskipun penguasaan atas wilayah tersebut tidak serta-merta berjalan tanpa perlawanan.

 

Pada 1767, VOC mulai melakukan intervensi militer untuk memperkuat kendalinya atas Blambangan. Kebijakan kolonial dan tekanan terhadap masyarakat setempat kemudian memicu perlawanan yang meluas.

 

Perang Puputan Bayu mencapai puncak pertempuran pada 18 Desember 1771. Perlawanan rakyat Blambangan antara lain dikaitkan dengan tokoh Pangeran Jagapati atau Mas Rempeg serta Wong Agung Wilis, yang namanya dikenal dalam historiografi perjuangan Blambangan.

 

Istilah puputan merujuk pada perlawanan habis-habisan hingga titik penghabisan. Semangat tersebut menggambarkan tekad rakyat Blambangan mempertahankan wilayah dan martabatnya dari kekuasaan kolonial.

 

Perang tersebut menimbulkan korban besar dan dampak sosial yang mendalam bagi masyarakat Blambangan. Meski demikian, angka korban dan rincian peristiwa perlu merujuk pada sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran.

 

Rowo Bayu, Warisan Sejarah yang Perlu Dijaga

 

Hingga kini, Rowo Bayu menjadi salah satu kawasan yang menyimpan perpaduan cerita sejarah, tradisi spiritual, dan kekayaan alam Banyuwangi. Keberadaannya membuka peluang bagi pengembangan wisata sejarah dan budaya, sekaligus menjadi pengingat akan perjalanan panjang masyarakat Blambangan.

 

Penelusuran terhadap kawasan ini perlu dilakukan dengan tetap menghormati tradisi masyarakat setempat serta mengedepankan kajian sejarah yang akurat. Dokumentasi, penelitian, dan pemeliharaan situs menjadi penting agar kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat dipahami secara lebih utuh.

 

Rowo Bayu bukan sekadar tempat yang diselimuti cerita masa lalu. Kawasan ini juga menjadi bagian dari identitas budaya Banyuwangi yang patut dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda.

 

(Tyo)

 

 

Komentar Klik di Sini