PURWAKARTA – METROPAGINEWS.COM || Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat, terutama untuk aktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang dilakukan setiap hari. Di banyak wilayah pedesaan, persoalan air bukan selalu soal “tidak ada sumber”, melainkan soal kualitas air yang belum sepenuhnya layak digunakan. Kondisi ini juga dijumpai di Desa Tegalwaru, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, ketika sebagian warga masih mengandalkan air sumur dengan karakteristik visual yang tidak jernih, berwarna, dan meninggalkan endapan halus di dasar bak mandi setelah didiamkan. Meski kekeruhannya tidak tergolong ekstrem, air dengan ciri demikian cenderung mempercepat pertumbuhan lumut pada bak penampungan, menurunkan kenyamanan, dan menimbulkan kekhawatiran apabila suatu saat digunakan tidak sesuai peruntukannya. Berangkat dari observasi lapangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) tahun 2026 yang melaksanakan pengabdian pada periode 29 Desember 2025 hingga 2 Februari 2026 menggagas program “Tirta Kencana Desa: Revitalisasi dan Konservasi Sumber Air” sebagai upaya menghadirkan solusi dengan teknologi tepat guna yang mudah dipahami, relevan seperti kebutuhan desa, dan memungkinkan pengembangan berkelanjutan.

Dalam konteks pengabdian, solusi yang dibangun tidak semata-mata “alat”, melainkan sistem yang dirancang sesuai alur pemakaian warga. Sistem ini dimulai dari penampungan awal air sumur pada drum pertama (drum air kotor). Dari sini, aliran air dibuka melalui kran manual dan diarahkan langsung menuju unit filtrasi air. Setelah melewati filtrasi, air dialirkan ke bagian bawah dan masuk ke drum kedua sebagai penampungan hasil filtrasi. Pada drum kedua inilah konsep kontrol kualitas air mulai bekerja dimana didalamnya dipasang sensor kekeruhan (turbidity sensor) dan pompa air DC tipe submersible. Ketika air pada drum hasil filtrasi masih terindikasi keruh atau kotor, pompa akan menyala dan mendorong air melalui jalur pipa atas untuk kembali menuju unit filtrasi sehingga proses penyaringan dapat berlangsung berulang. Sebaliknya, apabila sensor menunjukkan air berada pada kondisi jernih, katup solenoid (solenoid valve) yang terpasang pada keluaran drum kedua akan membuka untuk mengalirkan air yang telah lebih layak digunakan bagi kebutuhan MCK. Skema semacam ini membuat filtrasi tidak berhenti pada satu kali proses, melainkan memberikan peluang pemurnian bertahap yang lebih adaptif terhadap variasi kualitas air sumur.
Kinerja sistem tersebut ditopang oleh media filtrasi berlapis yang dipilih dengan mempertimbangkan dua aspek yaitu efektivitas penyaringan dan keterjangkauan. Media disusun dari material yang lebih halus pada bagian dasar menuju material yang lebih kasar pada bagian atas, dengan kain flanel sebagai pemisah antarlapisan agar proses penyaringan lebih stabil. Lapisan filtrasi yang digunakan meliputi pasir magnesium, pasir silika, arang sekam gabah padi, zeolit, serta karbon aktif. Di antara media tersebut, pemanfaatan arang sekam gabah padi menjadi titik pembeda sekaligus nilai inovasi. Desa Tegalwaru memiliki potensi persawahan yang menghasilkan limbah sekam gabah dalam jumlah tidak sedikit, namun dalam praktik sehari-hari limbah tersebut kerap dibakar tanpa pemanfaatan lanjutan. Melalui program ini, sekam gabah diolah menjadi arang dan dimanfaatkan sebagai media filtrasi, sehingga inovasi tidak hanya hadir pada sisi elektronika dan sensor, tetapi juga pada upaya memanfaatkan sumber daya lokal yang sebelumnya terbuang. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa teknologi tepat guna dapat berangkat dari realitas desa yaitu tersedianya bahan, biaya yang dapat ditekan, sekaligus memberi pemahaman dari pemanfaatan limbah persawahan.
BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider
Relevansi inovasi tersebut juga mendapat highlight dari pihak pemerintah desa. Sekretaris Desa Tegalwaru, Bapak Cecep Ahmad, menilai program ini menjawab kebutuhan di lapangan dan mengapresiasi unsur pemanfaatan dari potensi desa yang diangkat.
“Alat ini sudah sangat bagus ya terutama untuk di desa kita yang di beberapa titik airnya keruh. Yang paling fokus utamanya ada di filtrasi airnya dengan inovasi penggunaan arang gabah padi. Ditambah lagi dengan sistem yang bisa dibuat filtrasi berkali-kali menggunakan sensor.”
Kutipan tersebut menegaskan bahwa inovasi tidak dipahami sebagai “alat baru” semata, melainkan sebagai solusi yang memiliki konteks dimana air sumur di beberapa titik desa memang memerlukan perlakuan khusus, sementara sekam gabah sebagai limbah pertanian dapat diolah menjadi bagian dari sistem filtrasi yang lebih bernilai.
Agar teknologi yang dirancang dapat dipahami secara luas, sistem ini dilengkapi mikrokontroler ESP32 sebagai pusat pengolah data sensor. Namun penting untuk ditegaskan bahwa pendekatan fuzzy logic dalam sistem ini diposisikan sebagai mekanisme klasifikasi dan penyajian informasi kondisi air. Nilai turbidity yang terbaca diolah untuk mengelompokkan air ke dalam kategori linguistik yang mudah dimengerti masyarakat, yaitu jernih, keruh, dan kotor. Rentang yang digunakan adalah 0–10 NTU untuk jernih, 10–100 NTU untuk keruh, dan 100–1000 NTU untuk kotor. Hasil klasifikasi tersebut kemudian ditampilkan pada LCD, sehingga informasi kualitas air dapat dipantau secara real-time tanpa harus memahami angka teknis sensor. Dalam konteks edukasi masyarakat, cara ini efektif karena mengubah data numerik menjadi keputusan informasi yang lebih komunikatif, terutama bagi warga non-teknis yang ingin mengetahui “kondisi airnya seperti apa” tanpa harus berurusan dengan istilah sensorik yang rumit.
Sosialisasi program dan penyerahan alat dilaksanakan pada 27 Januari 2026 pukul 13.00 WIB di Kantor Desa Tegalwaru. Target peserta kegiatan meliputi perangkat desa, masyarakat
umum, khususnya bapak-bapak dan pemuda yang diharapkan dapat memahami aspek rekayasa serta perawatan. Namun pada pelaksanaannya, peserta yang hadir didominasi ibu-ibu. Hal ini memengaruhi dinamika diskusi karena pertanyaan yang muncul lebih banyak berkaitan dengan aspek praktis seperti estimasi biaya, ketersediaan komponen, serta alternatif media filtrasi. Situasi tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa keberhasilan teknologi tepat guna tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan desain, melainkan juga oleh strategi komunikasi, pemetaan audiens, dan metode edukasi yang sesuai karakter masyarakat.

