KUPANG — METROPAGINEWS.COM || Pesona Pantai Oesina atau Air Cina di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak perlu diragukan.
Hamparan pasir putih, air laut yang jernih, panorama matahari terbenam serta kekayaan ekosistem pesisir menjadi modal besar bagi kawasan tersebut untuk terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan.
Namun, di balik keindahan alamnya, Pantai Oesina masih menghadapi persoalan mendasar yang berhubungan langsung dengan kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan lingkungan, yakni kondisi fasilitas toilet dan ketersediaan sanitasi air bersih.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang menggagas program “Pengembangan Fasilitas Wisata Berupa Revitalisasi Toilet dan Sanitasi Air Bersih di Pantai Oesina (Air Cina), Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang sebagai Dukungan Implementasi Konsep Pariwisata Berkelanjutan.”
Program tersebut diketuai Andriana Deku, S.Pd., M.Si., dengan anggota Prof. Dr. Tetty Setyawati, M.Pd., Dr. Jakobis J. Messakh, M.Si., Milson M. Selan, S.Pd., M.Si., Roly Edyan, S.Pd., M.Pd.T., dan Ralno Robson Klau, ST., M.Ling.
Tim menilai persoalan toilet dan air bersih tidak dapat dipandang sebagai persoalan fasilitas semata. Dalam konteks destinasi wisata pesisir, sanitasi merupakan bagian penting dari kesehatan pengunjung, kualitas lingkungan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar.
Berdasarkan hasil observasi awal, sejumlah fasilitas toilet di kawasan Pantai Oesina berada dalam kondisi kurang layak.
Beberapa bagian atap seng mengalami kerusakan dan terlepas akibat terpaan angin. Kuda-kuda kayu dan gording juga ditemukan mengalami kerusakan. Sementara itu, terdapat dinding yang retak dan berjamur serta keramik lantai yang pecah maupun terlepas.
Kerusakan juga ditemukan pada bagian pintu toilet. Sebagian pintu mengalami kerusakan bahkan ada yang hilang sehingga mengganggu privasi pengguna.
Kondisi tersebut diperparah dengan saluran air yang tidak lancar, kebersihan yang belum optimal, bau tidak sedap serta minimnya perawatan rutin.
Dari hasil identifikasi lapangan, hanya sekitar dua hingga tiga bilik toilet yang dapat digunakan dan itupun belum optimal.
Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika jumlah pengunjung meningkat, terutama pada musim liburan yang dapat mencapai ratusan orang dalam sehari.
Keterbatasan toilet juga dapat mendorong pengunjung mencari lokasi lain untuk memenuhi kebutuhan biologis, termasuk di area terbuka yang berpotensi menimbulkan persoalan sanitasi dan pencemaran lingkungan.
Selain bangunan toilet, ketersediaan air bersih menjadi persoalan penting yang hendak ditangani melalui program tersebut.
Saat ini sumber air di kawasan pantai masih mengandalkan sumur gali. Sistem distribusinya belum optimal dan pada kondisi tertentu air harus dipindahkan secara manual menggunakan ember.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan air untuk toilet, mencuci tangan dan aktivitas kebersihan lainnya belum dapat terpenuhi secara maksimal.
Tim juga menyoroti kerentanan sumber air dangkal terhadap pencemaran, terutama pada kawasan pesisir yang memiliki karakteristik lingkungan berbeda dengan wilayah daratan.
Karena itu, revitalisasi tidak hanya diarahkan pada perbaikan fisik toilet, tetapi juga penataan jaringan perpipaan dari sumber air menuju fasilitas toilet.
Dalam rancangan pelaksanaan, tim menargetkan revitalisasi tiga unit toilet umum.
Pekerjaan meliputi penggantian atap seng yang rusak, perbaikan struktur kuda-kuda dan gording, perbaikan dinding yang retak, penggantian keramik lantai yang rusak serta pemasangan pintu baru.
Fasilitas juga diarahkan menjadi lebih nyaman, higienis dan inklusif melalui penambahan ventilasi, pencahayaan hemat energi dan akses yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Material yang digunakan akan mempertimbangkan karakter lingkungan pantai yang memiliki paparan udara laut, angin dan kelembapan tinggi.
Tim juga merencanakan penguatan sistem air bersih melalui pemasangan pompa air dan jaringan perpipaan dari sumur menuju toilet.
Penggunaan teknologi penyaringan air juga menjadi bagian dari rancangan pengelolaan sanitasi, dengan kualitas air menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan melalui parameter fisik, kimia dan mikrobiologi sesuai ketentuan yang berlaku.
Hal yang menarik dari program ini adalah pendekatan yang tidak berhenti pada pembangunan dan perbaikan fisik.
Tim PKM juga mendorong pembentukan dan penguatan masyarakat sadar wisata di Desa Lifuleo.
Masyarakat akan dilibatkan dalam sosialisasi, kegiatan kebersihan, pemeliharaan fasilitas serta pengembangan nilai-nilai Sapta Pesona, yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan memberikan kenangan.
