BerandaOpiniDi Atas Tong Biru Itu SUMPAH PEMUDA Di Uji

Di Atas Tong Biru Itu SUMPAH PEMUDA Di Uji

Catatan Kaperwil Soloraya untuk Klaten yang Terluka
Oleh:Desi Apriani Kaperwil Soloraya | Metropaginews.com

 

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Refleksi Sumpah Pemuda dari perspektif jurnalis. Tong biru sitaan KPK menjadi cermin pengkhianatan sumpah jabatan dan panggilan untuk tetap berani jujur di Klaten. Rabu (28/10)

Klaten sedang tidak baik‑baik saja.

Kita baru saja menyaksikan bagaimana sebuah tong plastik berwarna biru, yang seharusnya untuk sampah, justru menjadi tempat menyimpan uang. Rp 934 juta di dalam tong, Rp 1,9 miliar total sitaan, 20 orang diamankan, lima klaster korupsi, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dan Kepala Perwakilan BPK Jawa Tengah ditetapkan tersangka oleh KPK pada 16 Oktober lalu.

Desain tanpa judul 20261028 162152 0000

Itu bukan sekadar berita hukum. Itu adalah luka.

Dan luka itu menganga tepat di bulan peringatan Sumpah Pemuda.

97 tahun lalu, pemuda bersumpah untuk bertanah‑air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Sumpah yang lahir dari kesucian niat. Hari ini, di Klaten, kita melihat sumpah lain: sumpah jabatan yang dikhianati di dalam tong biru.

Sebagai jurnalis yang bertugas di wilayah Soloraya, saya tidak ingin sekadar menghakimi. Saya ingin bertanya pada diri sendiri: di mana posisi kami?

Ketika pengadaan barang dan jasa diduga menjadi bancakan, ketika perizinan diduga diperjualbelikan, ketika setoran dari OPD dianggap lumrah, bahkan audit yang seharusnya menjaga kewarasan diduga dikondisikan lalu apa arti kerja‑kerja jurnalistik kami selama ini?

Jawabannya ada pada pesan yang selalu saya pegang: Tetaplah ora waras (edan) di jalur yang waras.

Menjadi waras di Klaten hari ini artinya berani menulis bahwa yang salah adalah salah, meski yang salah itu orang yang punya kuasa. Menjadi waras artinya menolak amplop, menolak “kerja‑sama” yang bertujuan membungkam suara.

Di mata mereka yang sudah terbiasa dengan cara‑cara tidak waras, sikap waras kami justru dianggap ora waras (edan): gila, idealis, tidak mau diajak kompromi.

Biarlah.

Jika “waras” diartikan sebagai ikut menyimpan uang di tong biru, izinkan kami menjadi orang yang dianggap gila, yang tetap menulis dengan pena bersih.

Sumpah Pemuda tidak diucapkan di gedung mewah. Ia lahir di rumah sempit Batavia dengan semangat yang tulus. Semangat serupa seharusnya hidup di aula kelurahan, di aliran Kali Lunyu yang sedang kita bersihkan, di lahan‑lahan binaan yang mengajarkan kemandirian bukan di ruang‑ruang yang sibuk menghitung setoran.

Klaten tidak kekurangan orang pintar. Klaten hanya sedang kekurangan orang yang mau tetap memegang kebenaran.

Hari ini, 28 Oktober 2026, mari kita perbarui sumpah masing‑masing.
‑ Untuk pejabat: bersumpahlah tidak menjadikan jabatan sebagai mesin uang.
‑ Untuk jurnalis: bersumpahlah tidak menjadikan pena sebagai alat penjilat kekuasaan.
‑ Untuk pemuda: bersumpahlah tidak diam ketika kotamu dilukai.

Tong biru itu akan menjadi saksi bisu di pengadilan. Namun di luar ruang sidang, biarlah ia menjadi cermin bagi kita semua.

Klaten harus sembuh. Kesembuhan itu dimulai dari keberanian kita untuk tetap teguh pada kebenaran, meski banyak orang memilih jalan yang salah.

Selamat Hari Sumpah Pemuda.
Tetaplah waras.

 

Tulisan ini adalah catatan pribadi penulis, bukan sikap resmi redaksi Metropaginews.com.

Komentar Klik di Sini