SURAKARTA — METROPAGINEWS.COM || Mengenang Serangan Umum 4 Hari, Umbul Dungo Njeng Sunan ke 2 digelar di Gedong Joeang 45. Padukan sejarah, agama, dan budaya, serta ajak anak muda lanjutkan perjuangan dengan cara kekinian.Rabu (12 /10)
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-81, kegiatan Umbul Dungo Untuk Negeri, Njeng Sunan: Sholawat, Dzikir, dan Mocopat kembali digelar untuk kedua kalinya. Mengusung lokasi bersejarah Gedong Joeang 45, acara yang berlangsung pada 10 Agustus 2026 ini menjadi momentum mengenang peristiwa Serangan Umum 4 Hari di Surakarta sekaligus meneladani semangat para pejuang terdahulu.

Kegiatan yang dihadiri para pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat dan budayawan Surakarta ini mengangkat kembali memori pertempuran 7–10 Agustus 1949 yang juga dikenal sebagai Pengepungan Surakarta. Lebih dari sekadar mengenang peristiwa, acara ini juga menjadi sarana merefleksikan nilai-nilai luhur: keberanian, pengorbanan, persatuan, dan cinta tanah air.
Walikota Surakarta yang saat itu di wakilkan oleh ketua Kesbangpol dalam amanatnya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, konsep yang memadukan unsur sejarah, agama, dan budaya adalah pendekatan yang sangat tepat.
“Sholawat dan dzikir menguatkan spiritual kita. Mocopat mengingatkan pada akar budaya serta kearifan leluhur. Sementara sejarah mengingatkan kita pada nilai pengorbanan. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan semangat itu melalui pembangunan, kerukunan, dan peningkatan kesejahteraan,” ujar Walikota.

Walikota juga menyoroti tantangan bangsa di masa kini yang berbeda dengan masa penjajahan.
“Tantangan kita saat ini adalah korupsi yang luar biasa, narkoba, judi daring, terorisme, pembalakan hutan, serta pertambangan liar. Menurut sejarawan, pengerukan kekayaan bumi Pertiwi saat ini bahkan jauh lebih besar dibandingkan masa pemerintahan Belanda. Inilah bentuk ‘penjajahan’ baru yang harus kita lawan bersama-sama,” tegasnya.
Sementara itu, Wening Damayanti, General Manager Hotel Petit sekaligus penyelenggara kegiatan bersama komunitas Njeng Sunan, menjelaskan pemilihan Gedong Joeang 45 sebagai lokasi kegiatan dikarenakan tempat tersebut merupakan salah satu titik pertempuran yang menyimpan nilai sejarah sekaligus memiliki monumen peringatan.
“Kolaborasi dengan Njeng Sunan terasa sangat selaras dan khas. Harapannya, pada tahun-tahun mendatang kegiatan ini dapat hadir lebih besar lagi dan menjadi tujuan kunjungan wisata dengan nuansa sakral, penuh kehangatan, sekaligus merajut kebersamaan lintas unsur keagamaan,” ujar Damayanti.

Ia juga menekankan pentingnya memperkenalkan sejarah kepada generasi muda. “Tantangannya memang berat, karena anak muda saat ini lebih banyak berinteraksi di dunia maya dan media sosial. Namun kami yakin, apabila dikemas dengan cara dan narasi yang menarik, mereka pasti akan tertarik untuk mengenal sejarah. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik semangat agar mereka turut mendoakan kemajuan kota dan negara, serta senantiasa mengenang jasa para pahlawan,” tambahnya.

Damayanti berharap pemerintah ikut menggerakkan kekuatan budaya agar sejarah tidak sekadar menjadi catatan di buku, melainkan benar-benar dikenal, dipahami, dan dihayati oleh masyarakat luas.
Kegiatan Umbul Dungo Njeng Sunan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga. Di usia ke-81 tahun kemerdekaan Indonesia, semangat Serangan Umum 4 Hari diwariskan kembali dalam wujud nyata: menjaga persatuan, menolak segala bentuk kejahatan, serta mengisi kemerdekaan melalui karya dan pengabdian yang bermanfaat.
Ketua Njeng Sunan Gus Mufti juga menambah Peran Generasi Muda: Dari Mengenal Sejarah Menuju Aksi Nyata
Pesan khusus juga disampaikan bagi generasi muda. Para pembicara sepakat bahwa melanjutkan perjuangan para pahlawan di masa kini tidak lagi dengan mengangkat senjata.
Kenali Sejarah, Jangan Lupakan Akar.Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Kerukunan
“Semangat pahlawan adalah semangat pantang menyerah. Di masa kini, wujudnya adalah berprestasi, bersikap jujur,dan peduli terhadap sesama. Itulah wujud cinta tanah air yang paling nyata, ujarnya.
Semangat juang 78 tahun silam kini berubah wujud. Dari memegang senjata menjadi berkarya dan berbakti. Dari menjaga wilayah menjadi menjaga persatuan dan ruang bersama. Sejarah mengajarkan kita: kemerdekaan bukanlah pemberian, melainkan amanah yang harus terus dijaga, diisi, dan diteruskan dari generasi ke generasi.
( Desi )


Komentar Klik di Sini