SURABAYA – METROPAGINEWS.COM || Komunitas Jurnalis Jaringan Terpadu (KJJT) Indonesia mengukuhkan kepengurusan periode 2026–2029 sekaligus meneguhkan komitmen organisasi dalam memperkuat edukasi, etika, dan advokasi bagi jurnalis.
Momentum tersebut digelar dalam rangkaian puncak peringatan HUT ke-7 KJJT Indonesia di Hotel Sahid Surabaya, Rabu (9/9/2026).
Acara yang dipandu Wismanti, penyiar Radio Suara Surabaya, turut dihadiri perwakilan Dewan Pers, Abdul Manan, selaku Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan. Dalam kesempatan tersebut, Abdul Manan menyerahkan pataka KJJT Indonesia kepada Noor Arief Presetyo yang dikukuhkan sebagai Ketua Umum KJJT Indonesia periode 2026–2029.

Ketua Pelaksana HUT ke-7 KJJT Indonesia, Arri Pratama, mengatakan perbedaan merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi. Namun, menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menghilangkan rasa persaudaraan.
“Perbedaan adalah suatu yang biasa dalam sebuah organisasi, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan,” kata Arri.
Ia mengajak seluruh anggota KJJT Indonesia mengedepankan komunikasi, musyawarah, dan sikap saling menguatkan dalam menjalankan roda organisasi.
“Mari kita kedepankan komunikasi, musyawarah, saling menguatkan karena saya percaya organisasi yang kuat bukan organisasi yang tidak pernah memiliki perbedaan, tetapi organisasi yang mampu menyelesaikan perbedaan dengan kepala dingin dan tetap menjaga persaudaraan,” ujarnya.
Arri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap rangkaian kegiatan HUT ke-7 KJJT Indonesia.
“Atas nama panitia, kami sudah menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor, donatur, mitra kerja, serta rekan-rekan yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga, pikiran, waktu, maupun materi,” katanya.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik.
“Kami menyadari bahwa acara ini tidak mungkin dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan dari semuanya. Untuk semuanya, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ujarnya.
Arri berharap momentum HUT ke-7 tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang evaluasi dan refleksi bagi perjalanan organisasi.
“Kami berharap untuk KJJT Indonesia, organisasi lebih dari itu. Ini harus menjadi titik evaluasi dan refleksi bagi kita semua,” katanya.
Ia juga berharap hubungan KJJT Indonesia dengan pemerintah, TNI, kejaksaan, Dewan Pers, komunitas, dunia usaha, serta masyarakat semakin kuat.
“Kita boleh beda organisasi, kita boleh berbeda pandangan, kita boleh memilih kepada mereka, tetapi kita berbicara tentang kemajuan, kepentingan masyarakat, dan kemajuan bangsa. Mari kita bersama dalam sebuah komunikasi yang baik,” tuturnya.
Enam Tahun Memperkuat Fondasi
Sementara itu, Ketua Umum KJJT Indonesia, Noor Arief Presetyo, menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, undangan, anggota, dan simpatisan KJJT yang hadir.
“Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya saya haturkan kepada narasumber, undangan, anggota, dan simpatisan KJJT,” kata Arief.
Arief mengatakan, HUT ke-7 menjadi momentum penting bagi KJJT karena untuk pertama kalinya organisasi tersebut menggelar kegiatan dengan melibatkan undangan dari luar dalam skala yang lebih besar.
“Tahun ini adalah HUT ke-7, dan ini adalah kegiatan kami yang pertama kali melibatkan undangan luar dan menggelar acara seperti ini,” ujarnya.
Menurut Arief, selama enam tahun pertama, KJJT sengaja memprioritaskan penguatan fondasi organisasi.
“Selama 6 tahun, kami sengaja memperkuat pondasi. Lambat memang proses pondasi organisasi ini karena kami lahir di tahun 2019. Pandemi dan PPKM berkepanjangan membuat kami tidak bisa bergerak menguatkan pondasi organisasi,” katanya.
Memasuki dua tahun terakhir, KJJT mulai mempercepat konsolidasi dan penguatan internal.
