DENPASAR – METROPAGINEWS.COM || Semangat Menjelajah, Melayani, Menginspirasi terus dibawa Mbah Dragon dalam lawatannya di Pulau Bali. Tidak sekadar berbagi pengalaman profesional di dunia bisnis, Mbah Dragon juga hadir memperlengkapi para pengusaha Kristen, guru sekolah dasar dan guru sekolah minggu dengan pengetahuan, keterampilan serta perspektif pelayanan yang berlandaskan nilai-nilai Kerajaan Allah.Minggu (23/8/2026).
Salah satu agenda utama berlangsung di Catholic Centre, Jalan Rambutan, Denpasar. Dalam kegiatan tersebut, Mbah Dragon menginspirasi para pengusaha Kristen di bawah naungan Perkantas yang datang dari berbagai kota di Indonesia melalui seminar bertajuk “Sales & Marketing in Kingdom Business.”
Materi diawali dengan pembahasan sembilan elemen Business Model Canvas yang diperkenalkan Alexander Osterwalder. Namun, pembahasan difokuskan pada dua elemen yang berkaitan erat dengan sales dan marketing, yakni Customer Segment dan Unique Value Proposition atau UVP.
Mbah Dragon kemudian memperkenalkan cara menemukan UVP melalui Value Proposition Canvas atau VPC yang terdiri atas Customer Profile dan Value Map. Menurutnya, sebelum sebuah perusahaan merancang produk dan strategi pemasaran, perusahaan harus terlebih dahulu memahami siapa pelanggannya dan apa yang sesungguhnya dibutuhkan pelanggan.
Dalam Customer Profile, peserta diajak memahami tiga hal utama, yakni Jobs, yaitu pekerjaan atau tugas yang ingin diselesaikan pelanggan; Gains, yakni hasil positif atau keuntungan yang diharapkan pelanggan; serta Pains, yaitu masalah, hambatan atau hal-hal yang membuat pelanggan merasa frustrasi.
Setelah memahami profil pelanggan, perusahaan kemudian merancang Value Map untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui Product/Services, Gain Creators dan Pain Relievers. Dengan demikian, produk atau jasa yang ditawarkan bukan sekadar sesuatu yang ingin dijual perusahaan, melainkan benar-benar menjadi solusi terhadap persoalan pelanggan.
Untuk membuat konsep tersebut lebih mudah dipahami, Mbah Dragon menggunakan studi kasus Magic Marketing Concept yang dikembangkannya berdasarkan pengalaman profesional selama berkarier.
Melalui delapan tahapan pencarian UVP, mulai dari mengidentifikasi target Customer Segment, memahami Customer Jobs, mengenali Pains, menentukan Gains, menyusun produk atau layanan unik, merancang Pain Relievers dan Gain Creators, memastikan keselarasan antara kebutuhan dan solusi, hingga menganalisis Product-Market Fit, peserta diajak melihat bagaimana sebuah konsep bisnis dapat menghasilkan nilai yang kuat.
Dari studi kasus tersebut, UVP Magic Marketing yang diperkenalkan Mbah Dragon adalah “Low Cost, High Impact.”
Konsep tersebut menggambarkan strategi memenangkan persaingan dengan biaya rendah tetapi menghasilkan dampak tinggi sehingga profit tetap terjaga, bahkan dapat meningkat secara signifikan.
Menurut Mbah Dragon, konsep tersebut bukan sekadar teori. Ia merupakan pengalaman nyata dalam perjalanan profesionalnya ketika meningkatkan profit dan market share sejumlah cabang Astra Motor yang pernah berada di bawah kepemimpinannya hingga mengalami peningkatan berlipat.
Karena itu, Magic Marketing Concept dinilai memiliki UVP yang kuat karena jelas, berorientasi pada nilai, unik, relevan dan dapat dibuktikan atau proven melalui pengalaman nyata.
Pembahasan kemudian masuk pada perbedaan antara marketing dan sales yang selama ini menurut Mbah Dragon masih sering tidak dipahami secara tepat.
