KLATEN – METROPAGINEWS.COM ||
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Surakarta meluncurkan giat kaderisasi dan peluncuran aplikasi BalitaKu, sebuah sistem informasi gizi balita untuk mempercepat deteksi dini stunting, kegiatan digelar Balai Pertemuan Desa Pundungsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang menargetkan digitalisasi pencatatan gizi dan pemberdayaan kader posyandu sebagai ujung tombak intervensi gizi di tingkat desa (17/07/2026).
Kegiatan di Desa Pundungsari, Trucuk ini dihadiri Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta Sih Rini Handajani, Tim dosen pengabdian masyarakat, Narasumber dari Poltekkes Kemenkes, Ketua Pelaksana Lusinta Agustina, Kepala Desa Aris Sriyono, Bidan Desa Marlina Dewi, dan 35 kader posyandu. Acara dimulai dengan sambutan Ketua Jurusan dan peresmian oleh Kepala Desa, dilanjutkan penyampaian materi oleh dosen dan narasumber, praktek install aplikasi BalitaKu serta pelatihan kader, dan ditutup dengan foto bersama sebagai dokumentasi dan penguatan jejaring antar pemangku kepentingan.

Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Sih Rini Handajani dalam sambutannya menekankan urgensi respons terkoordinasi terhadap stunting. “Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi. Pencatatan manual dan keterlambatan pengolahan data sering menghambat identifikasi anak berisiko. Melalui program pengabdian masyarakat ini, Poltekkes Kemenkes Surakarta ingin menghadirkan salah satu solusi praktis, yakni mengubah data menjadi aksi nyata. Tujuan utama kegiatan adalah mempercepat deteksi dini, meningkatkan kapasitas kader, dan menyediakan data akurat untuk perencanaan intervensi,” ujarnya.
Kepala Desa Aris Sriyono menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut dan berharap digitalisasi akan memudahkan identifikasi anak berisiko sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. “Peresmian pelatihan ini menjadi bukti komitmen bersama antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa,” kata Aris.
Dalam paparan lapangan, Bidan Desa Marlina Dewi turut menjelaskan tantangan yang dihadapi di tingkat desa, seperti keterbatasan sumber daya, akses pelayanan, dan kesadaran masyarakat. Marlina menilai aplikasi BalitaKu membantu mempermudah pencatatan, memantau tren pertumbuhan, dan memberikan peringatan dini sehingga langkah intervensi dan rujukan dapat dilakukan lebih efektif. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara kader, bidan, dan puskesmas agar setiap notifikasi risiko segera bisa ditindaklanjuti.
Pelatihan disusun dengan pendekatan partisipatif dan praktik langsung. Materi mencakup pengenalan stunting, teknik pengukuran antropometri yang benar, penggunaan aplikasi BalitaKu, serta prosedur tindak lanjut ketika ditemukan anak berisiko. Kegiatan dibagi menjadi sesi teori singkat, demo aplikasi, praktik lapangan di posyandu, dan studi kasus untuk memperkuat kemampuan analisis kader. Modul cetak dan digital serta pendampingan langsung oleh tim pengabdian memastikan kader mampu memasukkan data, membaca grafik pertumbuhan, menanggapi notifikasi, dan menyusun rencana rujukan ke puskesmas bila diperlukan.
Lusinta Agustina, Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat, memaparkan bahwa aplikasi BalitaKu dirancang untuk mendukung pemantauan tumbuh kembang anak melalui pengukuran antropometri, perhitungan status gizi otomatis, dan pelaporan real time, “Fitur utama mencakup pendaftaran identitas dan riwayat kesehatan anak, panduan pengukuran serta input tinggi dan berat badan, perhitungan Z‑Score otomatis untuk indikator TB/U dan BB/U, penyajian laporan harian, mingguan, dan bulanan bagi tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan, grafik pertumbuhan individu dan tren kelompok, serta notifikasi otomatis untuk kasus yang memerlukan tindak lanjut atau rujukan,” paparnya.
Lusinta menambahkan, “Aplikasi ini juga menyediakan grafik pertumbuhan individu dan tren kelompok untuk memudahkan interpretasi data, serta notifikasi otomatis bagi kasus yang membutuhkan tindak lanjut atau rujukan, sehingga kader posyandu dan tenaga kesehatan dapat segera mengambil langkah intervensi yang diperlukan.” jelasnya.
Program pengabdian masyarakat ini diprakarsai oleh tim Poltekkes Kemenkes Surakarta yang terdiri dari Sih Rini Handajani, Lusinta Agustina, dan Endah Widhi Astuti. Tim bertugas memberikan pelatihan teknis, memfasilitasi instalasi aplikasi, serta melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan BalitaKu di lapangan. Endah Widhi Astuti menyatakan pendampingan akan dilakukan selama beberapa waktu dengan evaluasi berkala untuk memastikan aplikasi digunakan secara konsisten dan data dimanfaatkan untuk perencanaan intervensi berbasis bukti.
Dampak yang diharapkan dari digitalisasi ini meliputi peningkatan akurasi pencatatan, percepatan deteksi kasus stunting, dan respons intervensi yang lebih cepat. Data yang terpusat dan terstruktur diharapkan mendukung perencanaan program di tingkat kecamatan dan kabupaten serta memudahkan evaluasi capaian intervensi.
Peluncuran aplikasi BalitaKu di Desa Pundungsari menegaskan bahwa digitalisasi bukan tujuan akhir melainkan alat untuk mempercepat aksi di lapangan, dengan kader yang terlatih, dukungan teknis berkelanjutan, dan data yang akurat, upaya pencegahan stunting dapat dimulai sejak dini dan secara nyata memperkuat kualitas sumber daya manusia di tingkat lokal.
Langkah ini hanyalah awal dalam penggunaan aplikasi dan akan didampingi secara intensif, dievaluasi berkala, serta dikembangkan berdasarkan masukan kader dan tenaga kesehatan, kolaborasi lintas sektor antara desa, puskesmas, dan pemerintah kabupaten akan diperkuat agar data yang terkumpul benar‑benar menjadi dasar tindakan nyata, sekaligus menegaskan komitmen Poltekkes Kemenkes Surakarta untuk mewujudkan generasi sehat bebas stunting.
( Pitut Saputra )