“Dua tahun itu kami lakukan penguatan, konsolidasi anggota. Tidak mudah memang menyatukan ratusan keinginan anggota. Tapi juga tidak sulit melakukan itu,” ujar Noor.
Ia menilai komunikasi menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan organisasi.
“Kami bergerak di bidang komunikasi dan dengan komunikasi lah kami selesaikan satu per satu halangan yang ada,” katanya.
Tahun ketujuh, lanjut Arief, menjadi momentum bagi KJJT untuk memperluas kiprahnya dari tingkat Jawa Timur menuju organisasi yang lebih luas.
“Dan tahun ini waktunya kami mulai keluar dari kandang dan unjuk kekuatan. Para undangan yang terhormat, inilah kami. KJJT yang akan berubah menjadi KJJT Indonesia,” tegasnya.
Menurutnya, perluasan organisasi tersebut merupakan bagian dari upaya membuka ruang perkembangan yang lebih besar.
“Karena bagi kami, Jawa Timur terlalu sempit untuk kami berkembang besar,” imbuhnya.
Menjaga Marwah Profesi Wartawan
Arief mengungkapkan, KJJT lahir dari kegelisahan dirinya bersama empat pendiri lainnya, yakni Agusnal Fitraluis, Isma Hakim, Abdul Muis yang kemudian mengundurkan diri, serta Slamet Maulana atau yang akrab dipanggil Ade.
Sejak berdiri, Ade menjabat sebagai ketua umum dan berperan dalam membangun fondasi organisasi hingga wafat pada 5 April 2026. Setelah itu, Arief ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) ketua umum.
“Setelah meninggal, saya yang ditunjuk menjadi Plt ketua umum,” kata Arief.
Arief mengatakan, salah satu kegelisahan yang melatarbelakangi berdirinya KJJT berkaitan dengan marwah dan citra profesi wartawan.
“Kami gelisah terhadap marwah profesi ini. Terutama saya. Saya sampai saat ini masih menjadi wartawan dan saya masih punya anak yang sekolah,” ujarnya.
Ia berharap profesi wartawan tetap dipandang sebagai profesi yang memiliki integritas dan layak dibanggakan.
Arief bahkan membayangkan suatu saat anaknya dapat dengan bangga menyebut profesi orang tuanya sebagai wartawan tanpa dibayangi stigma negatif akibat perilaku oknum.
“Anak saya dengan bangga menyebutkan, Ayah saya wartawan, Pak,” ujarnya.
Ia tidak ingin profesi wartawan dipandang negatif akibat ulah oknum yang menggunakan status kewartawanan untuk kepentingan tertentu.
“Saya tidak mau guru atau kepala sekolah anak saya ada gambaran, ‘Oh, wartawan ya. Jangan-jangan seperti wartawan yang kapan hari datang ke sekolah dan tanya BOS, tanya uang sumbangan pembangunan sekolah, atau iuran yang dilakukan komite,’” katanya.
Karena itu, Arief menegaskan KJJT Indonesia akan terus mendorong penguatan edukasi, etika, dan advokasi bagi para jurnalis, khususnya mereka yang bekerja di media-media rintisan.
“Karenanya, komunitas ini fokus pada edukasi, etika, dan advokasi kepada teman jurnalis. Terutama rekan jurnalis dari media-media rintisan yang ada,” ujarnya.
Dihadiri Sejumlah Pemangku Kepentingan
Puncak HUT ke-7 KJJT Indonesia tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Hadir pula Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polrestabes Surabaya, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polresta Sidoarjo, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Gresik, perwakilan Korem 084/Bhaskara Jaya, Ketua PWI Jawa Timur, Ketua AJI Surabaya, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Surabaya, serta sejumlah kelompok kerja wartawan di Surabaya.
Pelaksanaan HUT ke-7 KJJT Indonesia mendapat dukungan dari Planet Toys, PT Pelindo, Kantor Hukum Johanes Dipa Widjaja & Partners, Satreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Aqua, PT Petrokimia, KSP Perintis 77, PT Hari Mandiri Sejahtera, dan PT Wilmar.
(Redho Fitriyadi)



Komentar Klik di Sini