BerandaOpiniCatatan Kaperwil Soloraya : "TETAPLAH ORA WARAS DI JALUR YANG WARAS"

Catatan Kaperwil Soloraya : “TETAPLAH ORA WARAS DI JALUR YANG WARAS”

Oleh: Desi, Kaperwil Soloraya http://Metropaginews.com

 

KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Catatan Kaperwil Soloraya: Tetaplah ora waras (edan) di jalur yang waras. Refleksi jujur tentang tiga wajah profesi jurnalis masa kini pengemis, penjilat, dan mereka yang tetap edan demi kebenaran. Minggu (25/10)

 

Tetaplah ora waras di jalur yang waras.

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya akhir-akhir ini. Kalimat pendek, paradoks, tapi justru paling jujur menggambarkan jaman yang sedang kita hadapi hari ini. Terutama bagi kami yang berprofesi sebagai jurnalis dan bagi mereka yang duduk di kursi pemerintahan.

Kita hidup di era yang warasnya sudah ora waras.

Pemerintah hari ini sangat waras secara administratif. Semua ada aturannya. Semua ada programnya. Semua ada istilah kerennya. Ada percepatan, ada optimalisasi, ada sinergitas. Di atas kertas, di atas panggung pidato, semua terlihat waras, rapi, dan meyakinkan.

Tapi di lapangan, yang dirasakan rakyat seringkali justru ke-ora-waras-an. Prosedur yang dipersulit, bantuan yang tak kunjung tiba, kritik yang dianggap serangan, dan kejujuran yang dianggap kebencian. Waras di laporan, ora waras di eksekusi.

Dan di tengah situasi itulah, profesi kami sebagai jurnalis ikut terbelah dan menjadi sangat meresahkan.

Saya sebagai Kepala Perwakilan Wilayah Soloraya yang setiap hari bertemu dengan berbagai warna-warni wartawan di lapangan, harus jujur mengatakan: hari ini profesi wartawan terbagi menjadi tiga.

Desain tanpa judul 20261025 121837 0000

Pertama: Jurnalis Berjiwa Pengemis.

Ini yang paling banyak kita temui. Hari ini menjadi wartawan terasa terlalu murah. Cukup punya satu nama media online yang bahkan tidak jelas kantornya di mana, tidak jelas kapan update beritanya, cukup cetak kartu pers dan pakai rompi, maka seseorang sudah bisa mengaku wartawan. Tidak perlu paham Kode Etik Jurnalistik. Yang mereka pahami hanya satu: tatanan pemberian. Mereka ngamen dari dinas ke dinas, desa ke desa,dari proyek ke proyek. Datang bukan untuk konfirmasi, tapi untuk menagih. Kalau diberi, diam. Kalau tidak diberi, mengancam. Targetnya bukan kebenaran, tapi uang receh.

Kedua: Jurnalis Penjilat. Omongannya Beda di Sana Beda di Sini. Jual Omongan Tanpa Karya.*

Ini yang paling merusak.

Penjilat yang saya maksud bukan sekadar tukang puji. Penjilat itu adalah tukang jual omongan yang bermuka dua. Omongannya berbeda di sini berbeda di sana.

Di depan pejabat A, dia memuji A dan menjelekkan B. Di depan pejabat B, dia memuji B dan menjelekkan A. Di depan sesama wartawan, dia mengaku paling idealis. Di belakang, dia menjual teman seprofesinya sendiri demi mendapat muka.

Semua omongan dijual. Semua isu dijual.

Tapi kalau ditanya, mana hasil kerja nyatanya sebagai jurnalis? Mana tulisannya? Mana karya investigasinya? Tidak ada.

Karya nyata sebagai jurnalis atau penulis itu tidak ada. Tidak pernah ada berita yang lahir dari keringat liputan. Tidak pernah ada tulisan yang lahir dari riset data. Yang ada hanya menjual omongan, menjual bisikan, menjual rekaman, menjual ketakutan.

Dia mengaku wartawan, tapi kerjanya bukan menulis. Dia mengaku penulis, tapi tidak ada tulisan yang bisa dibaca publik. Dia hidup dari menjual omongan kesana-kemari, bukan dari menjual karya.

Inilah penjilat yang sesungguhnya. Lidahnya tidak bertulang, karyanya tidak ada.

Ketiga: Jurnalis Ora Waras yang Masih Waras. Dan Ini yang Hampir Punah.*

Di antara pengemis dan penjilat itu, masih ada segelintir jurnalis yang dianggap ora waras.

Ora waras karena berani menolak amplop di tengah kebutuhan dapur yang menipis. Ora waras karena berani menolak menjadi penjilat yang omongannya beda di sana beda di sini. Ora waras karena masih percaya bahwa satu berita jujur yang ditulis dengan keringat sendiri lebih berharga dari seribu omongan yang dijual.

Jurnalis jenis inilah yang hari ini justru dianggap meresahkan. Karena omongannya sama di sini dan di sana. Tulisannya sama dengan omongannya. Tidak bermuka dua. Tidak menjual omongan. Dia menjual karya.

Padahal, pemerintah yang waras seharusnya tidak takut pada jurnalis yang ora waras. Karena jurnalis yang ora waras di jalur yang waras tidak pernah menjual omongan. Dia menjual karya nyata.

Maka untuk teman-teman seprofesi yang masih bertahan, yang masih menulis meski tidak dibayar layak, yang masih liputan meski diteror, yang masih percaya pada kebenaran:

Tetaplah ora waras.

Tetaplah ora waras untuk tidak ikut menjadi pengemis yang ngamen dari meja ke meja.
Tetaplah ora waras untuk tidak ikut menjadi penjilat yang omongannya beda di sana beda di sini, yang menjual omongan tapi tidak punya karya nyata sebagai jurnalis.
Tetaplah ora waras untuk tetap menjadi wartawan yang menulis, bukan wartawan yang hanya menjual omongan.

Tapi tetaplah di jalur yang waras.

Waras yang tetap pakai etika. Tetap konfirmasi. Tetap punya karya nyata yang bisa dibaca publik, bukan cuma omongan yang dijual di belakang.

Karena di jaman yang warasnya sudah ora waras ini, hanya orang-orang ora waras yang masih waraslah yang bisa menyelamatkan kewarasan kita bersama.(Red)

 

Penulis adalah Kepala Perwakilan Wilayah Soloraya http://Metropaginews.com. Tulisan ini adalah catatan pribadi dan opini penulis.

Komentar Klik di Sini