SURAKARTA – METROPAGINEWS.COM || Mengenal lebih dekat Njeng Sunan Majelis Dzikir Sholawat Macapat di Pesanggrahan Langenharjo Solo Baru. Generasi muda justru semakin cinta budaya Jawa. Rutin Rabu Kliwon malam Kamis Legi. Tanpa syarat, langsung rawuh.Senin (14/9)
Bersama Siaran Langsung RRI Pro 1 FM Surakarta Kanal Informasi dan Inspirasi dalam segmen “Obrolan Komunitas”, dengan pembawa acara Rifki Minov, pembahasan tentang Njeng Sunan semakin mendalam dan utuh. Selama ini banyak yang penasaran: apa sebenarnya komunitas ini? Bagaimana terbentuknya? Di mana lokasinya? Kapan jadwalnya? Dan apakah nilai-nilai luhur masa lalu masih relevan di tengah kehidupan modern terutama di mata generasi muda? Bersama narasumber KRHT Drs Juhi Ranardjo atau biasa di panggil Kanjeng Mufti dan Romo Kyai Hartoto Kusni Oryawoy Setyarga perancang grafis desain PT Solo Murni dan penulis buku serta Kanjeng Drs. Mufti Ranarjho pemerhati budaya Jawa dan spiritualisme, seluk-beluk Njeng Sunan akhirnya terjawab secara lengkap dan terbuka.
Apakah budaya dan nilai-nilai luhur masa lalu masih punya tempat di kehidupan kita hari ini? Jawabannya tentu bukan sekadar “masih ada”, melainkan bagaimana kita mampu mengenal, memahami, dan menghidupkannya kembali dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Njeng Sunan? Religi, Budaya, Nasionalis
Njeng Sunan lengkapnya adalah Majelis Dzikir Sholawat Macapat Njeng Sunan. Sebuah komunitas yang bergerak di tiga pilar utama: Religius, Budaya, dan Nasionalis.
“Komunitas ini didirikan untuk nguri-uri melestarikan, bukan sekadar menyimpan tetapi juga melakukan pengayakan dan transformasi: bagaimana nilai masa lalu ditransformasikan ke masa kini dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Kanjeng Mufti.
Kyai Romo Hartoto menjelaskan Visi dan misi Njeng Sunan diletakkan pada urutan: Religi dulu, baru Budaya, lalu Nasionalis. Mengapa religi di awal? “Agar setiap anggota menjadi pribadi yang religius. Jika spiritualitasnya baik, maka ketika diaktualisasikan dalam berbudaya, nilainya akan bermakna mendalam. Kita bertolak pada budaya Jawa, lalu dikolaborasikan dengan Islam , Islam yang sudah mengakar di masyarakat Jawa, lewat dzikir, sholawat, dan macapat,”paparnya
Di balik nama Njeng Sunan pun tersimpan inspirasi dari perjuangan para Wali Songo yang bersiar di tanah Jawa percampuran budaya, spiritualitas, sejarah, dan keagamaan yang hidup berdampingan. Komunitas ini juga merangkul semua tanpa sekat: Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Kapitayan, dan Islam hidup bersatu dalam semangat Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, sebagaimana digariskan Mpu Tantular.

Seni Gerak & Warisan Nusantara yang Sarat Makna Tari Manembromo, Tari Sufi, hingga Reog
Di setiap even Njeng Sunan, seni budaya menjadi bagian tak terpisahkan bukan sekadar tontonan, melainkan dzikir dalam gerak, doa dalam wujud, dan penghormatan terhadap kekayaan budaya Nusantara. Tiga bentuk seni yang selalu hadir dan penuh makna adalah:
Tari Manembromo
Dibawakan oleh lima penari, tarian ini memadukan seni gerak yang menggambarkan unsur-unsur alam dan unsur diri manusia. Lima penari melambangkan Dulur Papat Lima Pancer empat saudara dan satu pusat, filosofi Jawa yang mengajarkan bahwa manusia hidup dikelilingi kekuatan namun tetap kembali pada satu titik pusat: diri sendiri dan Sang Pencipta. Setiap gerakannya bukan sekadar keindahan, melainkan perenungan tentang hubungan manusia dengan alam semesta dan jati dirinya.
Tari Sufi Dzikir dalam Gerak
Tarian ini menggambarkan dzikir melalui gerak. Penari berputar dan bergerak ke segala arah sebagai simbol bahwa Sang Pencipta tidak berada di satu arah saja, namun di mana-mana Esa, satu dan tak terpisahkan. Filosofi yang mendalam: bahwa Tuhan tidak terbatas ruang dan waktu, hadir di setiap arah, di setiap detak jantung, di setiap gerak kehidupan. Tarian ini menjadi perwujudan tasawuf pencarian hakikat diri menuju keesaan-Nya.
Reog Kebanggaan & Kekuatan Budaya Nusantara
Tak ketinggalan, seni Reog juga turut serta mewarnai setiap kegiatan Njeng Sunan. Kemegahan dan kekuatan Reog bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kebanggaan, semangat, dan ketangguhan budaya Nusantara yang tak lekang oleh zaman. Reog hadir sebagai pengingat bahwa kekayaan seni leluhur kita sangat beragam, luar biasa, dan patut dijaga bersama dari ujung barat hingga timur, satu Indonesia dalam keragaman budaya.
Ketiga seni ini membuktikan bahwa di Njeng Sunan, seni dan spiritualitas menyatu keindahan bukan sekadar untuk mata, melainkan untuk membuka hati dan jiwa, serta merawat keberagaman warisan bangsa.
