OELAMASI – METROPAGINEWS.COM || Terik matahari yang menyengat di Desa Manusak, Kabupaten Kupang, tak menyurutkan langkah ratusan peserta yang memadati areal persawahan untuk mengikuti gerakan “Tanam Padi Serentak Nasional: Menuju NTT Berdaulat Pangan”.
Hamparan lahan yang selama ini menjadi simbol tantangan pertanian di Nusa Tenggara Timur, hari itu berubah menjadi panggung kolaborasi antara pemerintah, petani, dan kalangan kampus.
Di antara jajaran pejabat dan tokoh masyarakat, tampak sosok muda dengan baret ungu Resimen Mahasiswa (Menwa) dan jaket kuning kebanggaan Universitas Nusa Cendana (Undana). Ia adalah Ebal Urban, mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Undana asal Papua. Bersama rekan-rekannya, Ebal hadir bukan sekadar menyaksikan, tetapi terlibat langsung menanam bibit padi unggul di lumpur sawah Manusak.
Bagi Ebal, kehadirannya di Manusak bukan hanya bagian dari kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat.
Sejak datang dari Papua pada 2022 untuk menempuh pendidikan di NTT, ia mengaku menemukan rumah keduanya di tanah Flobamora.
“Saya datang dari Papua untuk belajar di NTT, dan hari ini NTT adalah rumah saya. Ikut menanam padi bersama Bapak Gubernur adalah kehormatan besar. Ini bukti bahwa pemuda, dari mana pun asalnya, punya tanggung jawab yang sama untuk ketahanan pangan,” ujarnya.
Kepada Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FPKP Undana, Ebal juga menegaskan pentingnya pembelajaran kontekstual di luar ruang kelas.
Ia menyadari bahwa mahasiswa tidak cukup hanya belajar teori di kampus, tetapi harus terjun langsung bersama masyarakat, memahami persoalan riil, dan menjadi bagian dari solusi.
Baginya, sawah Manusak adalah laboratorium hidup tempat ilmu peternakan dan pertanian bertemu dengan kenyataan sosial ekonomi masyarakat.
Gerakan penanaman padi ini dipimpin langsung oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena bersama jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT.
Dalam arahannya, Gubernur menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa Undana yang dinilainya sebagai energi baru dalam transformasi pertanian daerah.
Ia bahkan menyatakan kesiapan pemerintah menyiapkan beberapa hektare lahan untuk dikerjasamakan dengan Undana sebagai bentuk kolaborasi jangka panjang.
“Saya bangga mahasiswa hadir dan ikut menanam. Turun langsung ke sawah membuat saya optimistis. Mahasiswa harus menjadi motor penggerak inovasi di desa-desa,” tegas Gubernur di sela penanaman.
Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi besar Pemerintah Provinsi NTT tahun 2026 untuk mengoptimalkan lahan produktif dan mendorong swasembada pangan berkelanjutan.
BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider
Bagi Undana, keterlibatan mahasiswa FPKP menjadi implementasi konkret visi sebagai kampus yang berkelas dunia namun tetap relevan secara lokal.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FPKP Undana, Dr. Tian Liufeto, menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa peternakan sangat relevan dengan konsep Integrated Farming System.
Dalam sistem ini, limbah padi dapat dimanfaatkan menjadi silase untuk pakan ternak, sementara kotoran ternak dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik.
Pola pertanian dan peternakan terintegrasi tersebut diyakini menjadi mata rantai ekonomi sirkular yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi petani.
Di lapangan, mahasiswa Undana tak hanya menanam. Mereka membantu pengaturan jarak tanam sistem legowo, berdiskusi dengan petani terkait kelembaban tanah, serta menghimpun data luas lahan dan progres penanaman.
Kolaborasi ini mencerminkan pendekatan multihelix yang menyatukan pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam satu gerak yang harmonis.
Sebagai anggota Menwa Undana, Ebal memaknai kegiatan ini sebagai bentuk bela negara yang kontekstual. Baginya, ketahanan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional.
“Jika rakyat lapar, negara tidak akan kuat. Menanam padi adalah tugas bela negara yang paling nyata saat ini,” katanya tegas.
Menjelang siang, kegiatan penanaman pun berakhir. Lumpur masih menempel di sepatu dan seragam para peserta, namun semangat yang terpatri jauh lebih kuat dari sekadar lelah fisik.
Desa Manusak hari itu bukan hanya lokasi tanam padi, melainkan simbol harapan baru bahwa NTT mampu bangkit dari stigma provinsi lahan kering.
Ebal Urban berdiri menatap hamparan sawah yang baru saja ditanami. Di benaknya, setiap bulir padi yang ditanam bersama para pejabat, dosen, dan petani adalah janji untuk masa depan yang lebih sejahtera.
“Kami pulang tidak hanya membawa kelelahan fisik, tetapi juga keyakinan bahwa masa depan pangan Indonesia bermula dari langkah kecil di lumpur Manusak,” tuturnya.
Sinergi loreng Menwa dan jaket kuning Undana di Manusak hari itu menegaskan satu hal: mahasiswa bukan sekadar insan akademik, melainkan agen perubahan. Dan dari lumpur sawah itulah, cita-cita swasembada pangan NTT sedang ditanam, dirawat, dan diperjuangkan bersama.
(Alberto)


Komentar Klik di Sini