Marketing, jelasnya, merupakan seluruh upaya yang dilakukan perusahaan untuk menarik minat customer, mulai dari riset pasar, penentuan harga, branding, komunikasi hingga berbagai kegiatan atau event. Setelah customer tertarik dan datang, barulah sales menjalankan tugasnya untuk mengonversi ketertarikan tersebut menjadi penjualan melalui selling skills, negosiasi, handling objection dan closing technique.
Dengan demikian, marketing berperan menarik pelanggan, sementara sales bertugas mengubah ketertarikan tersebut menjadi transaksi.
Mbah Dragon kemudian membawa peserta melihat perubahan paradigma marketing dari konsep klasik 4P menuju pendekatan yang lebih berpusat pada pelanggan atau customer centric.
Dalam pendekatan tersebut, Product tidak lagi sekadar dilihat sebagai produk yang dijual, tetapi sebagai Customer Solution. Price dipandang sebagai Cost, Place berkembang menjadi Convenience Channel, sedangkan Promotion bergeser menjadi Communications.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan harus terlebih dahulu memahami solusi yang dibutuhkan customer sebelum menawarkan produk.
Karena fokusnya adalah memberikan Customer Solutions, seorang sales juga dituntut mengalami transformasi dari sekadar tenaga penjual menjadi Business Advisor.
Mbah Dragon mengutip pandangan Jeft Immelt, CEO General Electric, sebagaimana dikemukakan dalam buku Selling Is Dead karya Marc T. Miller, bahwa sales people have to be customer productivity expert.
Artinya, seorang sales harus mampu membantu meningkatkan produktivitas customer sebelum melakukan penjualan. Dengan menciptakan value dan menghasilkan ROI yang tinggi bagi pelanggan, akan terbentuk kepercayaan, hubungan jangka panjang, repeat order, hingga pelanggan yang bersedia memberikan referral dan menjadi customer advocate.
Peserta juga diajak memahami perjalanan pelanggan dalam Sales Funnel, mulai dari Awareness, Interest, Consideration, Decision hingga Retention.
Dari seluruh pembahasan tersebut, Mbah Dragon menekankan terjadinya perubahan paradigma dalam bisnis. Konsep lama seorang sales yang hanya berorientasi pada “jual, untung, lalu layani” harus diubah menjadi “melayani terlebih dahulu, membangun trust, menciptakan repeat order, kemudian profit mengikuti dan pada akhirnya memuliakan Allah.”
Dalam kaitan dengan prinsip Kingdom Business, Mbah Dragon mengingatkan bahwa seorang anak Tuhan tidak boleh menjalankan bisnis dengan cara overclaim, manipulatif maupun menipu. Termasuk dalam menetapkan harga, pelaku usaha harus tetap mempertimbangkan keadilan bagi pelanggan.
Pada bagian ini, Mbah Dragon menyinggung berbagai produk dan praktik pemasaran yang menurutnya menggunakan klaim berlebihan, antara lain produk yang dipasarkan sebagai Apple Stemcell, Salmon Ovary Peptide yang ikut dipromosikan sebagai stem cell, serta berbagai fenomena seperti Power Balance, “Otak Tengah”, elektrolisa kaki yang diklaim sebagai detoks, koyo yang berubah warna dan disebut mengeluarkan racun, mineral pot yang diklaim mampu menyembuhkan berbagai penyakit, kaca atau beling yang disebut memiliki energi tertentu, hingga kalung dan gelang magnet yang dipasarkan dengan berbagai klaim kesehatan.
Menurut Mbah Dragon, yang perlu menjadi perhatian adalah kesesuaian antara manfaat sebenarnya dengan klaim yang digunakan untuk menjual produk.
Ia mencontohkan bahwa apabila sebuah produk memiliki kandungan antioksidan seperti flavonoid atau polifenol, maka produk tersebut semestinya dipasarkan berdasarkan manfaat sebagai antioksidan apabila memang itulah yang dapat dipertanggungjawabkan. Masalah muncul ketika produk tersebut justru menggunakan klaim sebagai “stem cell” atau klaim kesehatan lainnya yang tidak sesuai dengan fakta ilmiah.
Pesan yang disampaikan kepada para pengusaha Kristen pun sangat tegas. Anak-anak Allah tidak boleh membangun keuntungan di atas kebohongan dan ketidaktahuan konsumen.
