BerandaPendidikanMbah Dragon Menjelajah dan Melayani, Gospel Magic Satukan Tiga Gereja di Jepara

Mbah Dragon Menjelajah dan Melayani, Gospel Magic Satukan Tiga Gereja di Jepara

JEPARA – METROPAGINEWS.COM || Menutup rangkaian lawatan selama empat hari di Jepara, Jawa Tengah, Herry Budijanto Dragono, yang akrab disapa Mbah Dragon, membagikan ilmu Gospel Magic kepada guru-guru Sekolah Minggu dari tiga gereja di Jepara dan sekitarnya pada Minggu 11 Oktober 2026. 

 

Pelayanan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan metode kreatif dalam menyampaikan Firman Tuhan kepada anak-anak melalui perpaduan trik sulap dan pesan Alkitab.

 

Kegiatan yang dipusatkan di Gereja Bethel Tabernakel Allah Itu Kasih (GBT Alika) tersebut diikuti sembilan peserta. Mereka terdiri dari dua guru Sekolah Minggu dari Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) Margokerto, satu peserta dari GPdI, serta enam peserta dari GBT Alika.

 

Acara dimulai pukul 12.30 dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pendeta Sonny, selaku gembala sidang GBT Alika. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan singkat mengenai biografi Mbah Dragon dan perjalanan pelayanannya hingga memilih Gospel Magic sebagai sarana untuk memberitakan Injil.

 

Dalam sesi berbagi tersebut, Mbah Dragon tidak hanya memperkenalkan berbagai teknik sulap, tetapi juga menjelaskan bagaimana setiap peragaan dapat dikaitkan dengan pesan-pesan Alkitab sehingga lebih mudah dipahami oleh anak-anak Sekolah Minggu.

 

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelayanan ini adalah komitmen Mbah Dragon membagikan alat peraga Gospel Magic secara gratis kepada setiap peserta. Dalam kegiatan di Jepara, ia mengajarkan 12 trik sekaligus memberikan alat peraga yang dapat langsung dimanfaatkan peserta dalam pelayanan di gereja masing-masing.

 

Mbah Dragon menyebut dirinya saat ini masih menjadi satu-satunya pelayan di Indonesia yang mengajarkan Gospel Magic kepada guru-guru Sekolah Minggu sekaligus menyediakan alat-alat peraganya secara cuma-cuma bagi peserta yang hadir.

 

Salah satu bagian menarik dalam kegiatan tersebut adalah peluncuran alat peraga terbaru bernama CHRIST BOX. Alat ini digunakan untuk menyampaikan pesan Firman Tuhan dalam Matius 11:28:

 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

 

Pesan tersebut diperagakan menggunakan kartu sepuluh hati yang dirobek menjadi beberapa bagian kecil, kemudian dimasukkan ke dalam CHRIST BOX. Ketika kotak dibuka kembali, kartu yang sebelumnya telah terpecah-pecah itu terlihat utuh kembali.

 

Peragaan ini menjadi ilustrasi tentang pemulihan dan kelegaan yang ditawarkan Tuhan kepada setiap orang yang datang kepada-Nya dengan membawa beban kehidupan.

 

Melalui alat peraga tersebut, guru Sekolah Minggu dapat menyampaikan pesan rohani bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman visual yang menarik perhatian anak-anak. Dengan demikian, anak-anak diharapkan lebih mudah menangkap makna Firman Tuhan yang diajarkan.

 

Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembelajaran. Mereka menyambut baik metode yang diperkenalkan Mbah Dragon karena dinilai memberikan pendekatan baru dalam pelayanan anak.

 

Mereka juga merespons positif pembagian alat peraga secara gratis. Menurut para peserta, Gospel Magic dapat menjadi sarana yang bermanfaat untuk menjelaskan Firman Tuhan secara sederhana, kreatif, dan menyenangkan sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

 

Dalam pelatihan tersebut, 12 trik Gospel Magic yang diajarkan membawa beragam pesan Alkitab, mulai dari kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, turunnya Roh Kudus dan buah-buah Roh, hingga peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga.

