KUPANG — METROPAGINEWS.COM || Herry Budijanto Dragono atau yang disapa Mbah Dragon kembali mengunjungi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan membawa rangkaian kegiatan yang cukup beragam. Tidak hanya mengeksplorasi potensi wisata bawah laut bersama tim Basarnas, Herry juga memanfaatkan kunjungannya untuk berbagi keterampilan kepada guru-guru Sekolah Minggu di wilayah pedalaman yang tidak memiliki jaringan dan listrik yakni di GMIT Imanuel Fatukona, GMIT Imanuel Kuafeu, GMIT Eklesia Bon Ana.
Kunjungan kali ini menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan momentum ulang tahunnya yang ke-60 pada 7 September. Alih-alih sekadar merayakan ulang tahun, Herry memilih mengisinya dengan berbagai kegiatan yang menurutnya dapat memberikan manfaat bagi orang lain sekaligus ikut mendorong pengembangan potensi wisata NTT.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah pengalaman cave diving di Gua Kristal, Kupang. Herry melakukan penyelaman bersama dua orang dari Basarnas.
Herry mengakui bahwa menyelam di dalam gua merupakan kegiatan yang memiliki risiko tinggi. Karena itu, secara umum kegiatan cave diving seharusnya dilakukan oleh penyelam yang memiliki lisensi dan kompetensi khusus.
“Ini suatu kegiatan yang sangat berbahaya. Seharusnya orang yang masuk ke dalam gua seperti ini adalah orang yang sudah memiliki lisensi dan kompetensi,” ungkap Herry.
Meski demikian, menurut Herry, Gua Kristal memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejumlah gua bawah air lainnya. Pada bagian atas Gua Kristal tidak terdapat stalaktit sehingga kondisi tersebut membuatnya relatif memungkinkan untuk dimasuki dengan teknik penyelaman tertentu.
Ia membandingkannya dengan gua-gua lain yang memiliki banyak stalaktit. Untuk gua dengan kondisi seperti itu, penyelam membutuhkan perlengkapan dan sertifikasi yang lebih khusus.
Herry sendiri mengaku belum memiliki seluruh sertifikasi yang dibutuhkan untuk melakukan penyelaman pada gua dengan tingkat kesulitan ekstrem. Ia menyebut salah satu sertifikasi yang perlu dimiliki adalah sidemount, dengan pelatihan yang dapat dilakukan selama dua hari di Bali dan membutuhkan biaya sekitar Rp6,5 juta.
Menurutnya, selain perlengkapan, kemampuan penyelam dalam menjaga kestabilan tubuh di dalam air atau buoyancy menjadi faktor yang sangat penting.
Kemampuan tersebut dibutuhkan agar penyelam tidak naik-turun secara tidak terkendali. Pasalnya, di dalam gua terdapat endapan lumpur yang bisa terangkat apabila penyelam melakukan gerakan kaki atau sirip secara berlebihan.
“Kalau tidak memiliki buoyancy yang baik, ketika mengibaskan fin, lumpur bisa naik semua. Akhirnya air menjadi gelap dan jarak pandang hilang,” jelasnya.
Keselamatan menjadi perhatian utama Herry ketika melakukan penyelaman di Gua Kristal. Karena kondisi di dalam gua sangat gelap, penerangan bawah air menjadi perlengkapan yang tidak boleh diabaikan.
Herry bahkan membawa empat senter bawah air dalam kegiatan tersebut. Dua digunakan oleh dirinya, sementara dua lainnya diberikan kepada anggota tim sebagai perlengkapan dan cadangan.
Menurutnya, membawa lebih dari satu senter merupakan bagian penting dari prosedur keselamatan. Sebab, apabila salah satu senter mengalami gangguan ketika berada di dalam gua, masih tersedia sumber penerangan lain.
Ia juga mengingatkan agar penyelam tidak menggunakan peralatan penerangan yang kualitasnya tidak terjamin.
