KUPANG – METROPAGINEWS.COM || Limbah plastik yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan ternyata dapat diubah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Melalui inovasi dan pendampingan dari kalangan akademisi, masyarakat kini diperkenalkan dengan teknologi sederhana untuk mengolah sampah plastik menjadi paving block dan dinding tempel atau wall-drop.

Upaya tersebut dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui kolaborasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Kegiatan bertajuk “Transformasi Limbah Plastik Menjadi Paving Block dan Dinding Tempel (Wall-Drop) Bernilai Tambah di Desa Kuanheun, Kabupaten Kupang” ini digelar di Balai Desa Kuanheun pada Senin (31/8/2026).
Sejak pagi, suasana Balai Desa Kuanheun tampak berbeda. Peserta dari berbagai unsur masyarakat hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WITA hingga sore hari itu tidak hanya menghadirkan materi dan diskusi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mempraktikkan secara langsung proses pengolahan limbah plastik menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Kegiatan dibuka secara resmi dengan sambutan Kepala Desa Kuanheun, Semin R. Polin, S.Pd.K.
Dalam sambutannya, Semin menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada Universitas Nusa Cendana yang telah memilih Desa Kuanheun sebagai lokasi pelaksanaan program Pengabdian kepada Masyarakat.
Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat merupakan bentuk nyata sinergi dalam membangun desa melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.
“Kami menyambut baik kehadiran tim dari perguruan tinggi. Ini adalah bentuk nyata sinergi antara desa dan akademisi. Kami berharap masyarakat dapat menyerap ilmu yang diberikan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Semin.
Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diberikan kepada masyarakat tidak hanya menjadi tambahan wawasan, tetapi benar-benar dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Terlebih, persoalan sampah plastik menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, warga Desa Kuanheun diharapkan mampu melihat limbah plastik bukan semata-mata sebagai sampah, melainkan sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk produktif.
Ketua Tim PKM, Suhartati, S.Tr.Ak., M.Ak., yang merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari proposal pengabdian yang disusun berdasarkan hasil observasi serta kebutuhan masyarakat Desa Kuanheun.
Menurutnya, kolaborasi antara FEB dan FKIP Undana sengaja dibangun agar kegiatan pengabdian tidak hanya berfokus pada satu aspek.
FEB mengambil peran dalam memberikan pemahaman mengenai manajemen usaha dan pengembangan potensi ekonomi, sementara FKIP memberikan dukungan dalam aspek pendidikan, pengembangan sumber daya manusia serta keterampilan praktis kepada masyarakat.
“FEB hadir untuk membekali masyarakat dengan keterampilan ekonomi dan manajemen usaha, sementara FKIP memberikan sentuhan pada aspek pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Kami ingin masyarakat Desa Kuanheun tidak hanya pintar secara teori, tetapi juga terampil secara praktis,” tegas Suhartati.
Ia menjelaskan, kegiatan pengabdian ini dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang kepada masyarakat.
Selain memahami cara mengolah limbah plastik, peserta juga diberikan gambaran mengenai bagaimana produk hasil pengolahan tersebut dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan produktivitas dan ekonomi masyarakat.
Memasuki sesi utama kegiatan, peserta mendapatkan materi dari narasumber utama, Gilbert Elliek, S.Pd.
Praktisi tersebut memaparkan berbagai hal terkait pengolahan limbah plastik menjadi paving block dan dinding tempel atau wall-drop.
Dengan gaya penyampaian yang lugas dan mudah dipahami, Gilbert mengajak peserta untuk mengubah cara pandang terhadap keberadaan sampah plastik.
Menurutnya, limbah plastik yang selama ini sulit terurai dan menjadi persoalan lingkungan sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk.
Dalam pemaparannya, Gilbert menjelaskan pentingnya proses pengolahan limbah secara tepat agar sampah plastik dapat memberikan manfaat baru bagi masyarakat.
Ia juga menyampaikan sejumlah contoh dan pengalaman terkait pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.
Materi yang disampaikan mendapat respons positif dari peserta.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi diskusi.
Sejumlah peserta mengaku selama ini masih mengalami kesulitan dalam mengelola limbah rumah tangga, khususnya sampah plastik yang terus dihasilkan setiap hari.
Karena itu, materi mengenai transformasi limbah plastik dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang menarik dalam kegiatan tersebut.