 

Setiap trik dirancang untuk membantu guru menyampaikan pesan iman melalui peragaan yang mengundang perhatian. Pendekatan ini memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar melalui penglihatan, rasa ingin tahu, dan interaksi selama kegiatan Sekolah Minggu.

 

Dari sejumlah trik yang diperkenalkan, Gospel Magic Book menjadi salah satu yang paling disukai peserta. Trik tersebut menarik perhatian karena dapat dikembangkan sebagai media kreatif untuk mengantar anak-anak memahami cerita dan nilai-nilai Alkitab.

 

Antusiasme peserta membuat kegiatan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Acara yang dimulai pukul 12.30 itu terasa berjalan begitu cepat. Ibu Vivi, yang semula harus memberikan les kepada siswa pada pukul 16.00, ternyata baru menyadari waktu telah menunjukkan pukul 16.30 sehingga harus segera berpamitan.

 

Meski demikian, kegiatan tetap dilanjutkan hingga pukul 16.45 dengan peragaan terakhir yang meninggalkan pesan rohani mendalam bagi para peserta.

 

Sebagai penutup pembelajaran, Mbah Dragon memperagakan trik tali dipotong dan kemudian tersambung kembali. Peragaan sederhana ini menjadi simbol hubungan manusia dengan Allah Bapa yang terputus akibat kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa.

 

Namun, melalui kasih karunia Allah yang memberikan Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia di kayu salib, hubungan tersebut dapat dipulihkan.

 

Pesan itu ditegaskan melalui firman Tuhan dalam Yohanes 14:6:

 

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

 

Melalui trik tersebut, Mbah Dragon mengajak peserta memahami bahwa Yesus Kristus merupakan jalan bagi manusia untuk kembali kepada Bapa. Tali yang kembali tersambung menjadi gambaran pemulihan hubungan yang sebelumnya terputus.

 

Peragaan itu juga memiliki makna tentang kebersamaan. Waktu pelayanan di Jepara memang harus berakhir, tetapi persaudaraan yang telah terjalin diharapkan tetap terpelihara.

 

Sebagaimana tali yang tersambung kembali, demikian pula hubungan antarpelayan Tuhan diharapkan terus terikat dalam kasih, iman, dan semangat melayani.

 

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ibu Pendeta Eden. Pada kesempatan itu, ia juga menyerahkan kenang-kenangan kepada Mbah Dragon sebagai ungkapan persaudaraan dan apresiasi atas pelayanan yang telah dibagikan kepada para guru Sekolah Minggu.

 

Suasana keakraban semakin terasa ketika Mbah Dragon mendapat undangan agar kembali berkunjung ke Jepara pada kesempatan mendatang. Ia juga dipersilakan singgah dan ikut beribadah bersama apabila berada di Jepara pada hari Minggu.

 

Bagi para peserta, pertemuan tersebut bukan sekadar pelatihan sulap, melainkan kesempatan memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam pelayanan gereja. Pembelajaran dan alat peraga yang diberikan secara gratis diharapkan menjadi bekal untuk memperkaya metode pengajaran Sekolah Minggu di masing-masing gereja.

 

Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, berakhir pula lawatan Mbah Dragon selama empat hari di Jepara. Selama berada di kota itu, ia ditampung oleh Ibu Notaris Deby di Kostel 77 miliknya.

 

Lawatan ini memperlihatkan bahwa pelayanan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif. Gospel Magic menjadi salah satu sarana untuk menjembatani pesan Alkitab dengan dunia anak-anak, tanpa meninggalkan inti pengajaran Firman Tuhan.

 

Pendeta Eden merasa sangat terberkati dengan kehadiran Mbah Dragon di Jepara atas Skills Gospel Magic yang diajarkan.

 

Mbah Dragon berharap apa yang telah dibagikan dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh para guru Sekolah Minggu, sehingga semakin banyak anak mengenal kisah-kisah Alkitab dan memahami nilai-nilai iman Kristen melalui cara yang menarik.

 

Kiranya pelayanan Gospel Magic di Jepara menjadi berkat bagi para guru Sekolah Minggu, gereja-gereja yang terlibat, serta anak-anak yang menjadi sasaran pelayanan mereka.

 

Mbah Dragon Menjelajah, Melayani, Menginspirasi.

 

 

Komentar Klik di Sini