BerandaDaerahAVOTEA Hadir di Oelbubuk, Limbah Biji Alpukat Disulap Menjadi Teh Herbal Bernilai...

AVOTEA Hadir di Oelbubuk, Limbah Biji Alpukat Disulap Menjadi Teh Herbal Bernilai Ekonomi

SO’E – METROPAGINEWS.COM || Inovasi pemanfaatan potensi lokal untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat mulai dikembangkan di Desa Oelbubuk, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “AVOTEA: Teh Biji Alpukat”, tim dosen dan mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan menggandeng Kelompok Tani Nanjam Kuale’u untuk mengolah biji alpukat yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi produk teh herbal yang memiliki nilai tambah.

Program tersebut resmi dimulai melalui kegiatan pembukaan yang berlangsung di Balai Desa Oelbubuk, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini dihadiri puluhan anggota kelompok tani, perangkat desa, serta tokoh masyarakat setempat.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Ketua Kelompok Tani Nanjam Kuale’u, Julius Kase. Ia menyampaikan apresiasi atas hadirnya program AVOTEA yang dinilai membuka perspektif baru bagi masyarakat dalam melihat potensi ekonomi dari limbah pertanian.

AVOTEA Hadir di Oelbubuk, Limbah Biji Alpukat Disulap Menjadi Teh Herbal Bernilai Ekonomi

“Kami sangat bersyukur dan menyambut baik inisiatif ini. Selama ini biji alpukat hanya kami anggap limbah dan dibuang begitu saja. Kini, melalui program AVOTEA, kami diajak untuk melihat bahwa limbah tersebut memiliki nilai ekonomi yang luar biasa,” ujar Julius.

Ia menegaskan bahwa kelompok tani siap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan berharap program tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Oelbubuk.

Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian, Maria Prudensiana Leda Muga, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa AVOTEA dirancang sebagai upaya untuk mengubah paradigma masyarakat dalam memandang limbah pertanian.

Menurut Maria, Kabupaten TTS memiliki potensi besar dalam produksi alpukat. Pada tahun 2024, produksi alpukat di daerah tersebut mencapai 48.700 kuintal.

Besarnya produksi alpukat juga menghasilkan limbah biji dalam jumlah yang tidak sedikit. Biji alpukat diperkirakan mencapai sekitar 15–30 persen dari berat buah, namun selama ini sebagian besar belum dimanfaatkan dan berakhir sebagai limbah.

“Melalui program AVOTEA, kami ingin mengajak Kelompok Tani Nanjam Kuale’u untuk mengolah biji alpukat menjadi teh herbal yang bernilai tambah. Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita bersama-sama membangun kemandirian ekonomi desa,” tegas Maria.

Program AVOTEA akan berlangsung selama delapan bulan dengan berbagai tahapan kegiatan. Tim pengabdian tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai pengolahan biji alpukat, tetapi juga melakukan pendampingan secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan teknis pengolahan biji alpukat, penerapan teknologi tepat guna, pendampingan manajemen usaha, hingga pengembangan strategi pemasaran produk.

Dalam pelaksanaannya, tim menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses pengembangan program sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah solar dryer atau alat pengering pasif berbasis panas matahari. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu proses pengeringan biji alpukat secara lebih efektif.

AVOTEA Hadir di Oelbubuk, Limbah Biji Alpukat Disulap Menjadi Teh Herbal Bernilai Ekonomi

BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

Setelah dikeringkan, biji alpukat kemudian diproses melalui tahapan penyangraian menggunakan oven sederhana untuk menghasilkan cita rasa khas yang menjadi karakteristik teh biji alpukat.

“Kami memastikan bahwa teknologi yang kami hadirkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mitra. Selain itu, kami juga akan memberikan pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital agar produk AVOTEA: Teh Biji Alpukat dapat bersaing di pasar,” kata Maria.

Teknologi yang digunakan dirancang sederhana, hemat biaya, dan mudah dioperasikan masyarakat. Dengan demikian, teknologi tersebut diharapkan dapat diterapkan pada skala rumah tangga maupun dikembangkan menjadi usaha kecil berbasis kelompok.

Antusiasme masyarakat terlihat dalam kegiatan pembukaan. Puluhan anggota Kelompok Tani Nanjam Kuale’u bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh perhatian.

Masyarakat berharap AVOTEA tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi bagi keluarga petani di Desa Oelbubuk.

Pemanfaatan biji alpukat juga dinilai dapat memberikan manfaat ganda. Di satu sisi, limbah pertanian yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah. Di sisi lain, masyarakat memperoleh peluang untuk mengembangkan usaha baru berbasis potensi yang tersedia di lingkungan mereka sendiri.

Program ini sekaligus sejalan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pengentasan kemiskinan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penguatan kemitraan dalam pembangunan.

Jika dikembangkan secara konsisten, AVOTEA diharapkan mampu berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga petani, membuka lapangan kerja baru, dan membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mengolah limbah menjadi sumber daya ekonomi.

Tim pengabdian menegaskan bahwa keberhasilan AVOTEA tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk melanjutkan usaha secara mandiri setelah program berakhir.

Karena itu, selama delapan bulan pelaksanaan, tim akan memberikan pendampingan dalam berbagai aspek, termasuk produksi, manajemen usaha, kelembagaan, hingga pemasaran.

AVOTEA Hadir di Oelbubuk, Limbah Biji Alpukat Disulap Menjadi Teh Herbal Bernilai Ekonomi

Pada akhir program, direncanakan pembentukan kelompok usaha AVOTEA yang akan didukung dengan modul permanen pengolahan teh biji alpukat. Modul tersebut diharapkan menjadi panduan tertulis yang dapat digunakan masyarakat dalam menjalankan proses produksi secara berkelanjutan.

“Kami ingin program ini tidak berhenti ketika tim kami meninggalkan desa. Karena itu, kami membangun sistem dan kelembagaan yang kuat agar usaha ini bisa berjalan berkelanjutan,” pungkas Maria.

Dimulainya program AVOTEA menjadi bukti bahwa potensi desa tidak selalu harus berasal dari sumber daya baru. Limbah yang selama ini dianggap tidak berguna pun dapat menjadi peluang apabila diolah melalui inovasi, teknologi tepat guna, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Dari Desa Oelbubuk, biji alpukat yang sebelumnya berakhir sebagai limbah kini mulai diarahkan menjadi AVOTEA, teh herbal berbasis potensi lokal, dengan harapan mampu membuka jalan baru menuju peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat TTS.(*)

(Alberto)

Komentar Klik di Sini