BerandaPeristiwaSilaturahmi Malam 1 Suro di Pangkalan Ojek Bc Pasar Baru Delanggu

Silaturahmi Malam 1 Suro di Pangkalan Ojek Bc Pasar Baru Delanggu

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram biasanya pada hari tersebut dipenuhi ritual keraton dan acara budaya di berbagai tempat. Namun di Bc (Basecamp) Pasar Baru Delanggu, momentum malam pergantian tahun itu berubah menjadi sebuah perayaan sederhana yang hangat, kumpul bareng para driver ojol (ojek online). Alih-alih berangkat ke kota untuk menyaksikan atraksi budaya, mereka memilih berkumpul di pangkalan, memasak ikan, dan berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari sebagai bentuk syukur dan penguatan ikatan (15/06/2026).

Kegiatan ini digagas oleh para tetua komunitas ojol setempat, dengan Mbah Bege sebagai salah satu inisiator. Menurutnya, berkumpul di pangkalan pada malam 1 Suro lebih bermakna daripada sekadar menonton acara di kota. “Daripada malam 1 Suro kita bepergian ke kota guna menikmati acara budaya, mendingan kita berkumpul saja di pangkalan sembari bakar ikan dan berbagi cerita melewatkan malam pergantian tahun. Kesempatan ini bisa kita gunakan untuk evaluasi dan saling mendengar masukan di antara anggota,” ujarnya dengan tegas namun hangat.

Mbah Bege sesepuh ojol Delanggu
Mbah Bege sesepuh ojol Delanggu (dok foto @Pitut Saputra)

Dukungan datang dari berbagai kalangan driver, termasuk Marjoko, seorang driver lintas kota yang kebetulan jarang ngetem di pangkalan belakangan ini. Baginya, acara sederhana seperti itu menjadi momen penting untuk mempererat tali persaudaraan yang seringkali renggang karena kesibukan mencari order. Ia mengusulkan sistem iuran sukarela untuk membeli bahan makanan, ikan, bumbu, dan beras. “Ayo kita support agenda ini dengan iuran bersama buat beli bahan ikan dan bumbu serta beras buat makan-makan sederhana di malam pergantian tahun ini,” serunya penuh semangat.

Suasana malam itu sederhana namun penuh keakraban. Beberapa anggota memang tidak bisa hadir, namun dari banyaknya yang datang sudah mewakili semangat kebersamaan komunitas. Mereka menata meja seadanya, menyalakan arang untuk memanggang ikan, dan menyiapkan sambal beserta lalapan. Aroma ikan bakar menyebar, di sekitar Bc Pasar Baru, mengundang tawa dan obrolan ringan. Di sela-sela makan, diskusi mengalir tentang pengalaman mencari order, tantangan aplikasi, persoalan regulasi dan payung hukum ojol, hingga strategi menghadapi musim sepi. Ada pula cerita lucu tentang pelanggan unik dan momen-momen tak terlupakan di jalan.

Silaturahmi sederhana sembari bakar ikan di Bc Pasar Baru Delanggu (dok foto @Pitut Saputra)
Silaturahmi sederhana sembari bakar ikan di Bc Pasar Baru Delanggu (dok foto @Pitut Saputra)

Lebih dari sekadar makan bersama, malam itu menjadi ruang evaluasi. Para driver saling memberi masukan tentang cara meningkatkan pelayanan, berbagi tips keselamatan, dan membahas pembagian tugas saat ada anggota yang butuh bantuan. Solidaritas menjadi kata kunci, ketika salah satu rekan mengalami masalah kendaraan atau keluarga, komunitas ini siap membantu. Diskusi yang biasanya terjadi di grup chat WA Group kini berlangsung tatap muka, sehingga pesan dan saran terasa lebih personal dan mudah diterima.

Kegiatan silaturahmi dan syukuran sederhana ini juga menyentuh aspek psikologis para driver. Rutinitas yang melelahkan, tekanan target, dan ketidakpastian penghasilan sering membuat mereka merasa tertekan. Malam kebersamaan memberi ruang untuk melepas penat, tertawa bersama, dan merasakan bahwa mereka bukan bekerja sendiri. Kehadiran para tetua dan driver senior memberi rasa aman dan pengalaman yang menenangkan bagi anggota muda. Mereka mendengarkan, saran dan nasehat, malam itu semua duduk bersama tanpa sekat. Perbedaan platform ojek online tidak menjadi penghalang, yang ada hanyalah rasa persaudaraan dan tujuan bersama, saling menopang dalam mencari nafkah. Momen seperti ini memperlihatkan bahwa komunitas lokal mampu menciptakan ruang solidaritas yang nyata, jauh dari hiruk-pikuk kota dan gemerlap acara budaya yang seringkali terasa jauh dari kehidupan sehari-hari mereka.

Dari sisi budaya, pilihan untuk merayakan 1 Suro di pangkalan juga menunjukkan adaptasi tradisi ke konteks modern. Alih-alih mengikuti ritual keraton yang formal, komunitas ini merayakan dengan cara yang relevan bagi mereka, makan bersama, melewatkan malam, berbagi cerita, dan refleksi atas perjalanan hidup. Tradisi lama bertemu realitas baru, menghasilkan bentuk perayaan yang unik dan bermakna.

Kegiatan ini juga memberi pelajaran penting bagi masyarakat luas, kebersamaan tidak selalu membutuhkan kemewahan. Sebuah pangkalan sederhana, beberapa ekor ikan, dan niat tulus untuk berkumpul bisa menjadi obat penat dan pengikat hubungan sosial. Inisiatif lokal seperti ini juga membuka peluang untuk program sosial lebih lanjut, misalnya penggalangan dana untuk anggota yang sakit, pelatihan keselamatan berkendara, atau kerja sama dengan pedagang lokal untuk kebutuhan sehari-hari.

Menjelang akhir malam, ketika api arang mulai meredup dan piring-piring kosong menumpuk, suasana tetap hangat. Mereka berpisah dengan janji untuk saling menjaga komunikasi dan mengulang kebersamaan di kesempatan lain. Bagi para driver ojek online di Bc Pasar Baru Delanggu, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momen memperkuat ikatan, berbagi beban, dan merayakan kehidupan sederhana yang penuh makna.

( Pitut Saputra )