KUPANG – METROPAGINEWS.COM || Hasil pertanian tidak selamanya harus dijual dalam bentuk segar. Ketika produksi melimpah dan harga pasar turun, petani justru dapat menghadapi risiko kerugian akibat komoditas yang mudah rusak. Selasa (11/8/2026).
Persoalan tersebut menjadi perhatian dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana (Undana), melalui kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Oesao.

Dalam kegiatan yang melibatkan sekitar 50 anggota Kelompok Tani “Dalam Kom” tersebut, tim dosen memperkenalkan berbagai inovasi sederhana dalam pengolahan hasil hortikultura, khususnya cabai, tomat, dan sayuran, agar hasil panen memiliki daya simpan lebih panjang sekaligus nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Tim PKM terdiri dari Santhy Chamdra, SP., M.Si., Ayu Fitriani, S.P., M.Sc., dan Ir. Maria Bano, M.P. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan sekaligus demonstrasi sehingga para petani tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga melihat dan mempraktikkan secara langsung proses pengolahan hasil pertanian.
Dalam penyuluhan, tim menjelaskan bahwa komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran memiliki karakteristik mudah rusak. Karena itu, penanganan pascapanen menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan petani.
Ketika hasil panen melimpah, sementara kemampuan pasar untuk menyerap komoditas segar terbatas, harga dapat mengalami penurunan. Kondisi ini membuat posisi petani menjadi rentan karena hasil pertanian harus segera dijual sebelum mengalami kerusakan.
“Pengolahan hasil hortikultura merupakan salah satu cara untuk mengurangi kehilangan hasil sekaligus memberikan pilihan kepada petani untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Jadi, hasil panen tidak harus selalu dijual dalam bentuk segar,” jelas tim PKM.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah penggunaan food dehydrator untuk mengurangi kadar air pada bahan pangan. Teknologi tersebut diperagakan secara langsung dalam pengolahan cabai menjadi bubuk cabai.
Para peserta diperkenalkan dengan tahapan pengolahan mulai dari persiapan bahan, proses pengeringan, penggilingan hingga menjadi bubuk, kemudian dilanjutkan dengan pengemasan.
Melalui proses tersebut, cabai yang sebelumnya hanya dipasarkan dalam bentuk segar dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki bentuk dan nilai jual berbeda.
Selain pengolahan cabai, tim PKM juga memperkenalkan konsep sayuran siap masak atau fresh-cut vegetables. Konsep tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penyortiran, pembersihan, pemotongan sesuai kebutuhan hingga pengemasan secara higienis.
Produk sayuran siap masak dinilai dapat memberikan kemudahan kepada konsumen karena tidak lagi membutuhkan banyak proses persiapan sebelum digunakan.
Bagi petani, konsep tersebut sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan hasil pertanian menjadi produk yang lebih siap dipasarkan dan memiliki nilai tambah.
Tim PKM menekankan bahwa inovasi pengolahan tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menghasilkan produk baru. Lebih dari itu, petani perlu memahami bahwa pengolahan, pengemasan, dan pelabelan dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan nilai tambah produk pertanian.
Dengan pendekatan tersebut, petani memiliki alternatif ketika harga komoditas segar sedang rendah. Hasil panen yang tidak langsung terserap pasar dapat diarahkan untuk diolah sehingga tidak seluruhnya terbuang atau dijual dengan harga yang kurang menguntungkan.
Kegiatan PKM tersebut mendapat respons positif dari anggota Kelompok Tani “Dalam Kom”. Para peserta terlihat antusias mengikuti demonstrasi penggunaan food dehydrator maupun praktik pengolahan dan pengemasan produk.
Diskusi berlangsung cukup aktif. Para petani mengajukan berbagai pertanyaan berkaitan dengan proses pengeringan, lama penyimpanan, kebersihan selama proses produksi, pemilihan jenis kemasan hingga peluang pemasaran produk olahan.
Salah seorang peserta, Mama Emi Tameno, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan hasil pertanian.
Menurutnya, selama ini petani lebih banyak menjual cabai dan sayuran secara langsung setelah panen. Melalui kegiatan tersebut, mereka mulai melihat adanya pilihan lain untuk memanfaatkan hasil pertanian.
“Selama ini kami lebih banyak menjual cabai dan sayuran langsung setelah panen. Dari kegiatan ini kami baru melihat bahwa hasil panen juga bisa diolah dan dikemas sehingga lebih tahan disimpan dan mempunyai nilai jual yang berbeda,” ujar Mama Emi Tameno.
Peserta lainnya berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelompok.
“Kami tertarik untuk mencoba membuat produk sendiri karena kalau harga cabai atau sayuran turun, hasil panen tidak harus langsung dijual. Kalau bisa diolah, kami punya pilihan lain dan mudah-mudahan bisa menambah pendapatan kelompok,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tersebut, tim PKM berharap Kelompok Tani “Dalam Kom” tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teknologi pengolahan hasil hortikultura, tetapi juga mampu melihat peluang usaha yang dapat dikembangkan dari komoditas yang mereka produksi sendiri.
Menurut tim, pengembangan produk olahan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kemandirian petani. Petani tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menciptakan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian dari sisi pascapanen. Sebab, keberhasilan usaha pertanian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan komoditas, tetapi juga bagaimana hasil tersebut ditangani, diolah, dikemas, dan dipasarkan.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sederhana, aplikatif, serta sesuai dengan kebutuhan petani.
Bagi masyarakat Desa Oesao, inovasi pengolahan hortikultura diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan produk pertanian lokal menjadi produk yang lebih bernilai dan memiliki peluang pasar.
Dengan penguatan penanganan pascapanen, cabai, tomat, dan sayuran yang dihasilkan petani tidak hanya memiliki nilai ekonomi ketika berada di lahan dan saat panen. Komoditas tersebut juga dapat memberikan nilai tambah setelah melalui proses pengolahan, pengemasan, dan pelabelan.
Pada akhirnya, inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan lebih banyak pilihan bagi petani, mengurangi risiko kerugian akibat hasil pertanian yang mudah rusak, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan usaha kelompok tani di Desa Oesao.
(Alberto)


Komentar Klik di Sini