KLATEN-METROPAGINEWS.COM ||
Di hari raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, suasana open house di Klaten kembali hidup dengan aroma kue dan suara tawa. Meja-meja di rumah-rumah warga dipenuhi sajian khas, kue nastar beraroma mentega dengan isian selai nanas yang manis-asam, serta ketupat yang lembut berpadu dengan opor ayam atau sambal goreng. Pertemuan nastar dan ketupat di meja Lebaran bukan sekadar soal selera, ia memuat makna sosial, budaya, dan ekonomi yang mengikat komunitas dari desa hingga kota kecil (21/03/2026).
Setiap rumah yang membuka pintu untuk tamu biasanya menata toples-toples kecil berisi aneka kue kering dan camilan, sementara hidangan berat seperti opor dan ketupat disiapkan sebagai sajian istimewa. Di Klaten, nastar dan ketupat menjadi simbol kebersamaan, kue nastar mewakili manisnya kebersamaan setelah sebulan berpuasa, sedangkan ketupat melambangkan pengakuan dan permohonan maaf menurut tradisi Jawa. Anyaman ketupat yang rumit sering ditafsirkan sebagai simbol simpul-simpul kehidupan dan hubungan antar manusia, ketika dibuka, nasi di dalamnya menjadi lambang hati yang bersih dan niat baik. Karena itu, ketupat hampir selalu hadir dalam perayaan Lebaran sebagai pengingat untuk pengajuan rasa bersalah dan memulai kembali dengan hati yang suci.

Secara kuliner, perpaduan nastar dan ketupat menawarkan kontras yang menyenangkan. Kulit kue nastar yang renyah dan isian nanas yang asam-manis melengkapi kehangatan opor dan pulen nya ketupat. Kombinasi ini memudahkan tuan rumah menyajikan pilihan bagi tamu, camilan ringan untuk sambil bercakap-cakap dan hidangan berat untuk tamu yang ingin makan lebih kenyang. Di meja open house, botol toples kue nastar diletakkan agar mudah dijangkau, sementara ketupat dan opor disajikan dalam porsi yang cukup untuk dinikmati bersama. Kebiasaan membawa pulang kue nastar sebagai oleh-oleh turut menambah nuansa saling memberi yang menjadi inti perayaan.
Pembuatan kue nastar dan ketupat di Klaten sering menjadi ritual keluarga yang melibatkan gotong royong. Ibu-ibu berkumpul di dapur, menakar tepung, menguleni adonan, dan mengisi selai nanas buatan sendiri. Aroma mentega dan nanas yang menguar dari oven menjadi bagian dari memori kolektif yang selalu dirindukan setiap tahun. Proses menyiapkan ketupat juga melibatkan beberapa generasi, anyaman daun kelapa, merebus ketupat, hingga menyiapkan sambal goreng atau opor sebagai pendamping. Aktivitas bersama ini mempererat ikatan keluarga dan tetangga, sekaligus meneruskan keterampilan tradisional kepada generasi muda.
Selain nilai simbolik dan sosial, ada pula aspek ekonomi lokal yang hidup saat musim Lebaran. Permintaan bahan baku kue nastar, selai nanas, dan bahan untuk opor meningkat tajam beberapa hari sebelum Lebaran. Pedagang pasar tradisional, pembuat kue rumahan, dan penjual bahan makanan merasakan lonjakan pesanan yang menjadi nafas ekonomi mikro bagi banyak keluarga. Di pasar-pasar desa di Klaten, suasana belanja pra-Lebaran dipenuhi transaksi kecil yang menandai siklus ekonomi musiman, dari penjual nanas dan gula hingga penjual daun kelapa untuk anyaman ketupat.
Open house sendiri bukan sekadar acara menerima tamu, ia menjadi momen memperlihatkan keramahan dan keterbukaan rumah tangga. Meja yang dipenuhi kue nastar dan ketupat menjadi undangan tak tertulis bagi tamu untuk duduk sejenak, berbagi cerita, dan memperbarui ikatan sosial. Dalam suasana itu, salam, silaturahmi maaf memaafkan dan canda tawa mengalir, sementara piring-piring kosong menjadi saksi bisu kebersamaan yang hangat. Banyak tuan rumah sengaja menyiapkan porsi ekstra agar tidak ada tamu yang pulang dengan tangan kosong; sebagian nastar disisihkan sebagai oleh-oleh kecil yang membuat tamu merasa dihargai.
Agus, seorang warga Klaten yang rutin menghadiri open house di lingkungan tempat tinggalnya, menegaskan pentingnya kedua hidangan itu dalam tradisi Lebaran. “Bagi kami, kue nastar dan ketupat bukan sekadar makanan. Nastar membawa rasa manis yang mengingatkan pada kebersamaan keluarga, sedangkan ketupat mengingatkan kita untuk saling memaafkan. Saat membuka ketupat, kita seolah membuka lembaran baru, saat menyuap nastar, kita merayakan manisnya silaturahmi. Tanpa keduanya, suasana Lebaran terasa kurang lengkap,” ujarnya. Agus menambahkan bahwa open house adalah cara sederhana menunjukkan bahwa rumah terbuka untuk siapa saja. “Menyajikan nastar dan ketupat adalah cara sederhana untuk mengatakan “kamu diterima”. Kami ingin tamu pulang dengan perasaan hangat dan dihargai,” kata Agus sambil tersenyum.
Tradisi ini juga mengajarkan nilai keberlanjutan dan saling berbagi. Ketupat yang tersisa sering dibagi-bagikan agar tidak terbuang, sementara kue nastar yang dibuat berlebih menjadi sumber rezeki bagi pembuatnya jika diberikan ke tetangga atau kerabat. Kebiasaan tersebut memperlihatkan bagaimana ritual kuliner Lebaran berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menjaga hubungan antar warga.
Di Klaten, pertemuan kue nastar dan ketupat pada meja Lebaran menjadi lebih dari kebiasaan kuliner, ia adalah ritual yang mengikat memory, nilai, dan ekonomi lokal. Meja yang dipenuhi kue dan hidangan berat mengundang tamu untuk duduk sejenak, berbagi cerita, dan memperbarui ikatan sosial. Ketika piring-piring kosong mulai menumpuk dan tamu beranjak pulang, yang tersisa bukan hanya sisa makanan, melainkan rasa hangat yang menguatkan pesan Lebaran, memaafkan, berbagi, dan menjaga kebersamaan dari generasi ke generasi.
Di akhir hari ketika piring-piring mulai menipis dan tawa berganti bisik-bisik perpisahan, nastar dan ketupat tetap meninggalkan jejak, manisnya selai yang menempel di bibir, hangatnya kuah opor yang mengingatkan rumah, serta rasa lega setelah saling memaafkan, sebuah ritus sederhana yang merangkum makna Lebaran, dari meja-meja di Klaten, tradisi ini mengalir pelan seperti nafas, mengikat generasi lama dan muda dalam satu cerita yang sama, mengajarkan bahwa kebersamaan tak hanya diukur dari hidangan yang tersaji, melainkan dari hati yang terbuka untuk menerima dan memberi, dan berbagi.
( Pitut Saputra )

