BerandaSejarahYayasan CPGG Bersama BKPH Blambangan Perkuat Pelestarian Cagar Budaya dan Kawasan Hutan

Yayasan CPGG Bersama BKPH Blambangan Perkuat Pelestarian Cagar Budaya dan Kawasan Hutan

BANYUWANGI – METROPAGINEWS.COM || Komitmen menjaga kelestarian kawasan cagar budaya sekaligus melindungi lingkungan hutan terus diperkuat melalui kolaborasi Yayasan Candi Purwo Gumuk Gadung (CPGG), BKPH Blambangan, Perhutani Wilayah Selatan, Djawa Dwipa Blambangan, serta masyarakat Pondokasem, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

 

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mewujudkan kawasan yang asri, bersih, aman, nyaman, serta terjaga nilai sejarah dan kelestarian alamnya. Kegiatan dan komitmen bersama tersebut disampaikan pada Selasa (3/11/2026).

Desain tanpa judul 20261104 222103 0000

Ketua Yayasan Candi Purwo Gumuk Gadung menyampaikan bahwa penataan kawasan akan dilakukan secara bertahap bersama BKPH Blambangan dan Perhutani Wilayah Selatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan kawasan hutan sekaligus melestarikan situs bersejarah yang berada di wilayah Pondokasem.

 

“Area Candi Purwo Gumuk Gadung yang telah ditetapkan sebagai Situs Pondokasem merupakan warisan sejarah yang harus dijaga kelestariannya. Upaya ini tentu tidak terlepas dari dukungan seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga Pondokasem yang sejak tahun 2000 telah berjuang mewujudkan Candi Purwo Gumuk Gadung hingga berdiri dan dikenal seperti sekarang,” ungkapnya.

 

Menurutnya, keberadaan kawasan cagar budaya yang dikelola melalui Yayasan CPGG bukan sekadar menghadirkan sebuah situs bersejarah, melainkan juga menjadi bagian dari upaya menjaga nilai historis, identitas budaya, serta jejak peradaban masa lalu agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

 

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Hermawan selaku Asper BKPH Blambangan dan Founder Djawa Dwipa Blambangan atas dukungan serta kontribusi pemikiran dalam mendukung keberadaan dan pengembangan Situs Pondokasem.

 

“Terima kasih atas seluruh dukungan dan kontribusi pemikiran yang telah diberikan. Candi Purwo didirikan untuk semua kalangan sebagai salah satu bentuk kepedulian dalam nguri-uri leluhur serta menjaga warisan sejarah dan budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” jelasnya.

 

Sementara itu, Asper BKPH Blambangan, Hermawan, berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga kawasan hutan dengan tetap memperhatikan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

 

Menurutnya, berbagai kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan pada prinsipnya mendapat dukungan, selama pelaksanaannya tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku.

 

“Hal-hal positif tentu akan kami dukung sepenuhnya, terlebih apabila memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Namun, yang terpenting seluruh kegiatan tetap harus berjalan sesuai ketentuan dan tidak menyalahi aturan,” ujarnya.

 

Di sisi lain, Founder Djawa Dwipa Blambangan mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, khususnya dengan tidak membuang sampah sembarangan di kawasan saluran air sekitar mangrove.

 

Selain menjaga kebersihan, pihaknya juga merencanakan sejumlah program penghijauan secara bertahap, di antaranya penanaman berbagai bibit tanaman buah serta ribuan bibit mangrove yang akan dilaksanakan saat musim penghujan.

 

Program tersebut direncanakan melibatkan masyarakat Pondokasem, BKPH Blambangan, komunitas, serta para pegiat lingkungan hidup.

 

Melalui kolaborasi lintas elemen tersebut, diharapkan kawasan Situs Pondokasem tidak hanya terjaga sebagai warisan cagar budaya, tetapi juga berkembang menjadi kawasan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian hutan, penghijauan, dan keseimbangan ekosistem.

 

Pelestarian warisan leluhur dan perlindungan alam merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian serta keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

 

(Tyo)

Komentar Klik di Sini