Oleh : Yovita Yormasari
OPINI – METROPAGINEWS.COM || Menurut saya, literasi bukan hanya kegiatan membaca buku, melainkan cara untuk membuka pikiran dan memahami dunia yang lebih luas. Sebagai seorang pelajar, saya menyadari bahwa literasi sangat penting untuk menambah pengetahuan, memperluas wawasan, dan melatih kemampuan berpikir kritis. Melalui literasi, kita dapat belajar memahami berbagai informasi dan melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Namun, saya juga menganggap membaca sebagai kegiatan yang membosankan, terutama ketika harus membaca tulisan yang panjang dan kurang menarik. Terkadang, saya merasa lebih tertarik bermain HP atau melakukan kegiatan lain daripada meluangkan waktu untuk membaca.
Saya menyadari bahwa mungkin selama ini saya terlalu menganggap membaca sebagai kewajiban, bukan sebagai kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru. Hal ini menjadi tantangan bagi saya dan pelajar lainnya dalam membangun kebiasaan literasi.
Padahal, jika saya mulai membaca sesuatu yang sesuai dengan minat saya, kegiatan membaca mungkin bisa terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Menurut saya, pengalaman seperti ini mungkin juga dirasakan oleh pelajar lainnya. Ada kalanya kita mengetahui bahwa membaca itu penting, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu membuat kita langsung memiliki keinginan untuk membaca. Kita mungkin lebih mudah tertarik pada sesuatu yang memberikan hiburan secara langsung daripada kegiatan yang manfaatnya baru terasa setelah beberapa waktu. Saya sendiri menyadari bahwa mengetahui pentingnya literasi saja tidak cukup.
Saya perlu membangun kemauan dan mencoba mengubah cara pandang saya terhadap kegiatan membaca.
Setelah memikirkannya, saya mulai menyadari bahwa mungkin bukan membaca yang sepenuhnya membosankan, melainkan cara saya memandang kegiatan tersebut. Jika saya menganggap membaca hanya sebagai kewajiban untuk menyelesaikan tugas sekolah, tentu kegiatan itu akan terasa berat.
Sebaliknya, jika saya membaca karena ingin mengetahui sesuatu yang menarik, kegiatan tersebut mungkin akan terasa lebih menyenangkan. Misalnya, saya dapat membaca cerita yang mengandung pesan kehidupan, artikel tentang pendidikan, atau informasi mengenai hal-hal yang ingin saya ketahui.
Dengan demikian, saya berpendapat bahwa menemukan bacaan yang sesuai dengan minat merupakan salah satu langkah untuk menumbuhkan kebiasaan literasi.
Menurut pendapat saya, salah satu tantangan dalam meningkatkan literasi di kalangan pelajar adalah penggunaan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. HP telah menjadi alat yang sering digunakan untuk berkomunikasi, mencari hiburan, dan memperoleh informasi. Teknologi sebenarnya memberikan banyak kemudahan, termasuk kesempatan untuk membaca buku digital dan artikel pendidikan.
Namun, jika tidak digunakan dengan bijak, HP juga dapat membuat kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk hiburan daripada belajar.
Saya tidak berpendapat bahwa penggunaan HP merupakan sesuatu yang selalu buruk. Menurut saya, masalahnya terletak pada bagaimana kita menggunakannya. HP dapat menjadi sarana yang bermanfaat apabila digunakan untuk mencari pengetahuan, membaca berita, atau mempelajari materi yang belum dipahami.
Sebaliknya, jika kita terus-menerus menggunakannya untuk kegiatan yang tidak memberikan manfaat bagi pembelajaran, waktu yang tersedia untuk membaca bisa semakin berkurang.
Selain itu, saya berpendapat bahwa pelajar perlu belajar membedakan informasi yang benar dan informasi yang belum tentu dapat dipercaya. Pada zaman sekarang, berbagai informasi dapat ditemukan dengan mudah di internet. Akan tetapi, tidak semua informasi yang beredar memiliki sumber yang jelas atau isi yang benar. Oleh sebab itu, literasi tidak cukup hanya dengan membaca informasi, tetapi juga harus disertai kemampuan untuk memahami, memeriksa, dan menilai informasi tersebut.