Menurut tim, keberadaan fasilitas yang baik tidak akan bertahan lama apabila tidak diikuti sistem pengelolaan dan kesadaran masyarakat.
Karena itu, pemerintah desa, masyarakat, BUMDes dan kelompok sadar wisata atau Pokdarwis diharapkan menjadi bagian penting dalam memastikan fasilitas yang telah direvitalisasi tetap terawat.
Persoalan sanitasi di Pantai Oesina juga memiliki konsekuensi terhadap ekosistem pesisir.
Tim menemukan adanya potensi pencemaran akibat praktik buang air sembarangan serta pembuangan sampah seperti tisu dan kain bekas ke kawasan laut.
Jika tidak dikelola, limbah tersebut dapat mengganggu kualitas lingkungan pesisir dan memberikan tekanan terhadap terumbu karang serta ekosistem laut lainnya.
Hal ini menjadi semakin penting karena kawasan perairan sekitar Oesina juga memiliki potensi konservasi, termasuk titik transplantasi terumbu karang.
Karena itu, perbaikan fasilitas sanitasi dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga sumber daya alam yang justru menjadi daya tarik utama Pantai Oesina.
Pengembangan fasilitas wisata juga diharapkan memberi dampak terhadap perekonomian masyarakat.
Pantai Oesina memiliki peluang untuk dikembangkan melalui berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, seperti kuliner lokal, UMKM, jasa wisata, penginapan dan aktivitas wisata bahari.
Kawasan tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan melalui aktivitas snorkeling, diving, wisata ekologi serta pengelolaan lingkungan pesisir.
Dengan fasilitas dasar yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari aktivitas pariwisata.
Pengembangan wisata juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di Desa Lifuleo.
Program PKM tersebut juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa.
Mahasiswa akan dilibatkan dalam pendataan kondisi bangunan, pengukuran, dokumentasi, pendampingan masyarakat hingga monitoring kegiatan.
Keterlibatan mahasiswa memungkinkan pengetahuan yang diperoleh di kampus diterapkan langsung dalam persoalan nyata di masyarakat.
Sementara itu, tim dosen menjalankan fungsi pendampingan sesuai bidang keahlian masing-masing.
Keahlian pendidikan digunakan untuk penguatan kapasitas masyarakat dan kampanye sadar wisata, bidang sumber daya air dan lingkungan menangani persoalan sumber serta kualitas air, Teknik Sipil mendukung aspek struktur bangunan, sedangkan Teknik Lingkungan menangani sistem sanitasi, pengelolaan air limbah dan teknologi ramah lingkungan.
Pelaksanaan program dirancang melalui sejumlah tahapan.
Tahap awal dilakukan melalui koordinasi, sinkronisasi data dan sosialisasi program bersama pemerintah desa dan masyarakat.
Selanjutnya dilakukan Focus Group Discussion (FGD) baseline dan pendataan kondisi fisik toilet serta sumber air di lokasi.
Tim kemudian melakukan distribusi material secara bertahap, pembersihan lokasi, penyediaan tempat kerja dan pelaksanaan revitalisasi bangunan toilet.
Pekerjaan dilanjutkan dengan revitalisasi jaringan pipa air bersih dari sumur menuju toilet.
Setelah pembangunan, tim akan melaksanakan workshop pemeliharaan toilet berkelanjutan, pendampingan dan monitoring secara intensif.
Pada tahap akhir dilakukan evaluasi serta penyusunan laporan dan publikasi ilmiah.
Program tersebut dirancang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, khususnya tujuan pembangunan berkelanjutan terkait air bersih dan sanitasi serta perlindungan ekosistem laut.
Tim menempatkan toilet dan sanitasi bukan sekadar fasilitas pelengkap, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur penting sebuah destinasi wisata.
Fasilitas yang bersih, aman, mudah diakses dan memiliki ketersediaan air yang memadai akan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan sekaligus membantu menjaga kualitas lingkungan.
Dalam jangka panjang, Pantai Oesina diharapkan dapat berkembang tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kualitas pengelolaannya.
Pantai Oesina memiliki modal alam yang kuat untuk menjadi salah satu destinasi wisata penting di Kabupaten Kupang.
Namun, keberlanjutan destinasi tidak cukup hanya mengandalkan keindahan pantai.
Ketersediaan fasilitas dasar, sanitasi, air bersih, aksesibilitas, kesadaran masyarakat serta perlindungan ekosistem harus menjadi satu kesatuan.
Melalui revitalisasi toilet dan sanitasi air bersih, tim PKM berharap persoalan fasilitas dasar di Pantai Oesina dapat ditangani secara bertahap.
Lebih jauh, program tersebut diharapkan menjadi pemicu perubahan cara pandang bahwa menjaga toilet, air bersih dan kebersihan pantai merupakan bagian integral dari menjaga masa depan pariwisata.
Dengan dukungan pemerintah desa dan keterlibatan aktif masyarakat, Pantai Oesina diharapkan dapat tumbuh sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah secara alamiah, tetapi juga bersih, nyaman, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
(Alberto)



Komentar Klik di Sini