Herry mengaku pernah membeli senter murah yang hanya dapat digunakan sekali sebelum mengalami kerusakan. Dari pengalaman tersebut, ia menilai aspek keselamatan tidak boleh dikorbankan hanya demi menghemat biaya.
“Ini masalah safety. Kalau masuk ke tempat seperti gua, peralatan harus benar-benar bagus,” katanya.
Di dalam Gua Kristal juga terdapat jalur yang ditandai dengan tali berwarna oranye. Penanda tersebut dibuat untuk membantu penyelam mengikuti jalur menuju chamber atau ruang di bagian dalam gua.
Menurut Herry, keberadaan tali penanda sangat membantu karena di dalam gua terdapat sejumlah persimpangan. Dengan mengikuti jalur yang telah tersedia, risiko tersesat dapat diminimalkan.
Ia menilai Gua Kristal cukup menarik untuk menjadi salah satu lokasi pengenalan cave diving bagi penyelam yang ingin mencoba pengalaman berbeda, tentunya dengan tetap memperhatikan aspek kompetensi, pendampingan, perlengkapan dan keselamatan.
Bagi penyelam yang ingin mencoba tantangan lebih ekstrem, Herry menyebut sejumlah gua di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena karakteristik guanya.
Tidak berhenti di Gua Kristal, Herry juga melakukan eksplorasi kawasan Pulau Semau bersama tim Basarnas.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mencari potensi baru sekaligus mendorong promosi wisata bawah laut NTT, khususnya di wilayah Kupang.
Herry mengakui bahwa Pulau Semau masih belum sepenuhnya dieksplorasi. Karena itu, ia belum dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai potensi bawah laut kawasan tersebut.
Menurut penilaiannya sementara, Pulau Semau memang belum dapat dibandingkan dengan destinasi bawah laut yang telah lebih dikenal seperti Komodo maupun sejumlah lokasi lain yang memiliki keindahan bawah laut luar biasa.
Namun, ia menegaskan masih terbuka peluang ditemukannya lokasi-lokasi menarik karena wilayah tersebut belum dieksplorasi secara menyeluruh.
“Di bagian utara Pulau Sumo kabarnya juga ada coral yang bagus dan ukurannya sangat besar. Itu juga belum saya eksplor,” ujarnya.
Selain Pulau Semau, Pulau Kera juga masuk dalam rencana eksplorasi berikutnya.
Herry berencana kembali ke Kupang dan melanjutkan eksplorasi bersama tim Basarnas untuk mencari titik-titik penyelaman yang memiliki potensi besar bagi pengembangan pariwisata bawah laut NTT.
*Ulang Tahun ke-60 Diisi dengan Berbagi*
Rangkaian kunjungan Herry ke Kupang tidak hanya diisi kegiatan eksplorasi. Momentum ulang tahunnya yang ke-60 justru dimanfaatkan untuk berbagi ilmu dan keterampilan kepada masyarakat.
Pada 9 September, Herry melakukan perjalanan menuju Desa Fatukona. Perjalanan dari Kota Kupang menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam karena kondisi jalan yang cukup berat.
Salah satu tantangan perjalanan adalah kondisi jalan offroad serta harus melewati empat sungai. Pada musim kemarau, jalur tersebut masih dapat dilalui meski cukup berat.
Namun, menurut Herry, kondisi akan berbeda ketika memasuki musim hujan. Sungai-sungai tersebut dapat meluap dan jalan berubah menjadi berlumpur sehingga kendaraan biasa akan kesulitan melintas.
Kendaraan offroad 4×4 atau kendaraan dengan kemampuan khusus menjadi pilihan untuk melewati jalur tersebut dalam kondisi ekstrem.
Herry kemudian menginap satu malam di Desa Fatukona agar dapat memberikan pelatihan pada pagi berikutnya.
Pelatihan tersebut awalnya direncanakan melibatkan empat desa. Namun, salah satu kelompok tidak dapat hadir karena harus mengikuti kegiatan pembukaan jalan dan ibadah di wilayahnya.
