BerandaOpiniMendidik Anak di Era Algoritma: Saat Teknologi Pendidikan Harus Melampaui Ruang Kelas

Mendidik Anak di Era Algoritma: Saat Teknologi Pendidikan Harus Melampaui Ruang Kelas

Oleh : Nurdin

Program Studi Teknologi Pendidikan, Universitas Pendidikan Ganesha

OPINI – METROPAGINEWS.COM || “Nak, jangan terlalu lama main HP.” Kalimat itu mungkin menjadi nasihat yang paling sering diucapkan orang tua kepada anak-anaknya hari ini. Namun, pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa lama anak menatap layar, melainkan siapa yang sebenarnya sedang mendidik mereka di balik layar itu?

Jawabannya mungkin mengejutkan: algoritma.
Setiap kali anak membuka media sosial, menonton video pendek, atau menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ada algoritma yang bekerja tanpa henti. Ia memilih video berikutnya, menentukan informasi yang muncul, merekomendasikan teman, bahkan secara perlahan membentuk cara berpikir, cara berbicara, hingga nilai-nilai yang dianggap benar.

Dalam banyak kasus, algoritma mengenal kebiasaan anak lebih cepat daripada guru di sekolah, bahkan lebih detail daripada orang tuanya sendiri.

Fenomena ini menandai sebuah perubahan besar dalam dunia pendidikan. Jika dahulu karakter anak dibentuk oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial, kini hadir “pendidik baru” yang tidak memiliki wajah, tidak memiliki ruang kelas, tetapi mampu memengaruhi jutaan anak dalam hitungan detik. Ironisnya, kita masih sibuk memperdebatkan boleh atau tidaknya anak membawa telepon genggam ke sekolah, sementara ruang digital telah menjadi sekolah kedua yang tidak pernah tutup.

Data UNICEF menunjukkan bahwa sebagian besar anak Indonesia menggunakan internet setiap hari, namun masih banyak yang belum memperoleh pendidikan mengenai keamanan dan etika berinternet. Studi tersebut juga menemukan bahwa hanya sebagian anak yang pernah mendapatkan edukasi tentang cara tetap aman di dunia digital, sementara tidak sedikit yang pernah mengalami pengalaman negatif ketika beraktivitas secara daring.

Kondisi ini semakin kompleks ketika kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. UNESCO mengingatkan bahwa AI membuka peluang besar bagi pendidikan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru terkait etika, privasi, dan perlindungan peserta didik. Teknologi tidak boleh menggantikan peran manusia dalam membentuk nilai dan karakter.

Persoalannya, pendidikan kita masih terlalu fokus pada mengajarkan cara menggunakan teknologi, bukan mengajarkan cara hidup bersama teknologi. Anak diajarkan membuat presentasi digital, tetapi belum tentu diajarkan mengenali manipulasi informasi. Mereka belajar memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas, tetapi belum tentu memahami batas antara belajar dan menyalin. Mereka diajak aktif di media sosial sekolah, tetapi belum tentu dibimbing mengenai jejak digital yang akan mengikuti mereka hingga dewasa. Padahal, karakter digital tidak lahir dari ceramah tentang moral. Ia dibangun melalui pengalaman belajar yang sengaja dirancang.

Di sinilah Teknologi Pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis. Sayangnya, istilah Teknologi Pendidikan masih sering disalahpahami sebatas penggunaan laptop, proyektor, atau aplikasi pembelajaran. Padahal, hakikatnya jauh lebih luas, yaitu merancang pengalaman belajar agar manusia berkembang secara utuh, baik pengetahuan, keterampilan, maupun karakternya.

Artinya, keberhasilan transformasi digital pendidikan bukan diukur dari seberapa banyak sekolah memiliki perangkat canggih, melainkan dari seberapa baik teknologi digunakan untuk membentuk peserta didik yang kritis, bertanggung jawab, dan berempati. Karakter di dunia maya tidak bisa diajarkan melalui slogan “bijak bermedia sosial”. Anak perlu mengalami langsung bagaimana menggunakan teknologi untuk tujuan yang bermakna.

Mendidik Anak di Era Algoritma: Saat Teknologi Pendidikan Harus Melampaui Ruang Kelas
BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider

Bayangkan jika tugas sekolah tidak lagi sekadar membuat rangkuman, tetapi mengajak siswa membuat kampanye digital melawan perundungan siber. Atau ketika pembelajaran sejarah dipadukan dengan proyek membuat konten edukatif tentang tokoh bangsa di media sosial. Bahkan AI dapat dimanfaatkan untuk berdiskusi, mencari sudut pandang berbeda, dan melatih kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menghasilkan jawaban instan. Dalam proses seperti itu, teknologi menjadi sarana membangun karakter, bukan sekadar alat menyampaikan materi.

Di sisi lain, guru juga perlu mengubah perannya. Di era algoritma, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Informasi tersedia di mana-mana, bahkan dalam hitungan detik. Yang dibutuhkan peserta didik justru sosok yang mampu membimbing mereka memilah informasi, menguji kebenaran, mengelola emosi ketika berinteraksi di ruang digital, dan mengambil keputusan secara etis.

Begitu pula dengan orang tua.
Mengawasi layar anak tanpa memahami dunia digital tidak lagi cukup. Pendampingan harus berubah menjadi dialog. Orang tua perlu mengetahui aplikasi yang digunakan anak, memahami bagaimana algoritma bekerja, serta membangun kepercayaan agar anak mau bercerita ketika menemukan konten yang membingungkan atau mengganggu.

Indonesia sebenarnya sedang bergerak menuju ruang digital yang lebih ramah anak melalui berbagai kebijakan perlindungan anak di internet. Namun, regulasi hanya akan menjadi pagar. Yang menentukan isi rumah tetaplah pendidikan. Tanpa karakter yang kuat, pagar setinggi apa pun akan selalu memiliki celah.

Kita sering khawatir anak akan digantikan oleh kecerdasan buatan. Kekhawatiran itu kurang tepat. Yang lebih perlu dikhawatirkan adalah ketika anak kehilangan kemampuan berpikir kritis, empati, kejujuran, dan tanggung jawab karena terlalu bergantung pada teknologi.

Bangsa ini tidak sedang berlomba menciptakan generasi yang paling cepat menggunakan AI atau paling aktif di media sosial. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu mengendalikan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Sebab pada akhirnya, algoritma memang dapat menentukan apa yang dilihat anak setiap hari. Namun, hanya pendidikan yang mampu menentukan akan menjadi manusia seperti apa mereka di masa depan.

Di era algoritma, ruang kelas tidak lagi dibatasi oleh empat dinding sekolah. Ruang kelas telah berpindah ke layar yang selalu berada di genggaman anak-anak kita. Karena itu, Teknologi Pendidikan tidak boleh berhenti pada urusan perangkat dan aplikasi. Ia harus hadir sebagai kekuatan yang memastikan bahwa di tengah derasnya arus informasi, karakter tetap menjadi kompas utama bagi generasi penerus bangsa.

Komentar Klik di Sini