BerandaOpiniOPINI: Pasar Yang Hanya Ramai, Tanpa Doa Akan Cepat Sepi Lagi

OPINI: Pasar Yang Hanya Ramai, Tanpa Doa Akan Cepat Sepi Lagi

Oleh: Kyai Hartoto Husnin

Pendiri Njeng Sunan

 

Sering kali saya ditanya oleh banyak pihak: “Mengapa menghidupkan kembali Pasar Lama Jatinom harus diawali dengan Umbul Donga, dengan zikir, sholawat, dan doa bersama? Mengapa tidak langsung saja membuka lapak, jualan, dan berdagang?”

Pertanyaan itu sederhana, namun maknanya sangat dalam. Jawaban saya pun sederhana: Pasar yang hanya ramai secara fisik, namun tidak disertai doa dan keberkahan, pada akhirnya akan cepat sepi lagi.

Mengapa Pasar Tradisional Bisa Tetap Hidup?

Sering pula kita bertanya: mengapa pasar tradisional zaman dahulu bisa bertahan berpuluh tahun, bahkan turun-temurun, sementara pasar yang dibangun megah dalam hitungan tahun bisa sepi dan ditinggalkan?

Kunci rahasianya bukan pada bangunannya, bukan pada luasnya lahan, dan bukan pula pada banyaknya modal yang disuntikkan. Pasar tradisional bisa tampak hidup karena ada kehangatan, ada srawung, dan ada keberkahan.

Pasar yang hidup bukan hanya karena ada jual beli. Ia hidup karena ada sapaan antar tetangga, ada tawar-menawar yang disertai senyum, ada kepercayaan antara penjual dan pembeli, ada doa yang terpanjat saat transaksi terjadi. Di pasar yang sejati, seseorang datang bukan sekadar mengambil sayuran lalu pergi. Ia datang untuk menyapa tetangganya, menanyakan kabar kerabatnya, mendoakan kesehatan sesamanya. Di sanalah letak kekuatan pasar tradisional yang tidak bisa digantikan oleh bangunan modern sekalipun.

Ketika elemen-elemen itu hilang ketika kita hanya sibuk mengejar untung tanpa peduli sesama, ketika kita hanya datang mengambil lalu pergi tanpa menyapa maka pasar itu mungkin masih terlihat berdiri, namun jiwanya sudah mati. Keramaiannya hanya sementara. Saat ada pilihan yang lebih murah, lebih cepat, atau lebih mudah di tempat lain, maka tanpa ragu orang akan pergi. Tidak ada ikatan yang mengikat mereka untuk tetap tinggal.

Itulah yang telah kita saksikan selama 15 tahun terakhir di sini. Pasar Lama Jatinom perlahan namun pasti kehilangan denyut kehidupannya. Bukan hanya bangunan yang sepi, bukan hanya lapak yang kosong tetapi yang lebih menyedihkan, pasar ini perlahan kehilangan doa, kehilangan kebersamaan yang tulus, dan kehilangan keikhlasan yang dulu menjadi jiwanya. Yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua yang berdiri sunyi, seakan menunggu dihidupkan kembali. Ramai secara fisik telah sirna, dan ramai secara batin pun sudah lama hilang.

Ramai Secara Fisik, atau Ramai Secara Batin?

Banyak orang memaknai pasar sekadar sebagai tempat jual beli: ada pembeli, maka namanya sudah ramai. Namun sesungguhnya, pengertian itu belumlah lengkap. Pasar sejati adalah tempat berkumpulnya manusia dengan hati yang saling menghargai. Penjual yang menawarkan dagangannya dengan niat tulus dan berkah, pembeli yang datang bukan sekadar mengambil barang, tetapi juga menjalin silaturahmi. Transaksi yang tidak hanya mengejar keuntungan sesaat, tetapi juga berharap kebaikan yang abadi.

Inilah filosofi yang ingin kami hadirkan kembali melalui Njeng Sunan. Kami ingin Pasar Lama Jatinom bukan sekadar tempat bertukar barang dan uang, melainkan juga tempat sowan dan srawung tempat orang bertemu, bersilaturahmi, dan saling mendoakan. Sebelum lapak-lapak dibentangkan, doa lebih dulu kita panjatkan. Sebelum uang berpindah tangan, keberkahan lebih dulu kita cari.

Ketika sebuah tempat dibuka dengan doa, maka Pemilik Alam Semesta lah yang akan menjaga kelestariannya. Jika langkah kita dimulai dengan memohon pertolongan dan keberkahan-Nya, maka keramaian itu tidak akan mudah hilang. Namun sebaliknya, jika sesuatu hanya dibangun atas dasar kepentingan sesaat, semata-mata mengejar keuntungan duniawi tanpa mempedulikan yang Maha Memberi Rezeki, maka saat kepentingan itu hilang, tempat itu pun akan ikut ditinggalkan.

Ungkapan bijak kita lestarikan: “Pasar Ilang Kumandange” pasar yang hilang kumandangnya. Hilangnya keramaian di pasar ini bukanlah semata-mata takdir yang datang tanpa alasan. Itulah cerminan dari kita yang perlahan lupa mendoakannya. Ketika kita sibuk mengejar keuntungan, namun lupa dari mana rezeki itu berasal, maka perlahan namun pasti, keberkahan itulah yang perlahan menjauh.

Semoga langkah kecil ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Berdaganglah, berusahalah, meraih keuntungan yang halal pun sah adanya itu pun termasuk ibadah. Namun jangan pernah lupa: segala sesuatu yang dimulai dengan doa, akan dijaga oleh-Nya. Semoga Pasar Lama Jatinom ini bukan hanya kembali ramai oleh orang, tetapi juga kembali ramai oleh keberkahan. ( Red )

 

 

Komentar Klik di Sini