BerandaBerita TerkiniPentas Seni Warnai Perpisahan dan Pelepasan KKN GIAT 17 UNNES

Pentas Seni Warnai Perpisahan dan Pelepasan KKN GIAT 17 UNNES

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Panggung sederhana di Joglo Latar Tjokro menjadi pusat perhatian warga Desa Cokro pada Sabtu malam, 7 November 2026. Sejak pukul 19.00 WIB, pendopo di Desa Cokro, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten itu sudah dipenuhi masyarakat. Anak-anak di barisan depan, para sesepuh duduk tenang di tengah, sementara muda mudi sibuk mengabadikan setiap detik dengan gawai mereka. Malam itu, Desa Cokro menggelar Malam Puncak dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) GIAT 17 UNNES Desa Cokro 2026 bertajuk Harmoni Desa Cokro (07/11/2026).

Jika biasanya perpisahan identik dengan kesedihan, malam itu justru terasa berbeda. Perpisahan dibungkus pentas seni budaya yang meriah, hangat, dan penuh makna. Mahasiswa KKN GIAT 17 Universitas Negeri Semarang (UNNES) tidak berpamitan dengan kata-kata saja, melainkan dengan karya yang mereka ciptakan bersama warga selama berminggu-minggu mengabdi di Desa Cokro.

vertikal 1 23

Pentas seni dibuka dengan Gejog Lesung, penampilan paling membangkitkan semangat. Tradisi menumbuk padi ini dibawakan oleh Ibu-Ibu warga Desa Cokro  yang berpartisipasi dalam KKN GIAT 17 UNNES. Denting lesung yang dipukul ritmis menciptakan irama energik yang membuat penonton ikut menghentakkan kaki. Gejog Lesung bukan sekadar hiburan. Ia pengingat akar budaya agraris Desa Cokro, tentang gotong royong, kebersamaan, dan kerja keras warga.

Bagi mahasiswa, Gejog Lesung menjadi pengalaman berharga. Mereka ikut belajar, ikut memukul lesung, dan merasakan denyut budaya desa. Di atas panggung, tidak ada lagi batas antara pendatang dan tuan rumah.

Setelah suasana memanas, pentas berlanjut ke Sendratari yang lebih anggun dan penuh cerita. Karya tari ini diciptakan khusus bersama warga selama KKN GIAT 17 UNNES berlangsung. Sendratari memadukan gerak tari tradisional dengan cerita kehidupan masyarakat desa sehari-hari. Para penari muda tampil anggun, luwes, dan penuh penghayatan. Kolaborasi mahasiswa dan pemuda Desa Cokro tampak begitu menyatu. Sendratari menjadi bukti bahwa seni bisa lahir dari proses belajar bersama, bukan hanya dari latihan di atas panggung.

Pentas juga menampilkan tari selamat datang sebagai pembuka sambutan bagi tamu dan warga. Tarian ini menjadi simbol keramahan Desa Cokro, sekaligus cara mahasiswa menyampaikan hormat dan terima kasih atas sambutan hangat sejak hari pertama mereka tiba.

Sebagai penutup yang syahdu, alunan Keroncong mengalun lembut di Joglo Latar Tjokro. Lagu-lagu keroncong klasik yang dibawakan kelompok musik binaan mahasiswa dan warga membawa suasana hangat dan penuh nostalgia. Banyak warga ikut bersenandung pelan, sebagian tampak haru karena menyadari malam itu adalah malam terakhir kebersamaan mereka dengan mahasiswa KKN.

Di tengah kemeriahan, Koordinator KKN GIAT 17 UNNES Desa Cokro, Adrian Rio Septa Ananta, mengatakan, “Perkenalkan, saya Rio Septa Ananta, Koordinator KKN GIAT ke-17 UNNES di Desa Cokro, Klaten. Pada malam hari ini, kami melaksanakan kegiatan perpisahan dan pelepasan KKN di Desa Cokro,” ujarnya.

“Kami akan menampilkan beberapa pertunjukan yang telah kami persiapkan bersama warga, di antaranya tari selamat datang, keroncong, dan sendratari sebagai persembahan seni dan budaya sekaligus kenang-kenangan.”

“Harapan saya, semoga Desa Cokro kedepannya semakin maju dan sukses, serta mampu memunculkan bibit-bibit seniman dan pemuda-pemuda yang berkarakter dan berbudaya tinggi. Sekian dari saya, terima kasih,” jelas Rio.

Pernyataan itu menegaskan pentas malam itu bukan sekadar pertunjukan perpisahan. Ia adalah persembahan, kenang-kenangan, sekaligus doa. Harapan lahirnya bibit seniman dan pemuda berkarakter menjadi pesan kuat bahwa KKN harus meninggalkan warisan yang terus tumbuh.

Malam Puncak ini merupakan puncak rangkaian panjang program mahasiswa di Desa Cokro. Selain pentas seni budaya, mahasiswa KKN GIAT 17 UNNES juga terlibat dalam pendampingan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, hingga penguatan ekonomi lokal. Semua program dirancang bersama warga agar berkelanjutan.

Perwakilan masyarakat dan perangkat Desa Cokro menyampaikan terima kasih. Mereka merasa kehilangan sekaligus bangga, karena mahasiswa membawa semangat baru bagi desa, khususnya generasi muda. Semangat berkesenian, berorganisasi, dan berkolaborasi itu diharapkan terus dijaga pemuda Desa Cokro.

Di sesi akhir, suasana haru semakin terasa. Mahasiswa dan warga saling bersalaman, berpelukan, dan berfoto bersama. Beberapa warga menitipkan pesan agar mahasiswa tidak melupakan Desa Cokro. Tangis haru dan tawa bahagia bercampur menjadi satu, menandakan eratnya ikatan yang terjalin selama KKN.

Mieke Diena, warga Cokro sekaligus penari penampil, mengutarakan kesannya, “Kesan pesan dari KKN GIAT 17 UNNES, seru banget, anak-anaknya kompak, dan kita mendapatkan pengalaman baru yaitu menari,” paparnya antusias. Kesan sederhana itu menggambarkan keberhasilan pentas malam itu. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku, penari, musisi, dan bagian dari karya itu sendiri.

Dengan berakhirnya Malam Puncak dan Pelepasan KKN GIAT 17 UNNES Desa Cokro 2026, mahasiswa resmi pamit. Namun, pentas seni itu tidak berakhir di Joglo Latar Tjokro. Ia akan terus hidup dalam ingatan warga, dalam karya sendratari yang telah diciptakan, dalam alunan keroncong yang masih terngiang, dan dalam semangat pemuda Desa Cokro yang kini semakin percaya diri untuk berkarya. Dari Desa Cokro, lahir cerita bahwa perpisahan bisa dirayakan dengan cara paling indah, yakni melalui seni.

( Pitut Saputra )