Peserta aktif berdiskusi dengan narasumber mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah.
Mulai dari proses pengumpulan limbah plastik, pemilahan bahan, pengolahan hingga kemungkinan pengembangan produk menjadi usaha masyarakat.
Seorang peserta mengungkapkan bahwa persoalan limbah plastik selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi warga.
Sampah rumah tangga sering kali hanya dibuang atau dibakar tanpa melalui proses pengolahan yang dapat memberikan manfaat.
Kehadiran Tim PKM Undana, menurut peserta, memberikan pengetahuan baru bahwa limbah plastik ternyata dapat diubah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Interaksi antara masyarakat dan narasumber membuat suasana kegiatan berlangsung hidup.
Para peserta tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi terlibat langsung dalam proses diskusi dan berbagi pengalaman.
Setelah mendapatkan pembekalan teori, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik dan pendampingan langsung.
Pada tahap ini, peserta diberikan kesempatan untuk memahami secara langsung proses pengolahan limbah plastik menjadi paving block dan wall-drop.
Tim PKM dari FEB dan FKIP Undana secara bergantian memberikan pendampingan kepada masyarakat.
Peserta dibagi ke dalam sejumlah kelompok kecil agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.
Tim dari FEB memberikan pendampingan terkait manajemen dan pengembangan usaha.
Masyarakat diperkenalkan pada pentingnya pengelolaan usaha, perencanaan produksi serta peluang pengembangan produk hasil inovasi limbah.
Sementara tim dari FKIP memberikan pendampingan dalam proses pengolahan dan pembuatan paving block serta dinding tempel.
Para peserta mendapatkan arahan secara langsung dari dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Model pembelajaran berbasis praktik ini membuat masyarakat tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam proses pembuatan produk.
Antusiasme peserta terlihat selama proses praktik berlangsung.
Warga mengikuti setiap tahapan dengan serius dan aktif bertanya ketika menemukan kesulitan.
Pendampingan intensif dari tim Undana diharapkan dapat membantu masyarakat menguasai keterampilan tersebut secara bertahap.
Kegiatan PKM ini membawa pesan penting bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai.
Sampah plastik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai dapat menjadi bahan baku produk yang bermanfaat.
Paving block dan wall-drop hasil pengolahan limbah berpotensi dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Selain membantu mengurangi jumlah sampah plastik, inovasi tersebut juga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Melalui pendampingan yang diberikan, masyarakat Desa Kuanheun diharapkan dapat mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri.
Ke depan, produk hasil pengolahan limbah plastik bahkan berpotensi menjadi salah satu kegiatan ekonomi produktif berbasis masyarakat.
Menjelang berakhirnya kegiatan, Ketua Tim PKM Suhartati kembali menegaskan bahwa program pengabdian tersebut tidak berhenti hanya pada pelaksanaan kegiatan sehari.
Tim PKM Undana berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan evaluasi terhadap perkembangan masyarakat.
“Kegiatan ini tidak berhenti hari ini. Kami akan memantau perkembangan peserta dan siap membantu jika ada kendala di lapangan. Kolaborasi FEB dan FKIP ini akan terus berlanjut dalam program-program berikutnya,” pungkas Suhartati.
Komitmen tersebut menjadi bagian penting dari keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat.
Pendampingan secara berkala diharapkan mampu memastikan bahwa ilmu dan keterampilan yang telah diberikan benar-benar dapat diterapkan oleh masyarakat.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta, dosen dan mahasiswa dari FEB dan FKIP Undana.
Pelaksanaan PKM di Desa Kuanheun menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Kolaborasi antara dua fakultas di lingkungan Undana menunjukkan pentingnya kerja sama lintas disiplin ilmu dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
FEB hadir dengan pendekatan ekonomi dan pengembangan usaha, sementara FKIP memperkuat aspek pendidikan dan peningkatan keterampilan masyarakat.
Sinergi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, masyarakat Desa Kuanheun diharapkan semakin memiliki kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan.
Lebih dari itu, warga juga diharapkan mampu memanfaatkan limbah plastik sebagai sumber daya baru yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Melalui inovasi, kreativitas dan pendampingan yang berkelanjutan, limbah plastik yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan kini dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat.
(Alberto)


Komentar Klik di Sini