BerandaOpiniMenjadi "Saringan" di Tengah Banjir Informasi: Mengapa Mahasiswa Teknologi Pendidikan Wajib Menjadi...

Menjadi “Saringan” di Tengah Banjir Informasi: Mengapa Mahasiswa Teknologi Pendidikan Wajib Menjadi Garda Depan Pelawan Hoaks

Oleh : Maria M Ina Palan
Universitas Pendidikan Ganesha

OPINI – METROPAGINEWS.COM || Sebagai mahasiswa Teknologi Pendidikan, ruang kelas kami bukan sekadar tempat belajar teori pedagogi, melainkan sebuah laboratorium untuk membedah bagaimana informasi dikonsumsi dan diproses. Hari ini, tantangan terbesar dalam dunia informasi bukanlah kelangkaan, melainkan polusi informasi berupa hoaks yang menyebar lebih cepat daripada kebenaran itu sendiri. Di sinilah posisi kami menjadi krusial.

Bagi masyarakat awam, menerima informasi palsu mungkin sekadar kekeliruan personal. Namun bagi seorang calon teknolog pendidikan, menelan hoaks mentah-mentah adalah sebuah kegagalan profesi. Mengapa mahasiswa Teknologi Pendidikan memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar dalam menyikapi hoaks?

Pertama, kami mempelajari Arsitektur Informasi dan Desain Pesan. Kami dilatih untuk memahami bagaimana sebuah pesan visual, teks, dan media dirancang agar efektif ditangkap oleh kognisi manusia. Ironisnya, para pembuat hoaks menggunakan prinsip-prinsip psikologi kognitif yang sama: mereka merancang judul yang memicu emosi (takut, marah, atau terlalu gembira) agar pesan tersebut langsung dibagikan tanpa berpikir panjang. Sebagai mahasiswa di bidang ini, kami harus mampu melihat pola tersebut. Kita harus menjadi orang pertama yang mendeteksi manipulasi media sebelum orang lain terhasut.

Menjadi "Saringan" di Tengah Banjir Informasi: Mengapa Mahasiswa Teknologi Pendidikan Wajib Menjadi Garda Depan Pelawan Hoaks
BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

Kedua, ada urgensi untuk menggeser paradigma Kecakapan Digital dari sekadar “Bisa Pakai” menjadi “Bisa Memilih”. Banyak orang mengira generasi muda yang mahir menggunakan gawai otomatis bebas dari hoaks. Faktanya tidak selalu demikian. Mahir mengoperasikan aplikasi tidak sama dengan kritis terhadap kontennya. Tugas kami sebagai mahasiswa Teknologi Pendidikan adalah memformulasikan strategi pembelajaran literasi digital yang relevan. Kami harus bisa mengedukasi lingkungan sekitar tentang cara melakukan cek fakta (cross-check), mengenali bias informasi, dan memahami algoritma media sosial yang sering kali menciptakan ruang gema (echo chamber) bagi hoaks.

Menyikapi maraknya hoaks, mahasiswa Teknologi Pendidikan tidak boleh bersikap pasif atau sekadar menjadi konsumen yang defensif. Kita harus mengambil peran aktif sebagai curator (penyelaras) dan validator informasi. Setiap kali menerima sebuah topik atau isu baru di ruang digital, prinsip berpikir komputasional dan kritis yang kita pelajari di bangku kuliah harus langsung aktif: Tanyakan sumbernya, periksa validitas datanya, dan analisis apa dampak pedagogisnya jika informasi ini disebarkan. Memerangi hoaks bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kompetensi dasar yang harus dimiliki. Dengan menjadi mahasiswa yang kritis dan tidak mudah terprovokasi, kita sedang mempersiapkan diri untuk membangun sistem pendidikan masa depan yang sehat, jernih, dan berbasis pada kebenaran data.

Komentar Klik di Sini