BerandaInternasional21 Hari Di Tiongkok Buka Mata Ketum APDESI Junaidi : Kemajuan Desa...

21 Hari Di Tiongkok Buka Mata Ketum APDESI Junaidi : Kemajuan Desa Bisa Rapi Dan Berbudaya

KLATEN – METROPAGINEWS.COM || Ketum APDESI Junaidi bagikan hasil 21 hari belajar di Tiongkok. Lihat bagaimana model desa tematik dan teknologi bisa diterapkan untuk kemajuan desa.Jumat (7/8/2026)

 

Sebagai Kepala Desa Ponggok yang telah dinobatkan sebagai desa maju dan juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Periode 2026–2031, Junaidi kembali membawa oleh-oleh pemikiran baru setelah mengikuti Program Pelatihan Kader Desa Indonesia di Republik Rakyat Tiongkok selama 21 hari.

20260807 210758 0000

Pengalaman di negara Tirai Bambu ini semakin membuka mata Junaidi. Ia takjub melihat bagaimana kemajuan pembangunan pedesaan di Tiongkok tertata begitu rapi, teratur, dan berkelanjutan, namun tetap tidak merusak kebudayaan lokal yang diwarisi.

“Kita sudah jalan di Ponggok, tapi setelah lihat langsung ke sana, ada banyak poin-poin tambahan yang bisa kita terapkan. Ternyata kemajuan desa bisa serapi itu dan seberbudaya itu,” ujar Junaidi.

20260807 211925 0000

Kegiatan ini merupakan bagian dari undangan resmi Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok. Diselenggarakan oleh Pusat Layanan Kerja Sama Internasional dan Kementerian Pertanian serta Urusan Perdesaan Republik Rakyat Tiongkok, serta dikoordinasikan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta. Seluruh kegiatan ini dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok.

Desain tanpa judul 20260807 220306 0000

Selama 21 hari pembelajaran berlangsung, Junaidi menyaksikan langsung bagaimana Tiongkok berhasil mengintegrasikan inovasi teknologi digital dan manajemen modern dalam menghidupkan kemajuan desa. Ilmu yang diterapkan dalam membangun kemajuan desa sungguh tertata rapi dan benar-benar menyentuh inti persoalan. Meski didukung penggunaan teknologi canggih, hal itu tidak menimbulkan kerugian maupun ketimpangan antara peran mesin dan manusia.

“Di sana hampir semua pekerjaan dibantu dengan sistem otomasi dan robotik. Justru itulah yang membuat saya semakin penasaran dan ingin mendalaminya,” ujar Junaedi.

20260807 212349 0000

 

Ia juga mencatat bagaimana kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Terbukti dari pertumbuhan dan kemajuan UMKM yang berjalan pesat dan teratur, sejalan dengan kemajuan infrastruktur dan pola pikir masyarakatnya.

Pengalaman berharga ini membuat Junaidi semakin tertantang untuk membawa dan menerapkan ilmu serta wawasan yang diperoleh ke tanah air. Pembelajaran yang diterima bukan sekadar pengetahuan, melainkan gambaran nyata bahwa kemajuan desa dapat diwujudkan melalui perencanaan matang, inovasi berkelanjutan, serta keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan.

20260807 213127 0000

Junaidi menceritakan bahwa di Tiongkok, titik panen sudah ditentukan dengan sistem. Traktor dari balai desa dan operatornya sudah siap. Petugas hanya perlu menentukan titik koordinat, maka traktor akan bekerja, hasil panen masuk ke ruang pengering dan pengolahan di balai desa, hingga dikemas. Generasi muda juga dilibatkan dalam penjualan produk secara online melalui e-commerce.

“Pemerintahannya benar-benar menata,” kata Junaidi.

 

Di sana juga diterapkan konsep desa tematik. Ada desa yang seluruh warganya menanam mawar dan hasilnya diekspor serta diolah menjadi berbagai produk seperti parfum. Ada pula desa yang menanam teratai di rawa-rawa dan dikelola hingga ke tahap e-commerce, ekspor, hingga pembiayaan. Sistem perbankan pun sudah disesuaikan, seperti Bank Petani, Bank Kontraktor, dan Bank Pedagang.

“Mereka berproses selama 40 tahunan. Indonesia punya target 2045 ke arah sana,” ujarnya.

Kementerian Tiongkok memberikan dana operasional untuk perjalanan sebesar 200 juta per orang untuk kebutuhan di sana. Tiongkok berani memberikan subsidi untuk orang lain sebagai teknik marketing.

Dalam kegiatan tersebut terdapat 20 orang kandidat dari berbagai daerah dan profesi di Indonesia. Ada perwakilan desa-desa, profesor, mahasiswa, bupati. Junaedi sendiri hadir sebagai perwakilan organisasi kepala desa, dan sebagai kepala desa yang ditunjuk sebagai desa percontohan di Kabupaten Klaten. Hadir pula Kepala Desa Ngawonggo sebagai desa percontohan pengecoran logam di Kabupaten Klaten.

Kunjungan pembelajaran ini diharapkan menjadi langkah awal sinergi antara Indonesia dan Tiongkok dalam membangun desa. Dengan semangat gotong royong dan adaptasi teknologi yang humanis, Junaidi optimis model-model baik dari Tiongkok dapat diadaptasi untuk mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045, dimulai dari desa.

 

 

( Desi )

Komentar Klik di Sini