BerandaEkonomiAsa Penjual dan Pengrajin di Balik Redupnya Tren Batu Akik

Asa Penjual dan Pengrajin di Balik Redupnya Tren Batu Akik

SURABAYA – METROPAGINEWS.COM || Batu akik kini memang tak lagi “bersinar” seperti pada masa kejayaannya. Bukan karena keindahan batunya yang hilang, melainkan tren yang telah berubah. Demam batu akik yang pernah melanda hampir seluruh wilayah Indonesia pada 2014–2015, kini perlahan meredup, termasuk di Kota Surabaya. Kamis (13/8/2026).

 

Di Kota Pahlawan, salah satu pusat perdagangan batu akik yang masih bertahan berada di kawasan Pasar Turi dan Jalan Kayoon. Di sepanjang kawasan tersebut, sejumlah pedagang masih menggelar dagangannya di atas meja kayu sederhana. Selain menjual batu akik, sebagian pedagang juga menjadi pengrajin cincin dan berbagai jenis perhiasan.

Dengan peralatan sederhana seperti mesin pemotong dan gerinda untuk mengasah batu, para pengrajin tetap berusaha mempertahankan usaha yang telah mereka jalani bertahun-tahun.

Waktu terus berjalan. Seperti demam yang perlahan mereda, tren batu akik pun mengalami hal serupa. Jika dahulu hampir setiap hari pedagang dipadati pembeli, kini suasananya jauh lebih sepi.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat semua pedagang menyerah. Sebagian memilih tetap bertahan, mengandalkan pelanggan lama dan kualitas batu yang mereka tawarkan.

Salah satunya Redho, pedagang sekaligus pengrajin batu akik di kawasan Pasar Turi Surabaya. Kepada media, ia mengungkapkan bahwa sejak tren batu akik meredup, banyak pedagang memilih beralih profesi. Berbeda dengan dirinya yang tetap bertahan karena usaha tersebut masih menjadi salah satu sumber penghidupan utamanya.

“Saya mulai jualan di sini sejak 2013,” ujar Redho sambil menata dagangannya.

Redho mengakui, pendapatannya saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika batu akik sedang booming.

“Kalau dulu bisa dibilang setiap hari ada pembeli, sekarang paling kadang-kadang saja,” katanya.

Meski demikian, Redho mengaku tetap bersyukur karena masih memiliki pelanggan setia yang datang untuk mencari jenis batu tertentu.

Dari sisi modal, ia kini juga tidak lagi harus mengeluarkan dana besar untuk memenuhi stok dagangan.

“Kalau dulu modal bisa jutaan untuk stok batu, sekarang cukup ratusan ribu saja. Saya ambil seperlunya, sesuai permintaan,” jelasnya.

Menurut Redho, harga jual batu akik saat ini juga tidak selalu sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Keuntungan yang diperoleh relatif tipis dan terkadang hanya cukup untuk mengembalikan modal.

“Kadang hasil jual cuma cukup buat ganti modal. Untungnya tipis, tapi masih bisa bertahan,” ujarnya.

Ia mengatakan, harga batu akik saat ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan masa kejayaannya.

“Kalau dulu batu jenis tertentu bisa laku sampai ratusan ribu, sekarang paling sepuluh ribu juga orang sudah mikir-mikir,” katanya sambil tersenyum pahit.

Meski keuntungan tak lagi sebesar dahulu, Redho memilih tetap menjalani usaha tersebut.

“Ya, namanya usaha, tetap dijalani saja. Walaupun hasilnya sekarang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, tapi daripada nganggur,” tambahnya.

Biaya sewa lebih ringan

Untuk tempat berjualan, Redho mengatakan lokasi yang ditempatinya merupakan tempat sewa. Menurutnya, biaya sewa saat ini justru lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Iya, ini tempat sewa. Sekarang biaya sewanya malah turun dibanding beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Penurunan biaya sewa, kata dia, sedikit membantu mengurangi beban pengeluaran tetap setiap bulan.

“Kalau sewanya masih mahal seperti dulu, mungkin saya sudah berhenti jualan,” katanya.

Namun, biaya sewa yang lebih ringan belum otomatis membuat pendapatan meningkat. Penghasilan tetap sangat bergantung pada jumlah pembeli yang datang.

“Pendapatan tetap tergantung pembeli. Kalau ramai, lumayan. Tapi kalau sepi, ya seadanya saja,” ucapnya.

Bertahan dengan kepercayaan pelanggan

Redho menilai perubahan tren menjadi faktor utama yang membuat usaha batu akik tidak lagi seramai masa lalu. Masyarakat kini memiliki banyak pilihan hiburan dan kebutuhan, termasuk berbagai produk digital, gadget, serta aksesori modern.

“Sekarang orang lebih tertarik ke hal-hal digital, gadget, atau aksesoris modern. Batu akik sudah jarang dilirik,” katanya.

Meski demikian, ia tidak ingin menyerah begitu saja. Bagi Redho, mempertahankan kualitas dan kepercayaan pelanggan menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.

“Saya tetap jaga kepercayaan pembeli. Kadang ada yang pesan batu khusus, saya carikan. Itu yang bikin pelanggan masih datang,” tutur Redho.

Di tengah perubahan zaman dan meredupnya tren batu akik, meja dagangan sederhana Redho di kawasan Pasar Turi menjadi gambaran tentang bagaimana sebagian pelaku usaha kecil memilih bertahan. Bukan lagi dengan mengandalkan euforia pasar seperti satu dekade lalu, tetapi dengan kesabaran, kualitas, pelayanan, dan hubungan baik dengan pelanggan.

Bagi mereka, selama masih ada pembeli yang datang dan usaha tersebut masih mampu menghidupi keluarga, batu akik tetap layak diperjuangkan.

(Redho)

Komentar Klik di Sini