Akhirnya, pelatihan diikuti tiga gereja dengan sekitar delapan peserta. Dalam kegiatan tersebut turut hadir Pdt. Adolfina Aome dari GMIT Imanuel Fatukona.
Yang membuat pelatihan tersebut berbeda adalah materi yang diberikan Herry bukan sekadar teori.
Ia mengajarkan 12 trik sulap sederhana sekaligus membagikan sembilan alat yang dapat digunakan sebagai alat peraga dalam pelayanan Sekolah Minggu.
Herry mengatakan, alat-alat tersebut dapat membantu guru Sekolah Minggu membuat penyampaian cerita Alkitab menjadi lebih menarik bagi anak-anak.
“Biasanya pelatihan hanya berbicara atau memberikan materi. Kali ini saya memberikan skill sekaligus alatnya,” ujarnya.
Trik yang diajarkan dibuat sederhana sehingga mudah dipelajari. Materinya bahkan dikaitkan dengan cerita Alkitab, mulai dari kisah penciptaan hingga Tuhan Yesus naik ke surga.
Salah satu contoh yang diberikan adalah trik menggunakan pot kosong. Dari sesuatu yang awalnya terlihat kosong, kemudian dapat muncul bunga sebagai bagian dari ilustrasi sederhana untuk menyampaikan cerita tentang penciptaan.
Herry sengaja memberikan trik yang mudah terlebih dahulu. Setelah peserta menguasainya, mereka dapat mengikuti pelatihan lanjutan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Menurutnya, pelatihan lanjutan nantinya akan diberikan kepada peserta yang benar-benar telah menguasai sebagian besar trik dasar.
Setelah kegiatan di Fatukona, Herry juga memberikan pelatihan kepada guru-guru Sekolah Minggu di GKI N Revival.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar tujuh orang guru Sekolah Minggu. Herry membagikan 11 trik sulap sekaligus sejumlah alat yang dapat digunakan untuk mendukung pelayanan kepada anak-anak.
Pdt. Medolina Dupe dari GKI N Revival turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Rangkaian pelatihan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Evangelis Liin Laamaly.
Para peserta mengaku antusias karena kegiatan yang awalnya mereka bayangkan hanya berupa pertemuan dan berbagi pengalaman ternyata memberikan keterampilan praktis sekaligus alat yang bisa langsung digunakan.
Bagi Herry, sulap bukan sekadar hiburan. Jika digunakan secara tepat, sulap dapat menjadi alat peraga yang efektif untuk menarik perhatian anak-anak dan membantu guru Sekolah Minggu menyampaikan pesan-pesan Alkitab dengan cara yang lebih kreatif dan menyenangkan.
Rangkaian kegiatan Herry selama berada di Kupang berlangsung dalam suasana berbagi dan eksplorasi.
Ia berharap kegiatan eksplorasi wisata bawah laut dapat ikut memperkenalkan potensi wisata NTT, khususnya Kupang, sementara pelatihan bagi guru Sekolah Minggu diharapkan dapat memberikan keterampilan baru yang bermanfaat dalam pelayanan.
Herry dijadwalkan kembali ke Yogyakarta pada 15 September. Setelah itu, ia memiliki agenda workshop di Jakarta pada 26 September.
Namun, rencana untuk kembali ke Kupang sudah disiapkan. Ia memperkirakan akan kembali pada Desember mendatang, sekaligus membuka peluang untuk melanjutkan eksplorasi wisata bawah laut bersama tim Basarnas.
Bagi Herry, masih banyak potensi NTT yang belum terungkap. Selain destinasi yang sudah terkenal seperti Komodo dan Alor, menurutnya masih ada banyak kawasan bawah laut yang perlu dieksplorasi secara bertanggung jawab.
Kunjungan kali ini pun menjadi bukti bahwa perjalanan ke Kupang baginya bukan sekadar kunjungan biasa. Di usia 60 tahun, Herry memilih merayakannya dengan dua hal yang ia tekuni: mengeksplorasi potensi alam sekaligus berbagi ilmu dan keterampilan kepada masyarakat.
(Alberto)



Komentar Klik di Sini