Generasi Muda & Budaya Jawa Bukan Menjauh, Justru Merindukan
Beralih ke budaya di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup generasi muda, Kanjeng Mufti menyampaikan pengalaman bersama Romo Kyai Hartoto yang justru mematahkan kekhawatiran banyak pihak:
“Banyak yang khawatir generasi muda semakin menjauh dari nilai-nilai luhur budaya bangsa. Ternyata itu salah besar. Anak-anak muda sekarang justru semakin cinta, semakin ingin tahu rasa ingin tahunya luar biasa, keterlibatannya, keinginan bergabungnya sangat besar.”
Nilai-nilai luhur yang digariskan Mpu Tantular Bhineka Tunggal Ika ternyata tidak hanya lintas keyakinan dan etnis, tetapi juga lintas usia. Di Njeng Sunan, anak muda justru semakin tertarik ketika nilai-nilai masa lalu disampaikan, ditransformasikan, dan disesuaikan dengan masa kini.
“Semakin mereka ikut, semakin menyaksikan, semakin terlibat ternyata muncul passion spiritual, kebatinan yang sangat kuat. Kalau bahasa sekarang: mengena sekali! Di dalam jiwa generasi muda itu sebenarnya ada kerinduan besar terhadap spiritualitas, religiositas, dan kearifan lokal,” ungkap Kanjeng Mufti.
Njeng Sunan yang dipimpin Romo Kyai memang berkomitmen mentransformasikan nilai masa lalu untuk masa kini dan masa depan termasuk bagi generasi muda. Bukan budaya yang kaku dan kuno, melainkan nilai yang hidup, relevan, dan menyentuh jiwa.
“Kapan & Di Mana? Pesanggrahan Langenharjo, Setiap Rabu Kliwon Malam Kamis Legi.”
Bagi siapapun yang ingin ikut kegiatan rutin, lokasi dan jadwalnya sudah jelas dan terbuka untuk siapa saja termasuk generasi muda:
“Pesanggrahan Langenharjo sebelah selatan Solo Baru
Jadwal rutin: Setiap bulan pada Rabu Kliwon malam Kamis Legi
Acara berlangsung sekaligus peringatan PB 9 dan PB 10.”
Suasana kegiatan Njeng Sunan sangat sangat khas dan penuh kedamaian. “Kami siapkan ratusan lilin, semua lampu dimatikan suasana menjadi hening dan khusyuk. Dipimpin Romo Kyai, berlangsung zikir dan doa yang berkesinambungan konsisten, istiqomah, tanpa henti,” ungkap Kanjeng Mufti.
Di penutup acara, seluruh peserta berdiri dan menyanyikan Indonesia Pusaka. Sebuah penutup yang menyatukan spiritualitas, budaya, dan nasionalisme dalam satu napas.
Olah Rasa, Olah Jiwa Nilai Luhur Jawa Tetap Relevan
Ketika ditanya tentang relevansi nilai-nilai budaya Jawa seperti unggah-ungguh, tata krama, tepos liro, gotong royong di tengah masyarakat modern, Romo Kyai Hartoto menjelaskan makna mendalam yang menjadi inti Njeng Sunan:
“Kalau olah raga itu fisik, olah rasa dan olah jiwa itu kebatinan. Di Njeng Sunan, kami justru melengkapi kebutuhan hidup manusia bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan rohani, kebutuhan batin, kebutuhan jiwa.”
Nilai-nilai luhur itu sangat relevan, justru semakin dibutuhkan di tengah kehidupan yang serba cepat dan seringkali melupakan akar. Unggah-ungguh bukan sekadar tata krama lama, melainkan dasar menghargai sesama. Tepos liro bukan sekadar sopan santun, melainkan fondasi kerukunan di tengah perbedaan. Gotong royong bukan sekadar bekerja sama, melainkan semangat berbagi beban yang semakin langka namun semakin dibutuhkan.
Tanpa Syarat, Tanpa Pendaftaran Langsung Rawuh Saja!
Pertanyaan yang paling banyak ditanyakan: bagaimana cara bergabung? Jawabannya sungguh luar biasa sederhana:
“Tidak menerima pendaftaran, tidak menolak siapapun, tidak ada syarat. Langsung rawuh bahkan disuguhi.”
Prinsip Njeng Sunan sangat mendalam: tidak mencari nama, tidak mencari panggung, tidak mencari pamor, apalagi mencari bayaran. Komitmen komunitas ini murni: berdoa untuk NKRI, saling menghargai satu sama lain tepos liro, saling menghormati. Sangat inklusif, siapapun dari kalangan manapun, berapapun usianya, boleh datang.
“Kalau suatu hari bosan dan tidak ikut lagi, tidak apa-apa. Tidak ada keterpaksaan sama sekali. Kami sangat egaliter, sangat menghargai kenyamanan setiap orang,” tegas Kanjeng Mufti.
Njeng Sunan bukan sekadar majelis zikir atau perkumpulan budaya. Ia adalah ruang untuk olah rasa, olah batin, olah jiwa tempat manusia kembali mengenal kedalaman dirinya dan akar budayanya. Melalui dzikir, macapat, tarian yang penuh filosofi seperti Tari Manembromo dan Tari Sufi serta kemegahan Reog yang turut mewarnai setiap even, Njeng Sunan mengajarkan bahwa seni dan spiritualitas tak terpisahkan, dan kekayaan budaya Nusantara adalah satu. Di tengah zaman yang terus berubah, Njeng Sunan berdiri tegak: merawat warisan leluhur, merangkul generasi muda tanpa sekat, dan membuktikan bahwa nilai luhur masa lalu justru menjadi cahaya yang paling dibutuhkan masa kini.Njeng Sunan teruslah menjadi mercusuar kedamaian dan kebersamaan.
( Desi )



Komentar Klik di Sini