KLATEN – METROPAGINEWS.COM || WCC Jetis, Polres Klaten, dan Pemdes Jetis gelar sosialisasi pencegahan kenakalan anak SD; acara ajarkan mengenali bullying dan siapkan program bela diri gratis bagi anak.Minggu ( 5/7/2026)
WOMEN CRISIS CENTER (WCC), Polres Klaten, dan Pemerintah Desa Jetis menggelar sosialisasi bersama dengan tema Pencegahan Kenakalan Anak SD. Kegiatan berlangsung di Balai Desa Jetis, Kecamatan Klaten Selatan, pada Sabtu (04/07/2026), dihadiri oleh puluhan anak usia SD beserta orang tua mereka.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Desa Jetis Mulyatno, S.H., Aiptu Prayogo (Kanit Tipsos Satbinmas Polres Klaten), Ketua WCC Jetis Farida, serta berbagai unsur masyarakat. Kegiatan ini menjadi bukti sinergi antara lembaga masyarakat, aparat keamanan, dan pemerintah desa dalam membangun perlindungan untuk anak dan perempuan. Masing-masing pihak memiliki peran khusus: Polres memberikan edukasi hukum, Pemerintah Desa menyediakan program bela diri, dan WCC menyiapkan layanan pendampingan.
Desa Jetis sendiri merupakan desa binaan Wahid Foundation melalui program WISE 4. Dari program inilah lahir lembaga WOMEN CRISIS CENTER sebagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender di tingkat desa.
Apa itu WCC dan Fungsinya
WOMEN CRISIS CENTER atau WCC adalah lembaga layanan yang dibentuk untuk memberikan pendampingan kepada perempuan dan anak yang mengalami kekerasan. Layanan yang diberikan meliputi pengaduan, konseling, pendampingan hukum, hingga rujukan ke layanan lain. Semua layanan di WCC Jetis diberikan secara gratis dan dijamin kerahasiaannya.
“Keberadaan WCC ini penting agar warga tidak bingung harus melapor ke mana ketika ada kekerasan. Di sini tempatnya aman. Kami siap mendampingi dari awal sampai tuntas,” ujar Ketua WCC Jetis, Farida.

Mengenal Bullying dan Dampaknya
Dalam sosialisasi, anak-anak diberikan pemahaman tentang apa itu bullying. Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang oleh seseorang atau kelompok yang memiliki kekuasaan lebih, untuk menyakiti orang lain secara fisik, verbal, maupun melalui media sosial atau cyber bullying.
Dampak bullying sangat berbahaya bagi anak. Secara psikis anak bisa mengalami trauma, minder, takut ke sekolah, hingga depresi. Secara fisik bisa menyebabkan luka. Jika dibiarkan, perilaku ini berpotensi melahirkan kenakalan lain yang lebih besar.
“Maraknya kasus bullying, baik di lingkungan sekitar maupun dari tontonan di media sosial, menjadi momok menakutkan bagi orang tua. Untuk mencegahnya perlu perhatian dan pemahaman sejak usia dini,” ujar Aiptu Prayogo.

Pemerintah Desa Jetis bersama stakeholder mengundang anak-anak usia SD untuk terlibat langsung dalam sosialisasi. Mereka diajak mengenali bentuk bullying dan berani melapor jika menjadi korban atau melihat temannya dibully. Ketertiban anak-anak yang langsung dilibatkan menjadi poin plus di mata Aiptu Prayogo.
“Anak-anak merupakan generasi emas. Secara tanpa kita sadari, bullying ada di sekitar mereka. Di sinilah yang harus dipahami oleh masyarakat dan harus kita dukung agar mereka bisa mencapai cita-cita,” kata Aiptu Prayogo.
Meski laporan kenakalan anak SD di wilayah Klaten saat ini masih nihil, Polres tidak ingin lengah. Aiptu Prayogo menyebut, dulu pernah ada kasus di Delanggu yang melibatkan siswa SD dan sudah diselesaikan melalui restorative justice.
“Agar tidak terjadi hal yang nantinya di luar batas, makanya Polres secara rutin menggelar sosialisasi kenakalan anak-anak dan bullying,” ujarnya.
Program Bela Diri Gratis dan Peran Keluarga pembentukan karakter
Selain sosialisasi, Pemerintah Desa Jetis juga menyiapkan program pelatihan bela diri gratis untuk anak-anak dalam pembentukan karakter.Kepala Desa Jetis, Mulyatno, S.H., menekankan pentingnya peran rumah dan seorang ibu sebagai benteng pertama.
“Kami gratiskan pelatihan bela diri agar anak punya bekal melindungi diri. Tapi sekuat apapun anak di luar, kalau di rumah tidak ada perhatian, percuma. Ibu adalah benteng pertama. Buatlah anak nyaman di rumah, jangan sampai mereka mencari kenyamanan di luar,” tegas Mulyatno.
Dengan sinergi antara WCC, Polres, dan Pemerintah Desa, Jetis berupaya membangun ekosistem perlindungan berlapis agar anak-anak tumbuh aman, baik di sekolah maupun di rumah.Sinergi antara berbagai pihak dalam menyelenggarakan sosialisasi ini menjadi contoh baik dalam membangun perlindungan bagi anak-anak. Semoga program ini terus berlanjut dan menjadikan Desa Jetis sebagai contoh wilayah yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.
( Desi )


Komentar Klik di Sini