BACA JUGA : Sinergi Ekosistem Online Delanggu merayakan 5 tahun kebersamaan komunitas Ojol gabungan Delanggu Free Rider
Menurut saya, kemampuan ini sangat penting agar pelajar tidak mudah percaya pada berita yang belum terbukti kebenarannya. Menurut saya, meningkatkan literasi tidak harus dimulai dengan membaca banyak buku sekaligus. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Sebagai contoh, saya dapat meluangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap hari untuk membaca buku atau artikel yang menarik. Setelah selesai membaca, saya bisa menuliskan beberapa kalimat mengenai isi bacaan tersebut. Dengan cara ini, saya tidak hanya melatih kemampuan membaca, tetapi juga belajar memahami dan mengingat informasi yang telah diperoleh.
Selain membaca secara mandiri, kegiatan literasi juga dapat dilakukan bersama teman-teman di sekolah. Misalnya, kami dapat saling menceritakan isi buku yang telah dibaca, mendiskusikan suatu artikel, atau menyampaikan pendapat mengenai topik tertentu. Menurut saya, kegiatan seperti ini dapat membuat literasi terasa lebih menarik karena kami tidak hanya membaca, tetapi juga bertukar pikiran dan belajar menghargai pendapat orang lain.
Sekolah juga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan literasi. Menurut saya, guru dapat menciptakan kegiatan membaca yang lebih menarik dan tidak selalu berfokus pada tugas tertulis. Misalnya, Saya dapat diberikan kesempatan untuk memilih bacaan sesuai minat, kemudian menceritakan hal menarik yang diperoleh dari bacaan tersebut.
Perpustakaan sekolah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk mencari pengetahuan dan mengembangkan minat membaca. Dengan dukungan lingkungan sekolah yang positif, Saya sebagai pelajar dapat melihat literasi sebagai kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.
Setiap pelajar juga perlu memiliki kesadaran untuk mengembangkan dirinya sendiri. Guru dapat memberikan arahan dan orang tua dapat memberikan dukungan, tetapi kemauan untuk belajar tetap perlu tumbuh dalam diri setiap individu. Saya menyadari bahwa perubahan tidak akan terjadi jika saya hanya mengetahui pentingnya membaca tanpa berusaha melakukannya.
Melalui kegiatan membaca, saya dapat mengenal pengalaman orang lain, mempelajari berbagai persoalan, dan memahami bahwa setiap orang mungkin memiliki pandangan yang berbeda. Bacaan juga dapat memberikan inspirasi untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan. Dengan membaca, saya dapat memperoleh pelajaran dari pengalaman yang dituliskan oleh orang lain tanpa harus mengalami semua hal tersebut secara langsung.
Literasi dapat membantu saya menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Ketika memiliki pengetahuan yang cukup, Saya dapat menjelaskan pemikiran dengan lebih terarah dan memberikan alasan yang mendukung pendapat tersebut. Saya ingin memiliki kemampuan untuk menyampaikan pendapat bukan hanya berdasarkan perasaan, tetapi juga berdasarkan pemahaman dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Saya juga menyadari bahwa setiap orang memiliki minat dan kebiasaan yang berbeda. Ada orang yang senang membaca buku cerita, ada yang lebih menyukai artikel, dan ada pula yang lebih mudah memahami informasi melalui bacaan digital.
Hal yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, memahami informasi, dan terus menambah pengetahuan. Saya percaya bahwa setiap orang dapat mengembangkan kebiasaan literasi dengan cara yang sesuai dengan dirinya sendiri.
Kesimpulan
saya berpendapat bahwa literasi merupakan bagian penting dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang memahami informasi, mengembangkan pemikiran, dan belajar melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Meskipun saya sendiri pernah menganggap membaca sebagai kegiatan yang membosankan, saya menyadari bahwa pandangan tersebut dapat berubah apabila saya mulai menemukan bacaan yang menarik dan membangun kebiasaan membaca secara perlahan.Saya tidak harus langsung menjadi seseorang yang gemar membaca banyak buku, tetapi saya dapat memulainya dengan meluangkan sedikit waktu setiap hari untuk membaca dan memahami sesuatu yang baru.



Komentar Klik di Sini