BerandaBudayaNjeng Sunan "The Power Of Javanese Prayer And Dzikir" Dalam Tasyakuran Pembuatan...

Njeng Sunan “The Power Of Javanese Prayer And Dzikir” Dalam Tasyakuran Pembuatan Keris Kyai Kertasura

SURAKARTA — METROPAGINEWS.COM ||Tasyakuran selesainya keris Kyai Kertasura di Keraton Surakarta dibuat Empu Braja Lawu dari 5 unsur alam, meteor, dan air hujan. Njeng Sunan pimpin doa Umbul Dungo konsep Nusantara. Kusumo: jadikan contoh pelestarian budaya. Indonesia Raya buka acara.Rabu (9/9)

 

Sabtu, 5 September 2026 menjadi hari bersejarah bagi Keraton Surakarta. Pada hari yang penuh berkah dan keagungan budaya ini, digelar tasyakuran selesainya pembuatan keris pusaka yang diberi nama Kyai Kertasura. Keris ini bukan sekadar benda tajam karya tangan empu, melainkan wujud nyata doa, harapan, dan kearifan leluhur yang dipadukan dalam satu karya agung.

20260909 073945 0000

Keris Kyai Kertasura ditempa dan dirajut oleh tangan dingin Empu Braja Lawu. Di balik keindahan dan ketangguhan keris ini, tersimpan makna yang sangat dalam. Selain sebagai simbol kemakmuran budi, sosok juru kunci yang memahami seluk-beluk Keraton Surakarta menyebutkan bahwa keris ini sejatinya adalah investasi dari doa masyarakat Surakarta yang diwujudkan dalam bentuk keris.

Lima Unsur Alam dan Kuasa Langit Menyatu dalam Bilah Kyai Kertasura

Keris Kyai Kertasura tercipta dari perpaduan lima unsur alam yang menyatu secara harmonis: besi, perak, emas, perunggu, dan tembaga. Pamor yang memancar di bilah keris ini pun diambil dari bahan yang sarat makna beras wutah dan dalmas. Namun keagungannya tidak berhenti di situ. Ke dalam bilah keris ini juga dimasukkan unsur dari langit berupa meteor, serta disatukan dengan air hujan sehingga tercipta kesatuan antara kekuatan bumi dan langit, antara materi dan spiritual.

20260909 074529 0000

Rangkaian Acara Penuh Kebersamaan dan Penghormatan

Tasyakuran pembuatan Kyai Kertasura berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Malikasura, Marsudi Widodo, S.Pd., dilanjutkan sambutan dari perwakilan Forum Budaya Mataram, Kusumo.

Momen sakral berlanjut pada prosesi serah-terima keris dari Empu Braja Lawu kepada Juru Kunci Keraton Surakarta, lalu diserahkan kepada panitia pembuat keris sebagai tanda tanggung jawab telah berpindah untuk dijaga dan dihormati.

Kusumo selaku budayawan yang juga memiliki koleksi sekitar 227 keris, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Semoga kegiatan ini menjadi contoh bagi desa-desa lain, agar kita senantiasa mencintai dan melestarikan peninggalan para leluhur,” harap Kusumo.

Njeng Sunan: Doa dan Dzikir Nusantara yang Menyatukan Semua Elemen

Puncak keagungan tasyakuran ini hadir ketika Njeng Sunan dipimpin Kyai Hartoto Husnin sebagai pemimpin doa bersama. Dalam tradisi Umbul Dungo, Njeng Sunan mengajak seluruh elemen masyarakat yang hadir tanpa memandang perbedaan untuk bersatu memanjatkan doa, berdzikir, dan bersholawat dengan penuh khidmat.

Umbul Dungo sendiri mengusung konsep jiwa Nusantara yang mengakui keberagaman namun menyatu dalam doa. Njeng Sunan telah diundang ke berbagai tempat untuk memimpin doa bersama, mulai dari ruwat bumi hingga acara kenegaraan, karena konsepnya yang mempersatukan semua golongan dalam satu semangat kebangsaan dan spiritualitas.

Acara di Keraton Surakarta ini menjadi kehormatan tersendiri bagi Njeng Sunan Umbul Dungo. Ia tidak hanya menjunjung tinggi nilai spiritual, tetapi juga rasa nasionalisme dan cinta budaya. Setiap kali Umbul Dungo digelar, konsep yang dihadirkan selalu berbeda dan khas — itulah daya tariknya. Tidak hanya doa-doa yang dipanjatkan, tetapi kesenian dan tarian juga diwujudkan untuk melengkapi keindahan acara.

Indonesia Raya, Simbol Persatuan di Tengah Kebudayaan

Sebelum masuk ke rangkaian doa bersama, suasana haru dan bangsa menyelimuti seluruh hadirin ketika Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Sebuah pengingat indah: di tengah keragaman budaya dan keyakinan, kita tetap satu bangsa, satu tanah air.

Acara kemudian dilanjutkan dengan doa, bersholawat, dan berdzikir bersama dalam Umbul Dungo yang dipimpin oleh Kyai Hartoto Kusnin.

Keris Kyai Kertasura telah lahir bukan sekadar sebagai benda pusaka, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan langit dan bumi, leluhur dan generasi kini, serta beragam elemen bangsa dalam satu ikatan persaudaraan. Semoga doa yang terpatri di dalamnya senantiasa membawa berkah bagi Surakarta dan seluruh Nusantara.

 

 

( Desi )

Komentar Klik di Sini