BerandaPariwisataDiana Nugraheni Sosok Perempuan Hebat di Balik Popularitas Janti Park

Diana Nugraheni Sosok Perempuan Hebat di Balik Popularitas Janti Park

KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Di balik rindangnya pepohonan dan riuh tawa pengunjung Janti Park Polanharjo, ada suara tegas yang kerap mengingatkan makna pemberdayaan sejati. Diana Nugraheni sebagai Manajer Bumdes Jaya Janti, Ia tidak hanya mengatur operasional wisata, namun turut menempatkan Janti Park sebagai ruang transformasi sosial di mana ekonomi lokal, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan bertemu (21/04/2026).

Pada peringatan Hari Kartini tahun ini, Diana menyampaikan pesan yang menjadi benang merah seluruh programnya, “Semoga kita sebagai wanita bisa menjadi perempuan yang berdaya dan bahagia.” Pernyataan itu bukan sekadar harapan simbolis, melainkan landasan praktis yang ia terjemahkan ke dalam kebijakan dan kegiatan nyata di Bumdes Jaya Janti

IMG 20260420 WA0083

Diana melihat emansipasi bukan sebagai tujuan tunggal, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut keseimbangan antara kemandirian ekonomi, kecerdasan intelektual, dan kebijaksanaan moral. “Tantangan emansipasi sekarang sangat berbeda dengan zaman RA Kartini dulu,” ujarnya.

Menurut Diana, perempuan masa kini menghadapi kompleksitas baru, persaingan ekonomi, tuntutan keterampilan digital, serta tekanan sosial yang berubah cepat. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pembekalan keterampilan praktis dan pendidikan yang relevan, sekaligus penguatan karakter agar perempuan mampu mengambil keputusan yang bijak dan berani.

Visi Diana terlihat jelas dalam pengelolaan Bumdes Desa Janti. Di bawah koordinasinya, Janti Park berkembang menjadi destinasi yang ramah keluarga sekaligus pusat pelatihan dan kegiatan sosial. Standar pelayanan, kebersihan, dan keamanan menjadi prioritas, namun yang lebih penting bagi Diana adalah bagaimana setiap program memberi manfaat langsung kepada warga, tak terkecuali perempuan.

Program pelatihan kewirausahaan yang rutin digelar membuka akses bagi perempuan untuk mengembangkan usaha mikro, belajar manajemen sederhana, pemasaran digital, dan pengelolaan keuangan. Dengan demikian, kunjungan wisata tidak hanya menghasilkan pemasukan jangka pendek, tetapi juga modal pengetahuan yang memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Selain aspek ekonomi, Diana menaruh perhatian besar pada dimensi sosial dan spiritual. Kegiatan donor darah, edukasi rohani, dan forum diskusi komunitas menjadi bagian dari kalender Bumdes. “Perempuan yang berdaya bukan hanya yang mampu berdiri secara ekonomi, tetapi juga yang merasakan kebahagiaan batin dan mampu memberi kontribusi positif bagi lingkungan,” kata Diana. Pendekatan holistik ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan menurutnya harus menyentuh seluruh aspek kehidupan, fisik, mental, dan sosial.

Inovasi menjadi kata kunci lain dalam kepemimpinan Diana. Ia mendorong pengembangan atraksi dan layanan yang relevan dengan kebutuhan pengunjung modern tanpa mengabaikan kearifan lokal. Produk UMKM desa diberi ruang di area wisata sehingga pengunjung dapat langsung merasakan dan membeli hasil karya lokal.

Langkah ini tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha mikro, tetapi juga memperkuat identitas budaya desa. Diana percaya bahwa pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan lahir dari sinergi antara kreativitas lokal dan akses pasar yang lebih luas.

Pesan Diana pada Hari Kartini juga mengandung panggilan untuk keberanian moral. Dirinya mengajak perempuan untuk menjadi sosok yang berbudi luhur, cerdas, dan berani menghadapi perubahan. Bagi Diana, “Keberanian itu bukan sekedar berani mengambil resiko bisnis, tetapi juga berani mempertahankan integritas, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, dan berperan aktif dalam pengambilan keputusan di tingkat komunitas.” tegasnya. Ia menilai bahwa ketika perempuan diberi ruang dan dukungan, mereka akan menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan keluarga dan lingkungan menuju kehidupan yang lebih baik.

Saat ini BUMDes Jaya Janti mengelola enam unit usaha utama, pariwisata, perdagangan, perikanan, TPS3R (tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R: reduce, reuse, recycle), peternakan, dan pertanian, dengan sektor pariwisata sebagai tulang punggung melalui Objek Wisata Air Janti Park yang dibangun di atas 2 hektar tanah kas desa yang sebelumnya kurang produktif.

Kini Janti Park menjadi kontributor terbesar bagi dana pengembangan desa karena memiliki tujuh kolam untuk dewasa dan anak-anak serta beberapa variasi aliran pemasukan. Langkah strategis tersebut menunjukkan bagaimana pengelolaan aset desa yang cermat dapat mengubah lahan kurang produktif menjadi sumber pendapatan berkelanjutan dan ruang pemberdayaan masyarakat.

Dampak kepemimpinan Diana telah tampak nyata, peningkatan kunjungan wisata, tumbuhnya lapangan kerja lokal, serta meningkatnya pendapatan UMKM. Namun yang lebih penting baginya adalah “Perubahan sikap dan kapasitas warga, terutama perempuan, yang kini lebih percaya diri mengelola usaha, berbicara di ruang publik, dan berkolaborasi dalam kegiatan komunitas.” ujarnya. Janti Park, di bawah arahan Bumdes Jaya Janti, telah menjadi laboratorium kecil di mana teori pemberdayaan diuji dan dibuktikan dalam praktik sehari-hari.

Kisah Diana Nugraheni mengingatkan bahwa pembangunan lokal yang berkelanjutan membutuhkan pemimpin yang mampu menggabungkan visi ekonomi dengan kepedulian sosial. Pernyataannya pada Hari Kartini bukan sekadar seruan simbolis, melainkan komitmen yang diwujudkan melalui program-program nyata.

Di era yang menuntut perempuan untuk lebih adaptif dan berdaya, Diana menunjukkan bahwa pemberdayaan yang sejati adalah pemberdayaan yang membuat perempuan berdaya, bahagia, dan bermartabat, sebuah warisan yang, bila ditanamkan secara konsisten, akan memberi manfaat panjang bagi generasi mendatang.

( Pitut Saputra )