BerandaSejarahCandi Purwo Gumuk Gadung: Jejak Sejarah di Tengah Hutan, Sampah dan Ancaman...

Candi Purwo Gumuk Gadung: Jejak Sejarah di Tengah Hutan, Sampah dan Ancaman Abrasi

BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM || Lebih dari 25 tahun Candi Purwo Gumuk Gadung berdiri di kawasan hutan BKPH Perhutani Wilayah Selatan, Dusun Pondokasem, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.

 

Di tengah rimbunnya pepohonan, kawasan mangrove dan tanaman endemik Klampis Ireng, keberadaan bangunan tersebut menjadi bagian dari lanskap yang menyimpan jejak masa lalu. Namun, di balik nilai sejarah dan lingkungan yang dimilikinya, kawasan ini masih menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian serius.

20260922 182657 0000

Pantauan MetropagiNews.com saat menyusuri akses menuju Candi Purwo Gumuk Gadung, Senin (21/9/2026), menunjukkan sejumlah bagian jalan menuju lokasi telah tertata. Pepohonan jati serta berbagai tanaman di kawasan tersebut memberikan suasana alami yang masih cukup terjaga.

Namun, sekitar 200 meter dari permukiman warga, tepatnya di dekat saluran air kawasan BKPH Blambangan Perhutani Selatan, ditemukan tumpukan karung berisi limbah yang diduga dibuang secara sembarangan.

Kondisi tersebut menimbulkan bau tidak sedap dan menjadi kontras dengan upaya menjaga kawasan yang memiliki potensi nilai sejarah dan lingkungan.

Pertanyaannya, siapa yang harus memastikan kawasan seperti ini tetap bersih dan terawat?

Persoalan sampah bukan sekadar menyangkut estetika. Jika dibiarkan, limbah yang berada di sekitar saluran air berpotensi mengganggu aliran air dan kualitas lingkungan, terlebih ketika memasuki musim penghujan.

“Kami sangat prihatin masih ada yang membuang sampah sembarangan di tempat itu. Mestinya kawasan seperti ini dilestarikan agar terlihat bersih, nyaman dan indah. Jangan justru dijadikan tempat pembuangan sampah,” ungkap Budy saat berada di lokasi.

Abrasi Jadi Ancaman Berikutnya

Persoalan lingkungan tidak berhenti pada sampah.

Akses menuju Candi Purwo Gumuk Gadung disebut telah beberapa kali mengalami perbaikan akibat abrasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini juga menghadapi persoalan ekologis yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Pembenahan tidak cukup hanya dilakukan terhadap badan jalan. Sistem tata air, vegetasi penyangga dan kawasan mangrove juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Reboisasi dengan tanaman yang sesuai karakter lingkungan, penataan saluran sirkulasi air dan penguatan vegetasi penahan abrasi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan.

Apalagi saat musim penghujan, meningkatnya debit air berpotensi menyebabkan genangan hingga merendam akses jalan. Aliran air yang tidak terkendali juga dapat kembali menggerus bagian jalan yang sebelumnya telah diperbaiki.

Karena itu, penanganan kawasan membutuhkan koordinasi antara pihak pengelola kawasan, pemerintah, masyarakat serta pemerhati lingkungan dan sejarah.

Situs Pondokasem dan Jejak Peradaban

Candi Purwo Gumuk Gadung telah dikenal selama lebih dari 25 tahun. Namun, penelitian terhadap kawasan tersebut baru dilakukan kemudian.

Sejumlah temuan berupa benda atau serpihan gerabah disebut menjadi salah satu indikasi adanya aktivitas manusia pada masa lalu. Kawasan tersebut kemudian dikaitkan dengan Situs Pondokasem yang dinilai memiliki potensi untuk dikaji lebih jauh dalam perspektif sejarah dan arkeologi.

Temuan tersebut tentu membutuhkan penelitian dan dokumentasi yang lebih mendalam agar sejarah kawasan tidak hanya berkembang sebagai cerita masyarakat, tetapi memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah pentingnya penelitian terhadap tinggalan budaya.

Jika memang terdapat bukti arkeologis yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat masa lalu, keberadaannya bukan sekadar benda lama yang berada di tengah hutan. Ia dapat menjadi bagian dari rekonstruksi perjalanan peradaban di kawasan Blambangan.

Namun, untuk memastikan hubungan antara Candi Purwo, Situs Pondokasem dan sejarah Kerajaan Blambangan, diperlukan kajian dari pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi di bidang arkeologi serta pelestarian cagar budaya.

Jangan Sampai Sejarah Kalah oleh Sampah

Founder Djawa Dwipa Blambangan, Prasetyo, menilai pelestarian kawasan bersejarah dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

“Kesemuanya ini dalam pelestarian cagar budaya dan cagar alam merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama untuk di-uri-uri karena merupakan warisan leluhur (heritage),” ungkap Prasetyo.

Pernyataan tersebut menjadi penting ketika kawasan yang memiliki nilai sejarah masih dihadapkan pada persoalan sampah dan ancaman abrasi.

Pelestarian tidak cukup hanya dengan mempertahankan bangunan. Lingkungan di sekitarnya juga harus dijaga agar nilai sejarah yang ada tidak kehilangan konteksnya.

Candi Purwo Gumuk Gadung membutuhkan lebih dari sekadar perhatian sesaat. Penelitian, pendataan, penataan lingkungan, pengendalian sampah, perlindungan vegetasi dan penanganan abrasi perlu berjalan beriringan.

Di tengah hutan Tegaldlimo, sebuah pertanyaan penting kini muncul: apakah jejak sejarah ini akan dirawat sebagai warisan untuk generasi mendatang, atau perlahan tergerus oleh persoalan lingkungan yang tidak segera ditangani?

Jawabannya tentu membutuhkan kerja bersama dan langkah nyata dari para pemangku kepentingan.

(Tyo)

Komentar Klik di Sini