BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM || Keberadaan masyarakat Bali di Bumi Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, memiliki perjalanan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan dinamika Kerajaan Blambangan pada abad ke-18. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan, kedatangan orang-orang Bali ke wilayah ini tidak terlepas dari keterlibatan prajurit Kerajaan Mengwi dalam Perang Wilis pada 1764 hingga peristiwa Perang Puputan Bayu pada 1771.
Dalam sebuah pertemuan di kediamannya, Made Widodo, yang akrab disapa Mbah Dowo, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan Explore Heritage Djawa Dwipa Blambangan yang terus berupaya menggali, mendokumentasikan, dan melestarikan warisan sejarah serta cagar budaya di Banyuwangi.
Menurut Mbah Dowo, salah satu jejak penting keberadaan masyarakat Bali di Blambangan bermula ketika Kerajaan Mengwi di Bali mengirimkan bantuan prajurit untuk membantu perjuangan di wilayah Blambangan saat berlangsungnya Perang Wilis pada 1764.
Pengiriman bantuan tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari hubungan kekerabatan antara Kerajaan Mengwi dan Blambangan.
“Pada masa Perang Wilis, Kerajaan Mengwi mengirimkan tiga orang utusan atau tokoh prajurit untuk membantu Blambangan. Dari peristiwa inilah kemudian muncul jejak awal keberadaan masyarakat Bali di Bumi Blambangan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, keterlibatan prajurit Mengwi tersebut memiliki keterkaitan dengan rangkaian peristiwa sejarah hingga pecahnya Perang Puputan Bayu pada 1771. Setelah Blambangan jatuh ke tangan VOC, sebagian prajurit Mengwi kembali ke Bali, sedangkan sebagian lainnya memilih menetap di wilayah Blambangan.
“Perjalanan sejarahnya cukup panjang. Setelah Perang Puputan Bayu dan Blambangan jatuh ke tangan VOC, sebagian prajurit Mengwi kembali ke Bali. Namun, ada juga yang tetap tinggal dan kemudian membangun kehidupan di Blambangan,” jelasnya.
Kampung Bali menjadi jejak awal permukiman
Mbah Dowo menyebutkan, salah satu lokasi awal permukiman masyarakat Bali berada di Kampung Bali, kawasan Tukangkayu, yang saat ini masuk wilayah Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi.
Pada masa itu, para prajurit Bali dikenal dengan sebutan Singo Bali. Seiring berjalannya waktu, mereka membangun kehidupan, berkeluarga, dan memiliki keturunan di wilayah tersebut.
Keberadaan masyarakat Bali juga ditandai dengan berdirinya Pura Kampung Bali yang disebut sebagai salah satu pura pertama di Bumi Blambangan.
Memasuki 1819, sebagian masyarakat Bali mulai terlibat dalam kegiatan pembukaan lahan perkebunan yang dilakukan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Lahan tersebut dipersiapkan untuk perkebunan tebu, mulai dari wilayah Kabat hingga Banyu Alit, yang kini termasuk Desa Patoman.
“Dari kegiatan membuka lahan dan membangun permukiman itulah masyarakat mulai berkembang. Pada masa itu, terdapat sejumlah kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang, seperti Bali, Madura, Using, dan Jawa,” tuturnya.
Menurutnya, kawasan Banyu Alit kemudian berkembang menjadi permukiman yang semakin ramai. Sebuah patok wilayah yang dipasang pada masa itu disebut menjadi salah satu asal-usul penamaan Patoman.
Pura Patoman berdiri pada 1839
Perkembangan masyarakat Bali di kawasan tersebut selanjutnya ditandai dengan berdirinya pura kedua di wilayah Patoman pada 1839.
Pembangunan pura itu dilatarbelakangi kebutuhan masyarakat untuk memiliki tempat ibadah yang lebih dekat. Pasalnya, jarak antara Patoman dan Pura Kampung Bali cukup jauh sehingga menyulitkan masyarakat ketika hendak melaksanakan kegiatan dan upacara keagamaan.
“Dengan adanya kesepakatan bersama, akhirnya dibangun pura di Patoman. Hal ini untuk memudahkan masyarakat dalam menjalankan kegiatan keagamaan karena jarak menuju Pura Kampung Bali cukup jauh,” ungkap Mbah Dowo.
Kini, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, menjadi salah satu kawasan yang memperlihatkan perkembangan kehidupan masyarakat dengan latar belakang etnis dan budaya yang beragam.
Jejak perjalanan masyarakat Bali di Banyuwangi tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan sejarah Bumi Blambangan. Perpaduan masyarakat Bali, Using, Jawa, Madura, dan berbagai kelompok lainnya menunjukkan bahwa keberagaman telah tumbuh melalui proses sejarah yang panjang.
Pelestarian jejak sejarah tersebut diharapkan tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda untuk memahami asal-usul, menghargai keberagaman, serta menjaga warisan budaya yang telah berkembang di Banyuwangi.
(Tyo)



Komentar Klik di Sini