Dalam pelaksanaan di lapangan, sistem juga menghadapi kendala teknis pada mikrokontroler ESP32 sebelum sosialisasi, yaitu port yang tidak dapat tersambung sehingga alat belum dapat didemonstrasikan secara penuh. Kendala ini tidak ditutup-tutupi, melainkan diposisikan sebagai bagian dari proses rekayasa yang wajar dalam pengimplementasian sistem terapan. Untuk memastikan konsep tetap tersampaikan, demonstrasi filtrasi dilakukan menggunakan model sederhana berupa botol plastik berisi media filtrasi, sehingga masyarakat tetap dapat memahami prinsip kerja penyaringan berlapis dan peran setiap material filtrasi. Alat tetap diserahkan kepada pihak desa dengan catatan adanya pengembangan dan perawatan lanjutan sebelum digunakan secara operasional. Pada saat yang sama, penggunaan alat ini hanya untuk kebutuhan MCK dan belum direkomendasikan sebagai air minum.

Pada akhirnya, “Tirta Kencana Desa” tidak hanya merepresentasikan kegiatan KKN sebagai agenda rutin mahasiswa, tetapi juga menunjukkan bahwa pengabdian dapat melahirkan inovasi: masalah dirumuskan dari kondisi nyata, sistem dirancang sesuai alur pemakaian warga, media filtrasi memanfaatkan potensi daerah, dan informasi kualitas air disajikan dengan pendekatan klasifikasi yang mudah dipahami. Di atas semuanya, program ini menegaskan bahwa tantangan pengabdian sering kali bukan semata pada aspek teknikal, melainkan pada kemampuan menerjemahkan teknologi menjadi pengetahuan praktis yang dapat diterima, dirawat, bahkan direplikasi oleh masyarakat. Dengan pengembangan lanjutan dan keterlibatan aktif perangkat desa serta warga, program ini diharapkan menjadi pijakan awal menuju kemandirian pengelolaan air MCK yang lebih higienis, efisien, dan berkelanjutan di Desa Tegalwaru.
(Kelompok KKN Universitas Singaperbangsa Karawang Desa Tegalwaru, 2026)


Komentar Klik di Sini