Prinsip bisnis tersebut kemudian direfleksikan melalui kehidupan Yesus. Mbah Dragon menggambarkan bahwa Yesus memberikan teladan dalam memahami manusia dan memberikan solusi terhadap kebutuhan mereka.
Yesus mengenal orang yang dilayani, memahami kebutuhan mereka, memberikan solusi, membangun kepercayaan dan pada akhirnya menghasilkan perubahan hidup.
Orang yang lapar diberi makan, orang sakit disembuhkan, orang berdosa diampuni, orang yang takut diberi damai dan orang yang putus asa diberikan pengharapan.
Bagi Mbah Dragon, gambaran tersebut menjadi refleksi bahwa bisnis dalam perspektif Kerajaan Allah tidak boleh berhenti pada transaksi. Bisnis harus mampu menghadirkan nilai dan memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia.
Semangat Menjelajah, Melayani, Menginspirasi juga diwujudkan Mbah Dragon melalui pelayanan kepada para guru.
Pada 21 Agustus 2026, Mbah Dragon berbagi bersama 29 guru SD AMI atau Adhi Mekar Indonesia melalui sesi Experiential Learning. Kegiatan berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WITA.
Suasana kegiatan berlangsung penuh keceriaan dan sukacita. Para guru diajak mengalami langsung berbagai aktivitas yang mendorong mereka keluar dari zona nyaman. Mereka mengalami Winner Effect, yakni pengalaman melakukan berbagai hal out of the box yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan mampu mereka lakukan.
Kegiatan tersebut menjadi pengalaman pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan keberanian dan kepercayaan diri kepada para guru untuk mencoba sesuatu yang baru.
Sehari kemudian, pada 22 Agustus 2026, Mbah Dragon kembali berbagi berkat dengan melayani 15 guru sekolah minggu Gereja Kristen Protestan Bali Jemaat Kristus Kasih.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Sinode GKPB, Jalan Sutomo, tersebut dimulai pukul 10.00 WITA dan berakhir pukul 14.00 WITA.
Dalam kesempatan tersebut, Mbah Dragon mengajarkan Gospel Magic kepada para guru sekolah minggu. Para peserta mendapatkan 10 trik Gospel Magic sekaligus alat-alat sulap yang dapat digunakan dalam pelayanan.
Antusiasme peserta sangat tinggi. Mereka mengaku mendapatkan pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana kreatif bagi para guru dalam menyampaikan pesan-pesan Injil kepada anak-anak sekolah minggu.
Perjalanan Mbah Dragon di Bali masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Ia berencana mengunjungi dan berbagi bersama “anak-anaknya”, para penyandang disabilitas yang berada di bawah naungan YCMU dan YBSH.
Mbah Dragon juga akan menghadiri perayaan ulang tahun ke-12 YCMU pada 30 Agustus 2026 di Tampaksiring, tempat yayasan tersebut berdomisili.
Di sela-sela agenda pelayanan, Mbah Dragon juga berencana melakukan diving di Padangbai. Dengan demikian, perjalanan ke Bali menjadi perpaduan antara melayani, menginspirasi sekaligus menjelajah keindahan bawah laut Pulau Dewata.
Seluruh rangkaian perjalanan tersebut membawa pesan yang sama, bahwa hidup, pekerjaan, bisnis dan pelayanan dapat menjadi sarana untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Mbah Dragon mengingatkan agar orang percaya tidak tergoda mengejar keuntungan besar sesaat dengan mengorbankan kebenaran. Menurutnya, ketika seseorang memilih menyuarakan dan menjalankan kebenaran, tidak jarang akan menghadapi penolakan, kebencian bahkan fitnah dari mereka yang merasa dirugikan oleh kebenaran tersebut.
Namun, ia mengajak setiap orang untuk tidak takut selama tetap berjalan di jalan Tuhan.
Sebab, keyakinannya adalah bahwa ketika Tuhan sudah membuka jalan, tidak ada seorang pun yang dapat menutupnya.
Menjelajah, Melayani, Menginspirasi. Diberkati untuk menjadi berkat. Kiranya Tuhan memberkati setiap langkah Mbah Dragon.
(Alberto)


Komentar Klik di Sini